Ming. Jul 22nd, 2018

TNI Manunggal Membangun Desa ke 100; Kebersamaan yang Tak Lekang

Foto: Dok Humas Provinsi Jambi

Inilahjambi – Gubernur Jambi Zumi Zola mungkin tidak pernah menyangka akan disupiri oleh Mayor Jenderal (Mayjend) AM Putranto, Panglima Kodam (Pangdam) Sriwijaya, pada Sabtu 14 Oktober 2017 sore itu.

Deru roda Jeep Wilys yang ditumpangi dua ‘penggede’ tersebut menggilas jalan tanah merah yang baru saja digarap sejak dua pekan lalu oleh Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dari Kodim 0415 Batanghari. Jalan sepanjang 11 kilometer itu menghubungkan Desa Bukitbaling dengan Desa Grunggung, Kelurahan Sengeti, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi.

Jalan penghubung ini dulunya adalah belantara karet dengan kontur tanah meliuk naik-turun yang dipotong sebuah anak sungai. Tak ada manusia yang sanggup berkendara di belantara karet. Sebelum kawasan ini dibelah jalan desa sepanjang 11 ribu meter itu, mungkin hanya Jumari dan warga sekitar yang berani melintas di sana.

“Karena baru dibuka, (jalan) belum ada namanya, nanti mungkin akan kita pikirkan bersama,” ujar Jumari, Rabu 12 Oktober 2017, siang. Dia baru usai menyambut tim Pengawas dan Evaluasi Mabes AD ke Posko TMMD di kawasan itu.

Jumari adalah Ketua RT 11 Desa Bukitbaling. Suatu hari dia bertanya ke Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat. Bagaimana kalau dibuka jalan baru di desa itu yang membelah hutan karet. Agar akses dua desa dapat terhubung.

“Saya kan tanya sama Pak Babinsa, apakah (program) TMMD masih berjalan. Dia jawab masih. Saya usul untuk buka jalan di sini,” cerita Jumari.

Dalam Musyawarah Rencana dan Pembangunan (Musrenbang) Desa dua tahun lalu, Ide itu
disampaikan. Usul disetujui pemerintah setempat. Babinsa kemudian berkoordinasi dengan Kodim 0415/BTH untuk mengusulkan desa yang berada di seberang gerbang perkantoran Pemerintah Kabupaten Muarojambi itu sebagai lokasi TMMD ke 100.

Dansatgas TMMD Kodim 0415 Batanghari, Letkol Inf Denny Noviandi, menyatakan, pelaksanaan  TMMD ke 100 di Desa Bukitbaling ini sesuai dengan semangat “percepatan pembangunan, meningkatkan kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat” yang menjadi tema  TMMD ke 100 kali ini.

Baca juga:

Mata pencarian sebagian besar warga Desa Bukitbaling, khususnya RT 11 adalah petani karet dan sawit. Menurut Jumari, sebelum jalan dibuka, satu-satunya jalan menuju RT-nya adalah jalan setapak yang proyeknya sedang dikerjakan oleh kontraktor. Selain itu ada jalan lain, namun memutar, sehingga jarak menjadi jauh. Warga yang akan mengangkut hasil ladang berupa getah dan karet menjadi kesulitan.

“Kami benar-benar berharap sejak lama sekali ada jalan ini di desa kami. Sebab dengan adanya jalan ini, hasil kebun kami dapat dengan mudah dibawa keluar. Dengan begitu ekonomi kami dapat menjadi lebih baik. Apalagi jika, dusun kami ini akan semakin ramai,” kata Jumari.

Bupati Muarojambi Masnah Busro, mengaku, pemerintah kabupaten hanya menggelontorkan anggaran Rp1 miliar untuk proyek yang digarap bersama TNI itu. Anggaran ini jauh lebih kecil dibanding jika dikerjakan oleh kontraktor melalui mekanisme lelang, yang akan menyedot anggaran hingga Rp4 miliar.

“Melalui TMMD ini, pemerintah daerah menghemat anggaran hingga Rp3 Milyar untuk membuka dan membangun jalan,” kata Masnah.

Ketika Penglima Kodam siang itu datang didampingi Gubernur dan Bupati, sejumlah anggota tentara masih terlihat bekerja. Sementara masyarakat tampak sumringah atas kunjungan langka yang seabad sekali, belum tentu mereka jumpai di dusun kecil mereka itu.

Tentara itu benar-benar bekerja. Petang itu 12 Oktober 2017, rombongan Wasev Sterad Mabesad telah pulang ke Kota Jambi. Inilahjambi menelusuri jalan setapak menuju RT 11 Dusun Geresik Desa Bukitbaling. Dari mulut jalan sekitar beberapa meter melewati parit kecil, di sebelah kanan jalan terdapat mushola Al Qodhar. Sejumlah tentara bersama beberapa warga tampak masih bekerja membangun WC mushola itu. Pembangunan WC mushola ini juga merupakan sasaran fisik TMMD 100 di desa tersebut, selain pembangunan dua poskamling, jembatan dan gorong-gorong.

Sementara di lokasi lain, lima anggota TNI juga tengah mengaduk semen, memasang batu, membuat tugu TMMD.

“Maklumlah tukang amatir,” kata salah seorang anggota TNI yang tengah bekerja sambil terkekeh, saat mengetahui bata yang dipasangnya agak miring sedikit.

Kebersamaan yang Tak Lekang

Jalan setapak di Dusun Geresik itu baru saja dicor sebagian. Bekas sisa proyek masih terlihat; ceceran semen yang mengeras, molen dan sisa material lainnya masih berserak di tepi-tepi jalan. Hari itu 13 Oktober 2017, waktu sudah menunjukkan pukul lima petang. Sinar matahari senja menerobos dedaunan pohon karet, jatuh ke atap-atap rumah warga.

Para pekerja proyek berkemas-kemas, hendak pulang ke rumah masing-masing. Barangkali tidak ada yang tertinggal sama sekali dalam benak para buruh proyek itu, setelah seharian bekerja. Esok akan tiba dan kerja-kerja serupa akan berulang kembali. Begitu seterusnya.

Sementara itu warga dusun itu juga baru usai beraktivitas di kebun dan ladang mereka. Sambil duduk di teras rumah, mereka memandang para pekerja, buruh proyek itu. Tak ada tegur sapa, seperti biasa. Kering!

Proyek itu memang garapan pemerintah setempat, dikerjakan oleh pihak ketiga. Masyarakat tidak dilibatkan dalam kerja-kerja pembangunan jalan itu. Masyarakat adalah objek. Subjeknya adalah pemerintah dan kontraktor. Tampak jelas relasi kuasa dalam perilaku kerja seperti itu; masyarakat >< pemerintah dan kontraktor.

Disaat yang bersamaan, dikerjakan pula proyek jalan desa, pembangunan poskamling dan perbaikan mushola oleh TNI. Suasana berbeda sangat kentara dalam moment ini. Keterlibatan TNI dan masyarakat dalam pembangunan desa menimbulkan kebersamaan yang tidak lekang. Relasi yang tercipta adalah kesetaraan. TNI dari rakyat dan akan kembali kepada masyarakat.

Salah seorang anggota TNI Kodim 0415/BTH, Roni, mengakui, dinas di Kodim artinya dinas kepada masyarakat. Bekerja sama dengan masyarakat. Ada kebanggaan dan keharuan lain yang tidak didapatnya saat dia masih berdinas di Satuan Tempur Baturaja.

“Dalam tingkatan paling kecil lagi, yakni Koramil atau Babinsa, kami (anggota TNI) justru merasa paling dekat dengan masyarakat. Babinsalah yang paling paham dengan persoalan masyarakat, keluhan masyarakat dan apapaun yang terjadi dalam masyarakat,” kata Roni.

TMMD adalah wujud kebanggaan dan pengabdian masing-masing anggota TNI kepada negara dan kedekatannya kepada masyarakat.

 

Klik disini:

 

 

 

 

(Nurul Fahmy)

 

 

 

 

 

Payoo komen Bro...

Sudah dibagikan