Sab. Nov 17th, 2018

Dampak Penutupan Pucuk, Banyak PSK Praktik ke Sungaibahar, Warung Remang Remang Marak…

Ilustrasi/net

Inilahjambi – Pekerja seks komersial (PSK) sudah “menyerbu” Sungaibahar, Kabupaten Muarojambi. Praktek prostitusi di kecamatan ini mulai merebak dari warung remang-remang hingga indekos plus-plus.

Pantauan Serujambi.com, media partner Inilahjambi.com, Minggu 4 November 2018 maraknya prostitusi di Bahar membuat warga setempat mulai resah. Apalagi, lokasi warung remang-remang penyedia wanita PSK kian menjamur.

Desnad, tokoh masyarakat Sungaibahar menegaskan, saat ini praktek prostitusi tidak hanya ada di warung remang-remang. Akan tetapi, rumah hingga kos-kosan pun sudah menyediakan PSK. Warung remang-remang yang berada di pinggir jalan utama itu, ditutupi pohon-pohon sawit sehingga tampak sepi saat siang hari.

“Jika malam hari, aktivitas prostitusi itu mulai terlihat. Dan pemilik warung remang-remang dan PSK di sana juga bukan warga Sungaibahar,” katanya, Minggu 4 November 2018.

Ditambah Desnad, akibat prostitusi di Sungaibahar yang selalu dibiarkan, data dari Puskesmas Sungaibahar, daerah ini mendapat peringkat tertinggi yang mengalami penyakit HIV/AIDS se Kabupaten Muarojambi.

“Data yang kita terima baru-baru ini, ada sekitar 17 warga Sungaibahar yang terkena HIV/AIDS. Ini juga sangat mengancam generasi muda yang ada di sana. Bahkan, ibu rumah tangga juga terkena karena suaminya main dengan PSK di sana,” tegasnya.

Saat disinggung mengenai penindakan praktek prostitusi yang ada di Sungaibahar ini oleh pihak Satpol PP, Desnad membeberkan bahwa beberapa waktu lalu Satpol PP pernah datang ke Sungaibahar.

“Satpol PP dulu pernah datang, cuma melihat saja bukan menindak,” bebernya.

Sementara itu, Kapolsek Sungaibahar, AKP Hardianto, mengatakan, pihak kepolisian Sungaibahar sudah pernah melakukan razia praktek prostitusi di unit 5 Panca Bhakti. Bahkan, juga sudah memperingati agar tempat tersebut tidak dibuka lagi.

“Kita bersama pihak kecamatan sudah sering melakukan razia terhadap prostitusi atau sering disebut ‘poco-poco’ ini. Namun sayangnya, pelaku prostitusi masih saja membandel. Pemda ke mana?” tandasnya.

Terpisah, Rahmat Hidayat Asril, Ketua Ikatan Mahasiswa Sungaibahar (IMABA) juga menanggapi hal tersebut. Ia menyampaikan bahwa pratek prostitusi itu hingga kini memang masih berlangsung.

Padahal, dari pihak IMABA sudah pernah menyurati Bupati Muarojambi, Masnah Busro, agar menindaki praktek prostitusi di Sungai Bahar ini.

“Pada 19 Agustus 2018 lalu, kami dari IMABA pernah menyurati Bupati Muarojambi. Namun, itu tidak ada hasilnya. Lihat aja sekarang praktek prostitusi itu masih saja berjalan.

Apalagi saat ini juga sedang berlangsung MTQ tingkat kecamatan yang tidak jauh dari lokasi prostitusi tersebut. Kami harapkan Pemerintah Muarojambi serius menangani permasalahan ini,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan dari pihak Pemerintah Kabupaten Muarojambi maupun Satpol PP Kabupaten Muarojambi.

Informasi didapat, menjamurnya PSK di Sungaibahar erat kaitannya dengan penutupan lokalisasi Payo Sigadung oleh Walikota Jambi SY Fasha. Beberapa saat setelah Payo Sigadung alias Pucuk ditutup, para PSK berhambur keluar dari lokalisasi itu.

Sebagian ada yang pulang ke kampung halaman, sebagian menyebar ke daerah-daerah pinggiran Kota Jambi, dan sebagian lagi masih bertahan di Pucuk.

 

--------------a
Sudah dibagikan