Tari Cincang Betingkeh dari Kabupaten Bungo: Menghidupkan Tradisi Sebelum Pesta Pernikahan
Tari Cincang Betingkeh

Tari Cincang Betingkeh, sebuah kekayaan budaya dari Kabupaten Bungo, memukau penonton dalam penampilannya malam ini di Taman Budaya Jambi (TBJ). Ibu Puput, seorang koreografer yang mengembangkan tarian ini, menjelaskan bahwa Tari Cincang Betingkeh menggambarkan tradisi masyarakat Bungo sebelum perayaan pernikahan, di mana para ibu di sekitar desa berkumpul untuk mencincang berbagai bumbu dapur bersama-sama.
“Sebelum hari pernikahan dimulai, ada tradisi untuk mencincang semua bumbu dapur, mulai dari daun kunyit hingga rempah-rempah lainnya. Ini adalah simbol persiapan dan kerja sama komunal dalam masyarakat Bungo,” ungkap Ibu Puput dengan antusias.
Penampilan malam ini di TBJ melibatkan berbagai komunitas seni dari Bumi Ketayo, UKM Tari Universitas Muhammadiyah Kabupaten Bungo, serta Swarga Arden. Ini menunjukkan kolaborasi yang kuat dan semangat untuk mempersembahkan kebudayaan Bungo kepada publik luas.
“Tari Cincang Betingkeh bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga upaya untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional dan memperkenalkannya kepada generasi muda,” tambah Ibu Puput.
Dengan kehadiran tarian ini di panggung TBJ, diharapkan dapat semakin mengangkat citra seni budaya daerah Bungo serta menjadi inspirasi bagi upaya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya lokal di Provinsi Jambi.
Eri Argawan, Kepala UPT Taman Budaya Jambi, mengungkapkan apresiasinya terhadap para penggiat seni yang berpartisipasi dalam acara Temu Karya Taman Budaya Jambi. Acara yang kedua kalinya diadakan ini diharapkan akan menjadi kegiatan tahunan yang rutin.
“Dalam tahun pertama, belum semua kabupaten/kota ikut serta. Tahun pertama belum seluruh kabupaten kota ikut serta, sehingga kita menghadirkan kawan kawan disini . Tapi buka itu yang kita inginkan. Tujuannya bukan hanya untuk unjuk gigi, tetapi juga untuk menjalin komunikasi yang erat antara daerah-daerah,” ujar Eri Argawan.
Beliau menekankan pentingnya persiapan yang matang dari seluruh kabupaten/kota untuk menghadapi setiap edisi Temu Karya ini. Meskipun Taman Budaya memiliki keterbatasan, Eri Argawan tetap berharap dapat memberikan wadah bagi para seniman untuk mempersembahkan karya-karya terbaik mereka.
“Kami mengapresiasi penuh partisipasi teman-teman dari kabupaten karena mereka menghadapi banyak kendala. Kami berharap Taman Budaya Jambi dapat terus menjadi tempat yang memajukan seni budaya daerah,” tambahnya dengan penuh terima kasih.
Temu Karya Taman Budaya Jambi tidak hanya menjadi ajang untuk menampilkan kekayaan seni budaya, tetapi juga sebagai upaya konkret dalam membangun solidaritas dan kolaborasi di antara para penggiat seni dan budaya di Provinsi Jambi.
