Berbagi Pengalaman dengan Tiga Mahasiswa Asal Jambi di Turki (1)

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:
Berbagi Pengalaman dengan Tiga Mahasiswa Asal Jambi di Turki (1)
Kagum Ketertiban dan Kejujuran Masyarakat Turki

Inilah Jambi, BOLU (TURKI)Tidak banyak anak-anak Jambi yang dapat berkuliah di Turki. Dalam tiga tahun ini saja, hanya tiga anak-anak muda Jambi yang lolos berkuliah di sana melalui program beasiswa dari Pemerintah Turki, mereka Effen, Rizky Amallia dan Azzam.

Kontributor Inilahjambi di Turki, Kiky, beberapa waktu lalu menghubungi dua dari tiga mahasiswa tersebut untuk berbagi pengalaman, khususnya kepada anak-anak muda di Jambi, tentang suka-duka berkuliah di Negeri Al Fatih tersebut.

Mahasiswa pertama adalah Effen. Nama lengkap anak muda kelahiran Jambi 26 Mei 1996 ini adalah Effencioga Putra Yana. Effen berasal dari Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin. Alumni SMA Titian Teras tahun 2014 ini kuliah di Kocaeli University. Dia mengambil jurusan Teknik Komunikasi.

Sebelum dinyatakan lulus seleksi beasiswa Pemerintah Turki, Effen telah mengikuti beberapa seleksi beasiswa seperti beasiswa pemerintah Singapura, Malaysia, Jepang dan Brunei Darussalam.
Tampaknya keberuntungan belum menyertainya dalam serangkaian seleksi tersebut. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk mendaftar beasiswa Pemerintah Turki.

Menurut Effen, Pemerintah Turki menyediakan semua fasilitas bagi pelajar yang diterima kuliah di sama; tiket pesawat berangkat pertama kali dan ketika menyelesaikan studi, asrama, konsumsi, uang saku 600 TL (kurang lebih Rp3.000.000), asuransi kesehatan dan uang kuliah.

Seleksi beasiswa Pemerintah Turki, kata Effen, sebenarnya sama dengan seleksi beasiswa lainnya, tidak terlalu berat. Seleksi meliputi seleksi administrasi dan wawacara.

“Pendaftar harus mengisi formulir online pada website resmi beasiswa Pemerintah Turki dan mengunggah berkas-berkas seperti transkrip nilai, sertifikat, dan menulis essay. Setelah itu, para pendaftar yang lulus seleksi administrasi akan diundang wawancara di Kedutaan Turki di Jakarta,” katanya.

Saat wawancara, biasanya ditanyakan pandangan hidup dan tujuan masa depan calon penerima beasiswa tersebut.

Pada bagian ini, meski terlihat mudah, namun meyakinkan para pewawancara di seleksi beasiswa internasional bukan perkara main-main, sehingga pendaftar butuh persiapan matang agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

Selama tinggal di Turki, Effen merasakan perbedaan yang mencolok antara Indonesia dan Turki, terutama dalam soal kerapian dan keteraturan lingkungan.

“Contoh yang jelas terlihat saja adalah soal tata ruang bandara internasional Attaturk. Bandara ini sangat rapi dan teratur. Mereka mengikuti standar bandara di Eropa,” katanya.

Kehidupan di Turki memang lebih condong pada standar kehidupan Eropa. Contoh sederhananya adalah posisi stir mobil yang berada di kiri, bukan kanan seperti di Indonesia.

Harga barang-barang di sini juga sangat mahal. Pemerintah Turki memeng menetapkan pajak yang tinggi untuk setiap barang, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Saya sangat merindukan masakan Indonesia. Disini, semua makanan terasa hambar. Saya suka berkunjung ke Istanbul untuk makan di restoran Indonesia yang ada disana,” katanya, saat ditanya kesulitan yang dihadapi selama tinggal di Negeri Ottoman.

Bahasa juga menjadi kendala utama. Kebanyakan orang Turki yang tidak bisa berbahasa Inggris. Sehingga dia mengalami kesulitan berkomunikasi pada awal kedatangannya.

“Salat Jumat di Indonesia dan Turki juga memiliki perbedaan. Di Turki, 2 jam sebelum masuk waktu Salat Jumat, imam akan memberikan ceramah kepada para jama’ah, sementara kotbah Jumat yang disampaikan, tidak lebih dari 7 menit,” kata dia.

Effen bercerita, Turki termasuk negara dengan tingkat kejujuran orang-orangnya di atas rata-rata. Kesan itu dia dapatkan dari pengalaman pribadi selama berada di sana.

“Pernah suatu hari saya meninggalkan payung saya dengan sengaja di suatu tempat. Kemudian ketika saya kembali, payung itu masih ada disana. Saya benar-benar kagum akan kejujuran orang Turki dan berharap masyarakat Indonesia juga bisa mencontohnya, sehingga tingkat kejahatan pencopetan, pencurian, dan sebagainya akan bisa berkurang,” tutupnya. (Next)

Baca juga:

 

(Kiky Amallia/Nurul Fahmy)

Bagikan:
SOROTAN