Wed. Aug 21st, 2019

Kondisi Jalan Bikin Gerah, Dosen Ini Ungkap Cara Mengatasi Macet di Mendalo

Gambar: ilustrasi

Inilahjambi – Salah seorang dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, yang juga penulis aktif di sejumlah media, Bahren Nurdin, menuliskan cara pandang dia untuk mengatasi kemacetan yang makin parah di kawasan Mendalo Jambi, tempat dua perguruan tinggi negeri terbesar di Jambi berdiri.

Menurut Bahren, dalam artikelnya, ada tiga opsi yang dapat dilakukan, baik satu persatu maupun secara bersamaan.

Berikut tulisan Bahren yang dikirimnya melalui pesan What’sapp kepada Inilahjambi beberapa waktu lalu:

 

Bagi anda warga Jambi khususnya pengguna jalan pada ruas lampu merah Aur Duri menuju arah Simpang Sungai Duren (Mendalo) dapat dipastikan merasakan ketidaknyamanan karena macet pada ruas jalan ini sudah sangat parah. Tetapi anehnya, kemacetan ini belum mendapat perhatian dari permerintah, baik pemerintah daerah yaitu Kabupaten Muara Jambi, maupun pemerintah Provinsi Jambi. Kemacetan ini seakan dibiarkan begitu saja!

Setahun yang lalu kemacetan ini hanya terjadi pada jam-jam tertentu saja, seperti jam masuk dan pulang kantor (jam sibuk). Namun saat ini telah terjadi nyaris setiap saat.

Penyebab utamanya sudah sangat jelas yaitu adanya dua kampus besar di wilayah ini secara berdekatan, kampus Universitas Jambi (Unja) dan Universitas Islam Negeri (UIN) STS Jambi.

Baca juga :

Usul Usman Ermulan, Pemprov Jambi Harus Bikin Jalan Nes- Sungai Bertam Langsung ke Bandara

Saat ini, ruas lampu merah Aur Duri hingga UIN STS (Sp. Sungai Duren) yang hanya berjarak lebih kurang 2 kilo meter harus ditempuh dengan waktu lebih kurang 2 jam, kususnya pada pagi (07 sd 09), siang (11 sd 13) dan sore (16 sd 18). Di jam-jam lain tetap macet walau tidak separah pada jam-jam tersebut.

Lantas apa solusi yang dapat ditawarkan? Pertama, bis kampus. Saya rasa ini salah satu solusi yang dapat dengan cepat direalisasikan. Dua universitas besar ini harus menyediakan bis kampus yang nyaman dan banyak. Kedua kampus ini juga memiliki kampus di Telanaipura. Artinya, mahasiswa bisa memarkir motor mereka di Telanai dan kemudian naik bis kampus ke Mendalo. Tapi harus diingat, syarat utama kampus ini adalah nyaman dan banyak.

Dipastikan mahasiswa tidak mau berdesakan atau harus berdiri karena tidak dapat tempat duduk. Jika itu yang terjadi maka mereka akan memilih mengendarai motor sendiri. Kenyamanan bis kampus harus dijadikan daya tarik bagi mahasiswa untuk meninggalkan kendaraan mereka dan memanfaatkan ‘mass transportation’ yang disediakan.

Begitu juga dengan jumlahnya yang harus bisa menyesuaikan kebutuhan mahasiswa yang akan diangkut. Artinya bis kampus harus banyak dan terjadwal dengan baik. Mahasiswa tentunya tidak mau terlambat untuk datang ke kampus hanya karena bis kampus yang terbatas dan tidak tepat waktu.

Kedua, pengembangan jalan (infrastruktur). Jika tidak salah, status jalan ini adalah jalan nasional. Maka perhatian dari pemerintah pusat melalui pemerintah kabupaten dan provinsi sangat dibutuhkan untuk pengembangan jalan ini. Jumlah kendaraan terus bertambah, sementara volume jalan tidak berubah. Bukan jalan yang menyempit, tapi kendaran yang semakin banyak.

Maka pelebaran jalan adalah harga mati. Dengan kondisi kendaraan yang memanfaatkan jalan ini, idealnya jalan ini harus dua jalur dengan empat lajur. Jika tidak memungkinkan karena padatnya bangunan di kiri dan kanan jalan, minimal dikembangkan dengan memisahkan lajur motor pada sisi kiri dan kanan. Dengan cara ini, motor memiliki lajur sendiri yang tidak bersatu dengan kendaraan roda empat.

Pengambangan ini tentunya yang paling memungkinkan untuk dilakukan dalam waktu dekat tanpa memakan anggaran yang besar. Memang, lebih ideal lagi dengan membangun jalan layang yang melintasi dua universitas ini. Membangun jalan layang memerlukan biaya besar dan perencanaan yang lama. Untuk ke depan, kenapa tidak.

Tapi, kemacetan yang terjadi hari-hari ini sudah betul-betul ‘darurat’. Harus ada solusi jangka pendek yang dapat membantu masyarakat keluar dari perangkap macet Mendalo ini.

Ketiga, pemusatan pemondokan mahasiswa. Sudah saatnya pemerintah bekerja sama dengan para pengembang untuk membangun pemusatan pemondokan mahasiswa berupa rusunawa (flat).

Beberapa waktu lalu, saya sempat sampaikan hal ini kepada pemangku kebijakan di Kabupaten Ma. Jambi. Mudah-mudahan akan ada realisasinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Harus diakui pula, perumahan-perumahan yang ada saat ini di seputaran kampus Unja dan UIN belum cukup untuk memampung sebagian besar mahasiswa kedua perguruan tinggi ini. Itulah yang membuat mereka harus mengendarai motor dari beberapa daerah yang jauh sehingga menibulkan kemacetan.

Sudah saatnya merancang sebuah kota kecil yang ramah mahasiswa. Kita sebut saja, “Mendalo Kota Cendikia’. Di kota ini berdiri beberapa flat (rusunawa) yang bisa menjadi pemusatan pemondokan mahasiswa sehingga tidak perlu lagi menggunakan sepeda motor. Dari flat ini kemudian mereka cukup menggunakan ‘shuttle bus’ yang akan mengantar dan menjemput mahasiswa di dua kampus ini.

Harus diingat pula bahwa kemacetan yang terjadi di Mendalo tidak boleh lagi dianggap sepele. Kemacetan ini juga tidak hanya persoalan menyita waktu, tetapi juga menyangkut kondisi psikologi para mahasiswa yang hendak belajar. Jika pagi-pagi mahasiswa sudah melewati kemacetan dengan kondisi melelahkan diyakini akan berdampak pada kesiapan mereka dalam mengikuti perkuliahan. Jika begitu, tidak menutup kemungkinan kemacetan ini akan memberikan dampak negatif pada proses belajar mengajar yang ada.

Akhirnya, harus ada langkah cepat untuk mengatasi macet yang terjadi di Mendalo saat ini. Ada begitu banyak dampak negatif yang mungkin akan terjadi jika dibiarkan berlarut-larut. Maka dari itu, semua stake holder yang berwenang dalam sudah harus mengambil langkah konkret. Masyarakat sedang menanti. Semoga.

 

 

 

(Sumber: Bahren Nurdin, Akademsisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi)

Sudah dibagikan