Minggu Pertama Dirikan Rumah Sakit, Dokter Nadiyah Maulana Menangis Sedih Lihat Suaminya…
Inilahjambi, KOTA JAMBI – Tidak banyak orang yang tahu, kisah sedih dokter Maulana, saat pertama kali memutuskan untuk menjadi pengusaha dan mendirikan klinik pengobatan, yang saat ini telah menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak, Annisa di Kota Jambi.
Menurut Maulana, saat itu istrinya, dokter Nadiyah sempat menangis melihat kondisi dirinya seminggu setelah mendirikan rumah sakit.
“Saya ini sembilan saudara. Dari sembilan orang itu, cuma satu yang jadi dokter. Setelah tamat pendidikan dokter, saya praktik di Seberang Kota Jambi sebagai PNS,” papar Maulana, Sabtu, 11 Maret 2017 di Taman Jaksa, Kota Jambi, saat berdiskusi dengan sejumlah kaum muda.
Meski menjadi dokter, Maulana merasa masih belum dapat berbuat banyak, terutama untuk orang-orang sekitar, termasuk keluarga.
“Saya ini dokter, mengobati/membantu orang paling-paling cuma bisa satu dua orang. Sementara saya merasa mampu berbuat lebih. Tapi apa yang dapat saya lakukan saat itu? Tidak ada. Saya lihat juga keluarga besar, dan kerabat, masih banyak yang menganggur, belum kerja. Saya terus berpikir keras bagaimana agar saya dapat membantu orang-orang lebih banyak lagi,” katanya.
“Akhirnya saya bertekad menjadi pengusaha. Saya dirikan rumah sakit. Namun karena keterbatasan anggaran saat itu. Segala sesuatu di rumah sakit itu saya kerjakan sendiri. Saya resepsionisnya, saya yang memeriksa, saya yang mencatat, dan saya yang mengobati. Semua saya kerjakan sendiri, sebab kalau menggaji karyawan uang saat itu belum ada,” kata Maulana.
Dalam satu minggu, Maulana mengaku tidak tidur karena mengerjakan banyak hal sendirian di rumah sakit itu.
“Istri saya menangis lihat kondisi saya. Dia bilang, kok malah tambah susah. Enak jadi pegawai (dokter PNS), mengapa harus dirikan rumah sakit,” papar Maulana lagi.
Namun tekad yang kuat untuk menolong orang lain, membuat Maulana terus berjuang. Hingga akhirnya, diakui Maulana, dirinya mampu melewati rintangan dan halangan.
“Saat ini pegawai di RSIA Anisa mencapai 300 orang. Saya bersyukur, mampu menolong orang, bukan saja dari sisi kesehatan (pasien), tapi juga lapangan kerja. Bandingkan kalau saya hanya jadi dokter saja,” ujarnya.
Dengan memberikan lapangan kerja, menurut Maulana, banyak manusia lain yang dapat merasakan manfaatnya, termasuk keluarga para pegawai.
“Kalau rata-rata gaji pegawai itu Rp2 juta sebulan sesuai UMR, paling tidak saya harus mengeluarkan uang Rp600 juta sebulan untuk gaji mereka. Itu belum termasuk dokter dan spesialis. Kalau dulu saya tetap jadi dokter, tidak bisa membayar gaji orang sebanyak itu,” pungkasnya.
(Nurul Fahmy)
