Sel. Des 18th, 2018

TNI Ultimatum OPM: Segera Menyerah Atau…

Foto :
Dok. Pendam VXII/Cendrawasih

Inilahjambi

Tentara Nasional Indonesia (TNI) memberi peringatan kepada kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) di Papua yang membantai puluhan pekerja proyek jalan trans-Papua untuk segera menyerahkan diri.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih, Kolonel Infantri Muhammad Aidi mengatakan, pengejaran terhadap personel Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di medan perang yang telah mereka tetapkan, yakni Distrik Mbua sampai Habema, terus dilakukan.

Baca juga: Cerita Mencekam Pekerja Trans-Papua Selamat dari Penyerangan OPM

Aidi memberikan peringatan, anggota KKSB yang diperkirakan berjumlah 50 orang itu segera menyerahkan diri dan menyerahkan senjata bila ingin terjamin keamanannya.

“Kami pastikan tidak ada lagi aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis. Kami minta sebaiknya mereka menyerahkan diri secara baik-baik, menyerahkan senjata yang dimiliki. Kami akan jamin keamanan mereka,” kata Aidi kepada VIVA, Rabu 5 Desember 2018.

Bila tidak mau menyerah, personel gabungan yang merupakan anggota TNI dan Polri akan memburu mereka sampai dapat. Mereka harus siap menanggung risikonya.

“Kalau mereka betah hidup di hutan dengan terkejar-kejar, ya silakan saja. Kalau ketemu tidak menyerah, risikonya tanggung sendiri. Ada kemungkinan risikonya TNI jadi korban atau mereka,” katanya.

Ditegaskan Aidi, operasi perburuan akan terus dilakukan TNI akan berupaya mengerahkan semua potensi demi tegaknya NKRI.

OPM Tantang TNI

Sementara itu Organisasi Papua Merdeka atau OPM menantang TNI berperanglah “secara gentleman” di medan perang yang telah mereka tetapkan, yakni Distrik Mbua sampai Habema.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menuding TNI dan Polri melancarkan serangan udara di wilayah permukiman warga sipil di Kenyam, Kabupaten Nduga, pada 4 Desember 2018.

“Kami imbau kepada pihak TNI/Polri, kolonial Indonesia, bahwa berperanglah secara gentleman dan bertanggung jawab menjunjung tinggi hukum humanisme internasional. Pisahkan mana basis rakyat sipil, mana basis dan wilayah perang,” kata Juru Bicara OPM, Sebby Sanbom, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 5 Desember 2018.

Dia juga menuding TNI dan Polri masih melancarkan serangan udara, sembari mengevakuasi para korban tewas dalam penembakan Minggu pekan lalu. Bahkan, katanya, TNI menggunakan peralatan perang yang canggih dan bahan peledak daya besar.

Dia mengklaim, serangan itu merusak beberapa rumah, melukai warga sipil dan milisi TPNPB. Namun dia menolak menyebutkan terperinci identitas korban luka maupun rumah-rumah yang rusak karena belum sempat mengidentifikasi.

“Wilayah Mbua ini besar, jadi kami secara komando belum identifikasi korban dimaksud,” katanya.

 

Sumber: viva.co.id

Sudah dibagikan