Berbagi Pengalaman dengan Tiga Mahasiswa Asal Jambi di Turki (2)

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:
Berbagi Pengalaman dengan Tiga Mahasiswa Asal Jambi di Turki (2)
Pencinta Sejarah, Pendidikan dan Budaya

Inilah Jambi – Tidak banyak anak-anak Jambi yang dapat berkuliah di Turki. Dalam tiga tahun ini saja, hanya tiga anak-anak muda Jambi yang lolos berkuliah di sana melalui program beasiswa dari Pemerintah Turki, mereka Effen, Rizky Amallia dan Azzam.

Kontributor Inilah Jambi di Turki, Kiky, beberapa waktu lalu mewawancarai tiga mahasiswa tersebut untuk berbagi pengalaman, khususnya kepada anak-anak muda di Jambi, tentang suka-duka berkuliah di Negeri Al Fatih tersebut.

Rizky Amallia, remaja kelahiran Jambi, 2 Juni 1996 ini baru saja menyelesaikan kursus bahasa Turkinya, sembari menempuh pendidikan S1 jurusan Hubungan Internasional di Abant Izzet Baysal University.

Menurut alumni SMAN 3 Kota Jambi ini, Turki merupakan tempat terbaik bagi mereka yang memiliki rasa penasaran tinggi terhadap sejarah masa lampau.

“Di sana, kita bisa menyaksikan peninggalan sejarah tiga peradaban terbesar di dunia, yaitu Islam, Romawi, dan Yunani. Dan itu menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih untuk mendalami Ilmu Hubungan Internasional di negara ini,” ujar gadis yang masih tercatat sebagai warga Jalan Kirana II Cempaka Putih, Jelutung, Kota Jambi ini.

Dikatakan Rizky, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Turki dan sejarahnya. Mendalami sejarah tiga peradaban besar dunia (Yunani, Romawi dan Islam) membuatnya membuka mata bahwa dunia ini sangat luas dan ada banyak hal yang belum ia ketahui.

Contohnya, siapa yang pernah menyangka bahwa Thales, Hipokrat, dan Pisagor sebenarnya adalah warga Negara Iyonya(sekarang Izmir, Turki).

Selain itu, gadis ini lebih bersemangat berbagi cerita tentang sistem pendidikan di Turki.

“Sistem pendidikan disini memberikan lebih banyak kesempatan bagi mahasiswanya untuk berkembang. Sebut saja program Erasmus yang memberikan peluang bagi mahasiswa untuk menempuh pendidikan di negara negara di benua Eropa selama satu atau dua semester,” tuturnya.

Suasana belajar juga cenderung lebih bebas dan hidup. Jika di Indonesia, siswa merasa takut untuk membantah guru, disini siswa memiliki kebebasan penuh untuk mengemukakan pendapat dan kritiknya di kelas.

Hal tersebut tentunya mendorong mahasiswa untuk lebih berfikir kritis dalam menanggapi suatu masalah.Namun, hal tersebut menjadi tantangan baru baginya.

Diakuinya, selama 14 tahun menempuh pendidikan, tahun pertamanya di bangku kuliah adalah masa paling pasif yang pernah ia jalani.

“Saya berusaha untuk mengerti materi yang dijelaskan guru sebaik mungkin. Terlebih, hampir semua guru selalu membuka perdebatan mengenai
konflik dunia di dalam kelas. Pada awalnya, selalu ada rasa takut ketika saya ingin mengungkapkan pendapat, namun pada akhirnya saya bisa memberanikan diri dan mulai aktif di dalam kelas,” jelasnya.

Sistem pendidikan di Turki hampir sama dengan Eropa, mereka menggunakan system moving class dan system penilaian pun mengikuti system ECTS di Eropa.

Seluruh universitas di Turki juga diakui akreditasinya di dunia, jadi lulus dari salah satu universitas di Negeri Ottoman adalah modal besar bagi para mahasiwa.

Fasilitas di kampus juga sangat memadai. Mulai dari laboratorium sains, pusat seni rupa, fitness, kolam renang dan berbagai jenis olahraga lainnya, sampai minimarket dan toko buku bisa ditemui dengan mudah.

“Satu hal yang paling saya suka disini adalah ketika saya bekerja di organisasi mahasiswa Internasional. Dan sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, menjalin persahabatan dengan mereka yang memiliki bahasa, budaya, bahkan warna kulit yang berbeda merupakan pengalaman paling luar biasa yang pernah saya dapat,” tutupnya. (Next)

Baca juga:

 

(Kiky Amallia/Nurul Fahmy)

Bagikan:
SOROTAN