Sel. Des 18th, 2018

Cerita Mencekam Pekerja Trans-Papua Selamat dari Penyerangan OPM

TNI -Polri mengevakuasi warga di Papua beberapa waktu lalu/Dok Humas Polri

Inilahjambi

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Kolonel Infanteri Muhammad Aidi, menceritakan hasil pemeriksaannya kepada seorang pekerja proyek jalan trans-Papua yang selamat dari penyerangan kelompok kriminal separatis bersenjata atau KKSB pada Minggu, 2 Desember 2018.

Seorang pekerja berinisial JA itu diamankan oleh aparat di pos TNI di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga. Menurut Aidi kepada VIVA, JA dan sejumlah rekan kerjanya yang berjumlah 25 orang waktu itu sedang libur alias tidak bekerja.

Baca juga: Identitas 24 Pekerja Trans Papua yang Dibunuh Pemberontak Bersenjata Terkuak, Ini Nama Namanya…

Sekira pukul tiga sore waktu setempat, sekelompok orang bersenjata api berbagai kaliber, diperkirakan berjumlah 50 orang, mendatangi kamp pekerja di Kabupaten Nduga. Mereka memaksa para pekerja keluar kamp dan tangan mereka satu per satu diikat.

Selama diikat dan digiring, kelompok penyerang menggunakan bahasa daerahnya. Mereka diikat dan digiring menuju sungai di jembatan Nduga. Mereka akhirnya menginap di sungai itu dalam kondisi tangan terikat. Belum diketahui mereka diberi makan atau tidak.

Setelah itu, kata Aidi, pada Minggu pagi, para pekerja baru dipindahkan dan digiring lagi menuju suatu bukit yang disebut Puncak Kabo, kira-kira satu kilometer dari kamp. “Sampai di lereng bukit, mereka dipaksa berbaris membentuk lima saf dalam posisi jalan jongkok,” ujarnya.

“Sampai di bukit itu, para KKSB bereuforia; mereka menari dengan gerakan khas Papua dan teriakan hutan khas Papua sambil menembaki korban membabi-buta. Sebagian meninggal di tempat, sebagian lagi pura-pura mati, terkapar di tanah,” katanya.

Lihat : Teror Bersenjata di Papua, 31 Pekerja Tewas Ditembak

Melarikan diri

Setelah tidak ada lagi gerakan dari korban, kelompok penyerang yang belakangan diketahui milisi Organisasi Papua Merdeka, meninggalkan mereka begitu saja. Mereka melanjutkan perjalanan ke puncak bukit kabo.

Para korban yang pura-pura mati lantas berusaha bangkit dalam keadaan tangan masih terikat dan sebagian luka tembak. Sebanyak 14 orang meninggal dunia dan 11 orang selamat setelah melarikan diri.

“Nahasnya, saat melarikan diri ketahuan oleh KKSB, dikejar dan tertangkap lima orang,” katanya.

Dari lima orang yang tertangkap lagi itu, tiga di antaranya dibunuh di tempat. Dua yang lain melarikan diri dalam keadaan luka parah. Keduanya kemungkinan meninggal diduga kehabisan darah.

Akhirnya enam orang berhasil menyelamatkan diri lari ke daerah Distrik Mbua. Selama pelarian itu ternyata dua orang terpisah dari kelompoknya dan belum diketahui nasibnya kini. Empat orang berhasil mencapai pos di Mbua. Tiga di antaranya mereka terluka tembak di kaki dan tangan

Setelah sampai di pos TNI, situasi belum aman. Pada Senin pagi, 3 Desember 2018, pos TNI kembali diserang dengan dilempari batu. Saat itu seorang personel jaga pos, Serda Handoko, membuka jendela lantas tertembak seketika dan meninggal di tempat.

Puluhan prajurit lain membalas serangan, sembari mengevakuasi beberapa pegawai Puskesmas dan sejumlah guru ke dalam pos. TNI baku serang dengan kelompok penyerang sejak pagi hingga pukul sembilan malam. Sebagian dari kelompok penyerang bersenjata panah, tombak, dan batu.

Setelah tembakan berhenti, Komandan Pos menilai kekuatan tidak seimbang dan tempat perlindungan tak memadai. Dia memutuskan meninggalkan pos untuk mencari tempat berlindung pada pukul satu dini hari.

“Mereka bergerak meninggalkan pos itu sambil menggotong jenazah korban Serda Handoko. Mereka dapat gangguan lagi, beserta petugas sekitar. Bergerak dalam keadaan gelap terjadi lagi kontak tembak, kena anggota di lengan,” kata Aidi.

Tidak lama kemudian, satgas gabungan TNI-Polri dari Wamena sampai ke lokasi itu dan Mbua kembali dikuasai. Kelompok penyerang melarikan diri tapi tidak diketahui apakah mereka tertembak.

 

Sumber: Viva.co.id

Sudah dibagikan