Ketua DK Jambi: “Gedung Olah Seni Kok Cuma untuk Orang Pesta Kawinan…”

Ketua DK Jambi: “Gedung Olah Seni Kok Cuma untuk Orang Pesta Kawinan…”

Inilahjambi, KOTA JAMBI – Ketua Umum Dewan Kesenian Jambi (DKJ) Fahmi Sabki menyatakan pihaknya akan mengupayakan penggunaan Gedung Olah Seni di kawasan Kotabaru Jambi, sesuai dengan fungsinya.

Selama ini, kata dia, gedung tersebut tidak befungsi maksimal sesuai dengan peruntukkannya, yakni olah seni dan kebudayaan.

“Gedung itu selama ini hanya digunakan untuk pesta perkawinan, sementara pada hari biasanya lebih banyak tutup. Tidak digunakan sesuai peruntukannya,” ujar Fahmi, Sabtu 31 Januari 2016 dalam dialog DKJ dengan seniman di Taman Budaya Jambi.

Menurut Fahmi, pihaknya akan mengupayakan agar seniman di Jambi dapat beraktivitas di gedung tersebut, sehingga selain mendukung kegiatan seniman, gedung itu juga menjadi hidup dan terawat.

“Gedung itu dikelola oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jambi. Kami akan melakukan komunikasi supaya dapat digunakan oleh seniman juga,” katanya lagi.

Baca juga:

Secara teknis, kata Fahmi, penggunaan gedung bagi seniman dapat saja dilakukan. Pihaknya tinggal mengatur waktu dan jadwal penggunaannya. Soal ini penting, sebab penyewaan gedung itu untuk pesta-pesta perkawinan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD) Jambi.

“Jadi teknisnya, Senin hingga Jumat, digunakan untuk aktivitas seniman. Sabtu dan Minggu baru disewakan untuk publik yang melakukan hajat pesta dan kegiatan lain. Sebab pesta-pesta di Jambi ini biasanya dilakukan pada akhir pekan saja,” ujarnya lagi.

Pengamatan Inilahjambi, Gedung Olah Seni (GOS) di Kotabaru selama ini disewakan untuk publik sebagai tempat pesta perkawinan.

Di sayap kiri dari bagian depan gedung itu digunakan oleh Dewan Kesenian Jambi sebagai sekretariat. Tidak ada aktivitas kesenian selain rapat-rapat Dewan Kesenian Jambi.

Sejak DK Jambi tidak aktif dalam masa vakum, sekretariat ini sepi dan terkunci, begitu juga dengan pintu depan gedung. baru dibuka pada hari minggu saja ketika ada pesta.

Kondisi ini kontras dengan suasana gedung dan halaman sebelahnya, yakni Gedung Olahraga (GOR) yang padat aktivitas. Setiap hari banyak warga Jambi melakukan kegiatan, baik olahraga maupun sekedar nongkrong.

Pada hari-hari tertentu bahkan banyak pameran dan kegiatan lainnya digelar di sana.

Anggota Komite Sastra DK Jambi, Ramayani menyatakan, jika tidak boleh menggunakan bagian dalam gedung, pemerintah seharusnya mengizinkan bagian luar gedung dan bagian lainnya dimanfaatkan oleh seniman.

“Misalnya halaman gedung, galeri dan sayap lainnya dari gedung itu. Seniman perupa bisa memajang lukisan karya-karya mereka di galeri. Seniman teater atau film bisa latihan. Dan secara berkala digunakan untuk pemutaran film, misalnya layar tancap. Sehingga gedung itu menjadi lebih hidup,” paparnya.
(Nurul Fahmy)

Bagikan
HOT NEWS