Jurnalis Terlibat Politik Praktis, Bisa Membuat Suasana Tidak Kondunsif

Inilahjambi, BENGKULU – Kepala LKBN Antara Biro Bengkulu mengimbau para jurnalis agar jangan terlibat terlalu jauh dalam dunia politik praktis karena akan menciderai profesi tersebut.

Sebagai wartawan, kata Riski Maruto, harus memiliki integritas dan independensi dalam menghasilkan karya jurnalistik.

Menurut dia, jika mau jadi tim sukses, berhenti saja jadi wartawan. Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi panelis dalam dialog publik yang bertema “Black campaign dan negatif campaign, membedah fakta pemberitaan” yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Muda Bengkulu, Jumat 6 November 2015.

Dikutip dari laman Antara, wartawan yang ikut terlibat di dalam politik praktis akan membuat suasana tidak kondusif karena hasil karya dalam bentuk berita tidak berimbang.

Akan ada pihak yang dirugikan atau sebaliknya, yakni diuntungkan dari pemberitaan karena ada penggiringan opini sesuai keinginan pihak tertentu.

“Wartawan adalah profesi yang punya kode etik. Jangan jadi seperti tukang bakso yang bekerjanya tidak diatur kode etik,” kata Riski yang saat ini juga masih menjabat Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Palu itu.

Dia mengatakan pers merupakan salah satu pilar demokrasi yakni pilar ke empat selain eksekutif, yudikatif dan legislatif.

Menurut Riski di hadapan puluhan wartawan dan mahasiswa, kalau ikut terlibat maka yang buruk di mata masyarakat nama wartawan itu sendiri dan insan pers secara keseluruhan.

Karena, wartawan akan dianggap masyarakat bisa dijadikan alat bagi orang-orang yang memiliki kepentingan jika tidak memegang teguh independensi.

“Berjalanlah sesuai dengan undang-undang pers dan kode etik,” ujarnya seperti dikutip Elshinta.

Saat ini, situasi politik di Provinsi Bengkulu semakin memanas setelah Badan Pengawas Pemilu mengamankan 100.600 eksemplar koran yang terindikasi menyudutkan salah satu calon Gubernur Bengkulu.

Jumlah tersebut terbilang fantastis jika dibandingkan koran yang dicetak media lokal terbesar provinsi itu yang hanya berjumlah sekitar belasan ribu eksemplar saja sekali terbit.

 

(BUDHIONO)

 

 

Bagikan
HOT NEWS