Angkasa Pura II Tolak Ganti Nama Bandara Jambi, Sutan Adil Hendra: Saya Akan Kontak Menteri Perhubungan
Inilahjambi, KOTA JAMBI – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra menyatakan, pihaknya akan menghubungi Menteri Perhubungan untuk meminta kejelasan soal penamaan Bandara Sultan Thaha Syaifuddin yang ditulis menjadi “Sultan Thaha Airport” oleh pihak Angkasa Pura II.
Menurut Sutan, dalam kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, penulisan ‘Sultan Thaha Airport’ tidak sesuai karena menyalahi Undang-Undang Bahasa. Selain itu, nama pahlawan Jambi yang dipenggal (tidak utuh) juga menjadi persoalan.
“Ini kan nama Pahlawan Jambi, jadi harus ditulis utuh, termasuk penggunaan Bahasa Indonesia. Seharusnya Bandara Sultan Thaha Syaifuddin. Saya akan hubungi Menteri Perhubungan,” kata Sutan Jumat 20 Januari 2017 di Jambi.
Selain berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Sutan juga mengaku akan melakukan pertemuan dengan Komisi V DPR RI.
Berita terkait:
“Itu domain Komisi V tentang Perhubungan. Saya akan berkoordinasi dengan mereka. Saya juga bicarakan kembali dengan Gubernur dan Walikota Jambi,” ujar Sutan.
Manajer Pelayanan Bandara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, Indra Gunawan, mengatakan, penamaan Bandara Jambi yang ditulis Sultan Thaha (tanpa Syaifuddin) telah ada sebelum penyerahan kewenangan pengelolalan bandara itu ke pihaknya (Angkasa Pura II) sekira tahun 2006 lalu.
Pihaknya sebagai pengguna hanya mewarisi apa yang telah tertulis dalam dokumen bandara. Bahkan, nama Bandara Sultan Thaha (tanpa Syaifuddin) telah tercatat dalam dunia penerbangan internasional. Sehingga tidak mudah mengubah nomenklatur yang sudah ada.
“Jadi saat penyerahan pengelolaan dari Dirjen Perhubungan Udara, nama Bandara Jambi ini sudah tertulis sebagai Sultan Thaha. Angkasa Pura II sebagai pengguna hanya meneruskan saja,” kata Indra beberapa waktu lalu di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi kepada inilahjambi.
Sebelumnya, Sutan Adil Hendra mengkritik penggunaan bahasa asing untuk menuliskan Bandara menjadi Airport. Sutan juga mengkritik nama pahlawan Jambi yang dipenggal hanya menjadi Sultan Thaha saja.
(Nurul Fahmy)
