Warga Jambi di Belanda: Tidak Lazim Pedestrian Diberi Nama Khusus (Seperti Jomblo)
Inilahjambi, JAMBI – Polemik penamaan pedestrian di Simpang Kotabaru, Kota Jambi, di media sosial, ternyata disimak juga oleh sejumlah warga Kota Jambi yang tengah studi di Negeri Belanda.
Salah satunya adalah M Ichsan Kabullah, mahasiswa s3 yang tengah mengambil konsentrasi Public Administration di Radboud University, Nijmegen, Belanda.
Menurut dia, pemberian nama untuk sebuah pedestrian, seperti di Kota Jambi yang baru terjadi ini, terkesan anomali. Sebab biasanya nama pedestrian yang dibangun, akan mengikuti nama jalan utama yang diapitnya.
“Adalah tidak lazim nama pedestrian berbeda dengan nama jalan utama,” kata Ichsan melalui komentarnya di media sosial dan diposkan ke Inilahjambi, Minggu 27 Maret 2016.
Dikatakan dosen salah satu peguruan tinggi ternama ini, seharusnya nama pedestrian ‘jomblo’ tidak perlu ada, sebab sudah ada nama Jendral Basuki Rahmat yang menjadi jalan utama pedestrian tersebut.
“Apa urgensinya menaruh tulisan pedestrian itu besar-besar, yang kebetulan membelakangi kantor LAM Kota Jambi. Harusnya orang-orang sudah tahu pedestrian di kawasn itu adalah pedestrian Basuki Rahmat,” tulis Ichsan lagi.
Diakuinya, diberbagai pedestrian besar yang pernah dijumpainya, tidak ada yang menampilkan nama sebesar itu. Sebagai contoh, lanjutnya, banyak orang yang mahfum akan masyhurnya Ave des Champs-Elysees di Paris yang menghubungkan Arc de Triomphe dan Place de la Concorde. Namun tidak ditulis sebesar itu.
“Hanya ada sebuah papan kecil, yang kebetulan salah satu papan itu ditempel disudut bangunan pertama dekat Arc de Triomphe, yakni kedutaan Qatar di Perancis. Bagi saya pembangunan nama tersebut (papan nama pedestrian Jomlo) tersebut ‘waste of money’ (buang-buang uang),” tegasnya.
Mengacu pada Perda RT/RW dan peraturan-peraturan diatasnya, penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), termasuk pedestrian sudah menjadi kewajiban dan kebutuhan warga kota, yang seharusnya disediakan pemerintah, sehingga tidak perlu lagi diberi nama.
Lihat;
“Menurut hemat saya penamaan pedestrian tidak perlu dibuat. Jikapun dirasa perlu diberi nama oleh penguasa (mengingat ini bisa menjadi politik pencitraan pada pilwako berikutnya) hendaknya dibuat diskusi publik terlebih dahulu sebelum memberi nama,” katanya.
Dilanjut Ichsan, ada baiknya nama pedestrian di kawasan itu disesuaikan dengan nama jalan, seperti pedestrian yang akan dibangun di Jalan Zainir Havis (depan DPRD Kota Jambi), maka namanya secara otomatis disebut ‘pedestrian Zainir Havis’.
“Sebaiknya nama itu diganti atau disebut saja sebagai ‘Pedestrian Zainir Havis’, sekaligus mengingatkan dan memberi tahu warga yang lupa, tentang siapa itu Zainir Havis,” pungkasnya.
Baca juga:
- Belum Diresmikan, Alat-alat di Taman Jomblo Kota Jambi Sudah Rusak 3 Kali
- Foto: Ini Bedanya Barang Rusak dengan Barang Bagus yang Ada di Taman Jomblo
(Nurul Fahmy)
