Sel. Des 18th, 2018

Pegiat Wisata Jambi Harap TNKS Contoh Pengelolaan TNBT Semeru

Diskusi di Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dari kiri Sekretaris Dinas Budpar Provinsi Jambi Eka Feriani, Kepala BBTNBTS Sarmin dan relawan Saver, Rani/ Foto Rico Mapadeceng

Inilahjambi – Sejumlah pegiat wisata di Jambi berharap pihak Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) mencontoh pola kerjasama yang dilakukan oleh Sahabat Volunteer Semeru (Saver) untuk menyelamatkan Gunung Kerinci.

Harapan itu tercetus dalam kunjungan tim Best Practice Pemandu Wisata Umum yang diadakan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi ke sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Malang, Jawa Timur yakni, Puncak Bromo, Tengger dan Semeru pada 17 -21 November 2018.

Pola penyelamatan Gunung Kerinci yang mereka maksud yakni bagaimana Gunung Kerinci menjadi wahana pendakian yang aman, bersih sekaligus menjaga sakralitas Gunung Kerinci sebagai wilayah adat masyarakat etnis Kerinci.

Koordinator Sahabat Volunter Semeru (Saver) Riky Adriansyah mengatakan, aktivitas para pendaki Gunung Semeru sebelum tahun 2014 tidak beraturan. Persoalan utama yang menjadi perhatian mereka adalah keselamatan para pendaki, kebersihan gunung dan banyaknya jumlah pendaki yang naik tanpa aturan.

“Kondisi ini membuat suasana Gunung Semeru tidak nyaman. Jumlah pendaki yang banyak tanpa memperhatikan keselamatan diri sendiri dan kebersihan gunung membuat kami cemas, ” kata Riky yang akrab dipanggil Cak Kid, Sabtu 17 November 2018.

Berangkat dari kondisi itu, lanjut Cak Kid, mereka mulai melakukan komunikasi dengan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru. Mereka ingin ada regulasi yang berlaku untuk setiap pendaki.

“Karena Gunung Semeru dibawah pengelolaan TNBTS, maka kami jalin komunikasi dengan mereka bagaimana melakukan penyelamatan ini secara kontinyu. Akhirnya melalui diskusi dengan sejumlah teman dari berbagai komunitas kami merumuskan regulasi dan meminta persetujuan TNBTS untuk menjadi relawan , ” kata Cak Kid lagi

Diakuinya, awalnya tidak mudah menembus birokrasi di TNBTS. Namun dengan pendekatan yang intens, akhirnya kami mendapat kepercayaan untuk mengawasi regulasi yang disepakati tersebut untuk kawasan Gunung Semeru.

Dikatakan dia, sejak mendapat mandat pengelolaan, mereka mulai mengaplikasikan secara ketat regulasi yang mereka sepakati.

Setiap pendaki harus mendaftar dan membayar kontribusi secara online. Setelah itu para pendaki harus melapor ke posko di kaki gunung Semeru.

“Untuk brifieng, kami ketatkan. Seluruh pendaki harus melapor dan melewati briefing. Seluruh barang perlengkapan diperiksa. Sehingga tidak ada pendaki yang tidak safety. Ini penting sekali,” kata dia lagi.

Sementara itu kelompok tim Best Practice dengan latar belakang pemandu pendaki dari tiga komunitas di Kerinci, Zet Herwamto dari Kerinci Paradise, Dedi Wandra dari Kerinci Summit Ferdi Andria dari Kerinci Travelling, juga menyatakan, pihaknya akan mencoba pola yang diterapkan Saver di Gunung Kerinci.

“Kami akan mencoba melakukan komunikasi intens lagi dengan kawan-kawan komunitas lain dan berbagi dengan pihak TNKS di Kerinci. Pola ini patut diaplikasikan untuk kebaikan gunung Kerinci,” kata Ferdi Andria.

Sebab secara umum persoalan yang dihadapi di Gunung Kerinci sama dengan persoalan di Gunung Semeru sebelum tahun 2014 itu.

“Persoalannya sama, sampah, jumlah pendaki yang sangat banyak sehingga berdampak terhadap keamanan mereka sendiri,” katanya lagi.

 

 

(Nurul Fahmy)

Sudah dibagikan