Wed. Jan 23rd, 2019

Tim Prabowo Kaget Akan Ada TKA Garap Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Teks Sumber: Detik.com

Inilahjambi – PT Kereta Cepat Indonesia China akan memperkerjakan tenaga kerja asing (TKA) untuk menggarap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengaku kaget.

Baca lagi :  Kades yang Tertangkap Narkoba dan Senpi, Bunuh Warga Mestong, Satu Tewas, Lainnya Kritis…

Seperti dilansir CNBC Indonesia, Direktur Utama PT KCIC, Chandra Dwiputra, menyebut pada 2019 nanti kebutuhan tenaga kerja mencapai 33 ribu. Dari jumlah tersebut, 20% di antaranya merupakan tenaga kerja asing (TKA) yang mayoritas berasal dari China.

Rencananya, pelaksanaan konstruksi berlangsung hingga 2021 mendatang. Berdasarkan data yang didapat CNBC Indonesia dari PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), dalam rentang tiga tahun tersebut setidaknya dibutuhkan 39 ribu tenaga kerja.

“Sangat mengagetkan membaca berita pernyataan Dirut PT Kerata Api Cepat Indonesia China (KCIC) bahwa akan ada ribuan atau 6.600 tenaga kerja asing yang akan mengerjakan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Mengagetkan. Menyedihkan sekali nasib pekerja lokal mendengar pernyataan Dirut ini. Pertanyaannya, kenapa harus ribuan TKA China ini kita terima?” kata juru bicara BPN Prabowo-Sandi Andre Rosiade kepada wartawan, Jumat 21 Desember 2018.

Andre menegaskan Indonesia punya tenaga kerja yang andal. BUMN konstruksi Indonesia, kata dia, sudah banyak mengerjakan proyek bernilai triliunan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

“Ini menunjukkan bangsa kita mempunyai tenaga kerja yang mumpuni dan ahli dan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak membutuhkan ribuan TKA China untuk mengerjakan proyek konstrusi kereta api cepat ini atau memang dari awal ada perjanjian rezim Pak Jokowi ini dengan pihak China bahwa akan memberikan kesempatan ribuan TKA China masuk untuk bekerja di proyek ini,” sebut Andre.

Andre meminta penjelasan utuh terkait pernyataan Dirut PT KCIC. “Kalau ini terjadi, ini menunjukkan bahwa rezim ini memang pro TKA China dan meminggirkan kesempatan pekerja lokal. Untuk MRT saja yang risiko pekerjaannya lebih sulit. Tidak ada tuh ribuan TKA dari Jepang yang harus bekerja dalam proyek MRT yang dikerjakan di Jakarta. Pemerintah harus menjawab pertanyaan ini. Apakah memang dari awal pemerintah sudah bikin kesepakatan agar ribuan TKA China masuk dalam proyek ini?” sebut Andre.

Kembali ke keterangan Chandra Dwiputra di CNBC Indonesia, dia mengatakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih akan digarap oleh mayoritas pekerja lokal. Perbandingannya, kata Chandra, 1 banding 4.

Banyaknya tenaga kerja, termasuk pekerja China yang terlibat, ditambah dengan pelaksanaan proyek selama 36 bulan, merupakan tantangan. Chandra menyebut industri konstruksi merupakan sektor industri yang mempunyai tingkat risiko tinggi baik dari segi risiko usaha maupun risiko keselamatan kerja dan kesehatan.

Tingginya tingkat risiko tersebut, menurutnya, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap keseluruhan tingkat keberhasilan pekerjaan konstruksi. Kegagalan penerapan sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif.

Baca lagi Terkait Kasus Perumahan PNS, Madel Mantan Bupati Sarolangun Dituntut 2,5 Tahun Penjara

“Perbandingan jumlah antara TKA dengan pekerja lokal itu kita batasi 1:4. Jadi maksimal 20% yang dari TKA,” ungkapnya saat ditemui di Hotel Westin, Jakarta, Kamis 20 Desember 2018. Berdasarkan persentase tersebut, maka TKA yang bakal mengerjakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sekitar 6.600 orang.

Sudah dibagikan