Sel. Des 18th, 2018

Ini Mantan Kepsek yang Lakukan Telpon Cabul ke Baiq Nuril

Muslim, mantan kepala sekolah SMA 7 Mataram, yang dilaporkan Nuril terkait dugaan pelecehan seksual verbal, menjalani pemeriksaan di Polda NTB, Selasa 27 November 2018/ Sumber KOMPAS.com

Inilahjambi – Mantan Kepala Sekolah SMA 7 Mataram, Muslim, akhirnya muncul setelah dilaporkan oleh Baiq Nuril terkait pencabulan. Baiq Nuril adalah honorer yang didakwa melanggar UU ITE setelah merekam pembicaraan cabul bekas kepala sekolahnya melalui telepon.

Muslim akhirnya diperiksa tim penyidik Polda NTB, pada Selasa siang 27 November 2018, setelah datang lebih awal dari jadwal panggilan yang dilayangkan Polda NTB, yakni pada Rabu besok.

BERITA TERKAIT: Rekam Telpon Mesum Kepala Sekolah, Honorer Kena UU ITE dan Divonis Penjara….

“Ini coba-coba saja datang lebih awal, ternyata bisa jalani pemeriksaan. Besok (Rabu) tidak bisa karena ada kegiatan. Kami sebenarnya mau lapor tidak bisa menjalani pemeriksaan besok (Rabu) tapi hari ini langsung diperiksa,” kata Karmal Maksudi, pengacara Muslim dari Kantor Pengacara Low Office 108.

Kabid Humas Polda NTB, AKBP I Komang Suartana mengatakan pemeriksaan atas Muslim sebagai terlapor akhirnya dilakukan pada Selasa. Sebelum pemeriksaan Muslim, tim penyidik telah meneriksa tiga orang saksi.

“Saya kira tidak ada masalah meskipun kita jadwalkan Rabu besok, karena hampir semua materi dan bukti bukti sudah dikantongi tim penyidik, termasuk memeriksa SMA 7 Mataram dan Hotel Puri Saron untuk melengkapi data data dan bukti,” jelasnya.

Muslim saat ini menjabat sebagai kepala Bidang Pemuda dan Olahraga pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mataram.

Saat sejumlah wartawan mendatangi kantor Muslim, beberapa rekan kerjanya di Dinas Pendidikan dan Olagraha Kota Mataram di Jalan Lingkar Selatan, mengatakan Muslim mulai tidak terlihat sejak 4 hari lalu.

Rekan Muslim pun menolak untuk menjelaskan lebih banyak tentang keberadaan Muslim.

“Saya tidak tahu pasti ya, karena saya di bagian sini (ruangan yang berbeda). Jadi tidak begitu perhatikan, tetapi tiap hari di kantor, biasa saja seperti yang lain-lainnya,” kata Maryani, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Pemuda dan Olahraga Kota Mataram.

Sejumlah wartawan mencoba mencari Keberadaan Muslim di rumahnya, di Kampung Bugis, Pondok Perasi, Ampenan, Kota Mataram. Rumahnya yang berjarak sekitar 7 kilometer dari kantornya tampak sepi.

Pintu rumah berwarna cokelat tertutup rapat. Hanya pagar rumah yang juga berwarna cokelat masih terbuka. Di teras tersedia air mineral yang tersusun rapi. Bahkan karpet untuk para tamu sudah digelar.

Namun wartawan yang menunggu Muslim tak juga ditemui, hingga akhirnya tersambung melalui ponsel bahwa dia belum bersedia berkomentar. “Nanti salah bicara, maaf ya,” katanya singkat.

Sementara itu, salah satu saudara Muslim yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, Muslim tak akan berkata apapun kepada jurnalis.

“Sudah dibujuk banyak wartawan, dia ndak akan bicara, dia ndak mau. Banyak yang sudah datang, tapi dia ndak mau,” katanya.

Sosok Muslim di mata rekan Baiq Nuril

Polda NTB juga memeriksa saksi lain yakni NR yang merupakan rekan sekantor Baiq Nuril di kantor Tata Usaha SMA 7 Mataram.

NR mengaku sudah siap diperiksa dan memberi kesaksian pada penyidik terkait kasus Baiq Nuril. “Saya tidak pernah menyangka kasus ini bakal seperti ini,” katanya singkat.

NR mengatakan, saat masih jadi rekan sekantor Baiq Nuril di SMA 7, dia sering melihat LN dan Baiq Nuril bertemu Muslim di ruang kerjanya.

“Saya tidak tahu banyak apa yang terjadi di sana, saya juga tidak hitung berapa kali Nuril atau LN masuk ruangan Muslim. Kalau saya tahu akan berkasus begini mungkin saya hitung,” katanya.

NR juga mengatakan bahwa Muslim sebagai seorang kepala sekolah merupakan pemimpin yang disiplin.

Bahkan karena terlalu disiplin, Muslim sering tidak peduli alasan bawahannya terlambat masuk kerja di SMA 7.

“Dia itu tidak peduli kalau kami telat karena urus anak yang sakit atau apa, padahal saat bekerja kami kan ingin suasana yang nyaman,“ lanjut NR.

 

 

Sudah dibagikan