Mak Caya, Maestro Tradisi Kesenian Tauh dari Lempur Tanah Kerinci yang Tersisa

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:

Mak Caya, Maestro Tradisi Kesenian Tauh dari Lempur Tanah Kerinci yang Tersisa


Inilah Jambi – Meski belum resmi dinobatkan sebagai maestro oleh lembaga kesenian manapun, namun Mak Caya diakui sebagai satu-satunya seniman tradisi Tauh dari Lempur yang masih tersisa di tanah Kerinci, Provinsi Jambi.

Seniman tradisi ini memiliki kemampuan langka, yang tidak dapat dimiliki oleh sembarang orang. Kemampuan dalam memanggil roh-roh gaib melalui ritual Tauh, dengan media Mantau, sejenis pantun; mantra berima yang dibunyikan tak putus-putus sepanjang malam.

Usianya kini 71 tahun. Sejak balita telah yatim bersama dua saudaranya yang lain. Dalam kepapa-annya, Nurcahaya kecil hidup dalam hinaan dan cercaan banyak orang di kampung halaman, di Dusun Ujung Tanjung Muara Danau. Kampung ini kemudian hari bernama Lempur Mudik.

“Menangis saya kalau ingat masa kecil saya dulu. Masih kecil sudah yatim, hanya ada Bapak dan dua saudara. Tinggal di tengah sawah. Karena itu saya selalu dihina orang,” ujar Mak Caya, usai Bertauh dalam Pergelaran Tradisi Lisan di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Kamis 3 Desember 2015.

 

Dalam dera kesedihannya, Nurcahaya kecil mengadu kepada Bapaknya. Bertanya mengapa dirinya selalu dihina, diremehkan orang, hanya karena nasib malang yang sebenarnya tak dikehendakinya.

“Bapak saya saat itu bilang, “kalau pahit darah kau nanti, Caya, masa tuamu akan berguna, banyak orang akan mencarimu, memerlukanmu,” sambil menghembus ubun-ubun saya,” cerita Mak Caya.

Mak Caya yakin, doa Bapaknya itulah yang dikabulkan Tuhan. Hingga di usia tuanya kini, dalam keterbatasan tenaganya kini, Mak Caya, tak henti-hentinya disambangi orang-orang dari berbagai penjuru, baik sekedar bercerita, belajar, meneliti dan diundang kesana-kemari untuk bertauh.

“Saya tidak punya kemampuan apa-apa. Semuanya datang dengan sendirinya. Hanya kekuasaan Allah yang bisa menjadikan saya seperti ini,” katanya.

Jangan lewatkan:

Tauh atau bertauh adalah kesenian tradisi yang biasa dimainkan oleh orang-orang di Lempur Mudik. Ada delapan penari laki-laki dan perempuan dalam satu kelompok Tauh, ditambah pemain gong dan alat musik lainnya. Dalam kelompok itu, terdapat satu tukang Mantau atau pedendang, atau orang yang melagukan pantun, mantra dan sejenisnya.

Kemampuan Mantau inilah yang diyakini tidak dapat dimiliki oleh sembarang orang. Hanya orang yang memiliki “tuah” nya sendiri yang dapat menjadi tukang Mantau.

Mantau tidak dihapal, tidak dipelajari dan tidak diturunkan. Dia datang dengan sendirinya. Dalam praktiknya, Mantau akan meluncur sambung-menyambung dari mulut pelantunnya. Yang bahkan, dia sendiri (Tukang Mantau) tidak menyadari hal itu.

Tukang Mantau biasanya akan terus berpantun sepanjang malam saat pergelaran Tauh. Sementara delapan penari akan terus menari, diiringi bunyi gong. Suasana mistis akan semakin terasa, bau dupa dan kemenyan semerbak. Dalam tahap tertentu, satu-satu para penari mulai hilang kesadaran, dirasuki arwah dan mahluk gaib lainnya. Bahkan tidak jarang pula para penonton tersihir, mengalami ekstase, dan pingsan.

“Segala roh gaib penunggu gunung dan lembah akan hadir dalam pertunjukkan Tauh. Mereka terpanggil bunyi gong dan Mantau,” ujar Mak Caya.

Kesenian ini biasanya dimainkan saat ada upacara adat. Di Kerinci, upacara adat dikenal sebagai Kenduri Sko. Tiap-tiap daerah di Kerinci memiliki jadwal Kenduri Sko masing-masing. Ada yang setahun sekali, empat tahun sekali atau bahkan sepuluh tahun sekali.

“Dalam Kenduri Sko, biasanya Mantau yang digunakan adalah Mantau Para Depati. Pantun ini magis dan ditembangkan pada waktu-waktu khusus. Dalam kegiatan lain, semisal hajatan perkawinan, Mantau yang digunakan adalah Mantau Muda-Mudi. Kalau urusan pemerintahan, maka Mantaunya adalah Mantau Pembangunan dan Persatuan,” kata M Zaid, Pembina Sanggar Pelangi Pencagura, tempat Mak Caya dinobatkan sebagai seniman tradisi Tauh berlevel Maestro.

 

Masing-Masing Mantau memiliki level magis berbeda. Mantau Para Depati memiliki level magis paling tinggi.

“Makanya Mantau Para Depati tidak bisa dimainkan di sembarang kegiatan, sebab dampak magisnya akan sangat massal. Berbeda dengan Mantau Muda-Mudi dan Mantau persatuan Pembangunan,” kata Zaid lagi.

Mak Caya bercerita, hingga usia 25 tahun, dirinya belum memiliki kemampuan Mantau. Saat itu dia hanya menonton pergelaran Tauh yang dimainkan oleh Mak Salam, satu-satunya Tukang Mantau yang hidup saat itu di Lempur Mudik.

Pada suatu waktu, Mak Caya mencoba Mantau sendiri. Di sebuah tempat yang sunyi, kata dia, di antara lembah dan sawah, di bawah pohon Kulit Manis. Dia membuka mulut, menyuarakan pantun, mencoba Mantau. Alhasil, dari mulutnya keluar Mantau Para Depati. Berlantun-lantun, tak putus-putus, panjang dan merdu.

“Saya tidak tahu suara saya bagus atau tidak. Tapi sejak saat itu orang-orang bilang, “pengganti Mak Salam telah tiba”, ujar Mak Caya.

Maestro Sebenarnya…..

Peneliti Sastra Lisan dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Nukman, mengatakan, pihaknya segera menyusun kajian akademik tentang Mak Caya. Dari sana, pihaknya akan mengusulkan ke pemerintah agar segera mengangkat dan menobatkan Mak Caya sebagai Maestro yang sebenarnya.

“Sejauh ini Mak Caya memiliki kriteria Maestro seniman tradisi Tauh. Secara usia dia sudah sepuh. Dia juga satu-satunya seniman Tauh yang memiliki kemampuan Mantau. Tidak ada lagi yang lain. Jika Mak Caya tidak segera dinobatkan, maka bisa jadi tidak akan ada Maestro Tauh di dunia ini lagi,” ujar Nukman.

Mak Caya, kata Nukman, terus berusaha merawat tradisi. Dalam berbagai kesempatan, baik di sanggar atau tempat lainya, Mak Caya terus menurunkan kemampuannya kepada generasi muda. Meski Tuah Mantau tidak bisa diturunkan, namun ada bagian-bagian dari Tradisi Tauh yang dapat diajarkan kepada generasi muda.

Sebelumnya, ujar Nukman lagi, pihaknya telah berhasil mengusulkan dua Seniman Tradisi dari Jambi sebagai Maestro. Pertama Iskandar Zakaria dari Kerinci dan Mak Jariah dari Batanghari.

“Akan segera kami usulkan maestro yang ketiga. Meski belum tahu kapan selesainya, namun akan terus kita upayakan,” pungkasnya.

(Nurul Fahmy)

Bagikan:
SOROTAN