Pedestrian Jomblo? Ini Kata Lembaga Adat Melayu Kota Jambi
Inilahjambi, KOTA JAMBI – Sejumlah elemen masyarakat Kota Jambi semakin bereaksi atas penamaan pedestrian yang diapit Jalan Basuki Rahmat di kawasan Kotabaru, salah satunya Lembaga Adat Melayu Kota Jambi.
Sumber Inilahjambi di LAM menyebutkan, para pengurus di lembaga ini merasa kecolongan atas penamaan pedestrian yang tidak tepat, yang kebetulan pula berada di depan kantor LAM Kota Jambi.
“Waktu peresmian itu, pengurus LAM tidak ada yang di Jambi, sehingga tidak ada yang menghadiri peresmian itu, jadi tidak tahu nama yang digunakan,” ujar salah satu sumber di LAM Kota Jambi yang tidak mau disebut namanya, Rabu 30 Maret 2016.
Menurut dia, LAM Kota Jambi akan melakukan rapat internal membahas soal penamaan ini pada Jumat besok, 1 April 2016.
“Para pengurus sepakat akan mengadakan rapat membahas soal nama ini,” ujarnya.
Terpisah Ketua Lembaga Adat Melayu Kota Jambi, Azra’i Al-Basyari, membenarkan pihaknya akan melakukan rapat pada Jumat besok. Namun Azra’i mengelak menyatakan pertemuan itu khusus untuk membahas kata Jomblo pada pedestrian itu.
“Biasalah, kita akan rapat menjaring aspirasi masyarakat terkait adat di Kota Jambi, rapat Jumat besok. Mungkin bisa jadi akan membahas pedestrian itu. Tergantung aspirasi yang masuk,” kata dia dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu malam.
Azra’i tidak menjawab tegas saat ditanya apakah LAM Kota Jambi sebelum ini pernah dilibatkan dalam pemberian nama pedestrian yang tepat berdiri di halaman kantor LAM.
“Jawabannya bukan pernah atau tidak, tapi sebagai mitra pemerintah daerah, LAM akan memberikan masukan kepada pemerintah apabila ada yang tidak sesuai dengan adat, itupun tergantung masukan dari masyarakat,” ujarnya.
Pada dasarnya, ujar Azra’i lagi, pihaknya setuju dengan pembangunan/pembenahan pedestrian, sebab bermanfaat untuk banyak orang, apalagi jika ditambah dengan fasilitas lain berguna.
“Kalau istilah Jambinya pedestrian itukan tempat orang berjalan kaki, dan itu bagus kalau diperindah. Soal nama akan kita bahas kalau memang tidak sesuai,” kata dia.
Terakhir, Azrai, menyatakan apresiasinya atas kritikan dan masukan dari generasi muda terhadap persoalan adat dan budaya di Kota Jambi, seperti nama pedestrian di kawasan itu.
“Itu bagus, artinya generasi muda Kota Jambi memiliki kesadaran budaya yang tinggi. Ini hebat dan kita bersyukur. Untuk hal-hal seperti ini kami mendorong dari belakang,” tutupnya.
Baca juga:
- Kepala Kantor Bahasa Jambi: Kami Sudah Merasa Dikuliti dengan Istilah Pedestrian Jomblo
- Pemkot Jambi Akan Bongkar Tugu Monas Kotabaru, Diganti Patung Keris
- Warga Jambi di Belanda: Tidak Lazim Pedestrian Diberi Nama Khusus (Seperti Jomblo)
(Nurul Fahmy)
