Cerita Ulama Sumatera (3) Oleh Musri Nauli

Musri Nauli

Cerita Ulama Sumatera (3) Oleh Musri Nauli


WALAUPUN Azzumardi Azra (AA) didalam buku “Jaringan Ulama Timur Tengah & Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII” tidak menyebutkan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau, namun Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau adalah mahaguru dari berbagai ulama Nusantara.

Diantara muridnya terdapat Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Sulaiman Arrasuh, Syaikh Muhammad Thahir Ibn Muhammad Jalaludin Cangking, Kiai Asnawi Kudus, Syaikh Karim Amrullah, Kiai Nawawi al Bantani dan Agus Salim.

Amirul Ulum didalam bukunya “Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi – Cahaya Nusantara di Haramain”. Mengalami berbagai edisi cetak. Edisi pertama bulan 2017. Edisi kedua di bulan September 2020. Namun tidak berselang kemudian, bulan Januari 2021 mengalami edisi ketiga.

Sebelum membahas tentang Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Amirul Ulum tekun menuangkan gagasan dari pencarian dan terlibat di pemikiran ulam-ulama Nusantara.
Diantaranya Syaikh Yusuf Makassar, Syaikh Nawabi al Bantani, Syaikh Yasin Padang. Selain itu juga ulama nusantara berhasil disusun didalam bukunya yang kemudian berjudul “Ulama-ulama Aswaja Nusantara yang berpengaruh di Hijaz”.

Didalam bukunya, Amirul Ulum menjelaskan tentang Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi merupakan iman dan Khatib mazhab Syafi’i di Masjidil Haram pada abad XXIX dan abad XX.

Beliau juga pengajar, pengarang berbahasa Arab. Menjadi rujukan berbagai pemikiran.

Lihatlah. Bagaimana kitab yang mengkhususkan biografi ulama-ulama mazhab Syafi’i dengan sistematis. Termasuk periode dari satu zaman ke zaman.

Atau mengkaji biografi ulama-ulama besar dalam sejarah zaman Daulah Turki – Ottaman. Bahkan Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi juga menuliskan didalam kitabnya “Tasynif al-asma” yang memuat biografi ulama-ulama Nusantara.

Berbagai kitab kemudian Tetap menjadi Rujukan di berbagai pusat Kajian, pelajaran dan Rujukan berbagai institusi Pendidikan Islam tradisonal. Baik diseluruh Nusantara, Semenanjung (Pattani dan Malaysia), Dayah di Aceh, Jawa.

Mengutip dari Syaikh Umar Abdul Jabbar, Amirul Ulum menyebutkan, kitab Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi berjumlah 45 kitab. Sekedar gambaran dapat dilihat bagaimana Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi menuliskan Kitab Al-Nafahat Hasyiyatu Al Waraqat untuk menjelaskan kitab Al Waraqat.

Yang menarik adalah hampir setiap pertanyaan, satu tema tertentu yang menarik perhatiannya kemudian dituangkan didalam berbagai kitab.

Kitab Al-Da’i Al -Masmu’fi Raddi’ Ala man Yurisu Al Ukhuwaah wa-Al Khawat ma’a Wujudi al-Ushuli wa al-Furu’i adalah kitab untuk menjelaskan tentang warisan yang berlaku di Minangkabau.

Semula adanya aturan warisan yang dianggap tidak sesuai dengan islam. Warisan yang menempatkan Ahli waris cuma pihak perempuan dianggap dan lelaki tidak mendapatkan apa-apa kemudian dianggap tidak sesuai dengan islam.

Kitab Ilmu al-Hisab fi Ilmi Al Hisan dibuat untuk menjelaskan tentang masalah hisab. Kitab yang menjelaskan Raudhatu al-Hisab fi Al-Amali al Hisab yang ditujukan kepada masyarakat Melayu Melayu.

Ketika muridnya Syaikh Muhammad Thahir ibn Muhammad Jalaluddin Cangking yang kesulitan dalam memahami Kitab Mathla Sa’id karya Syaikh Husein Zayad, Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau kemudian dibuatkan Qaulu Al Murid Syarhu Mathla’ Al-Sa’id.

Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau juga menuliskan kitab Fathu Al-Khabir fi Basmalati Al Tafsir untuk menjelaskan Tafsir Al Jalalain.

Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau juga menjelaskan tentang Tanbih Al-Anam fi al-Radd “Ala Risalihi Kaffi An-Awam an Al-Khaudhi fi Syarikat al Islam ketika Kiai Hasyim Asy’ari mengirimkan surat tentang Sarikat Islam.

KItab Fathu Al-Jawi adalah kitab yang ke 45. Berisikan fatwa-fatwa, tanya jawab seputar Islam. Baik menggunakan bahasa Arab dan Melayu.

Terdiri dari 5 jilid. Masing-masing jilid terdiri dari 50 halaman.

Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau kemudian membuat kitab otobiografi “Al-Qoulu al-Tathifu fi Tarjamati Tarikhi Hayati Al-Syaikh Ahmad Khatib ibn Abdul Latif Al Minangkabawi al Jawi.

Melihat begitu tekunnya Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau membuat kitab, tidak salah kemudian Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau disebutkan sebagai mahaguru ulama Nusantara.

Namanya yang harum dan terkenal sebagai iman dan Khatib mazhab Syafi’i di Masjidil Haram pada abad XXIX dan abad XX tidak salah kemudian menempatkan Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabau sebagai “Cahaya Nusantara di Haramain”. Subjudul buku yang dituliskan oleh Amirul Ulum.

Baca juga:

 

Advokat. Tinggal di Jambi

Terima kasih telah membaca Inilahjambi.com. Berikan informasi ini sebagai inspirasi dan insight ke sesama.
SOROTAN