Cerita Ulama Sumatera (2) Oleh Musri Nauli

Musri Nauli
Bagikan:

Cerita Ulama Sumatera (2) Oleh Musri Nauli


SEBAGAIMANA telah disampaikan pada tulisan sebelumnya, disertasi Azzumardi Azra (AA) didalam buku “Jaringan Ulama Timur Tengah & Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, yang menyebutkan Abdul Rauf Al Singkili dan kemudian dijelaskan panjang Lebar oleh Ridwan Arif didalam Disertasinya kemudian menyebutkan Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri.

Perbedaan nama antara kata Al Singkili dan Al – Fansuri dijelaskan Oman Faturahman (Fathurahman) didalam karyanya “Tanbih al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17”.

Menurut Fathurahman, ‘Abd al-Rauf bin ‘Ali al-Fanshuri al-Jawi merupakan Melayu dari Fansur, Singkil (Singkel) di wilayah pantai Barat Laut, Aceh.

Sehingga nama antara Al Singkili atau Al – Fansuri menunjukkan asal kelahiran dari Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri. Sehingga penggunaan nama Abdul Rauf Al Singkili (nama yang disebutkan oleh AA) dan Al – Fansuri (nama yang disebutkan oleh Ridwan Arif) menunjukkan nama yang sama yang dilekatkan kepada Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri.

Namun dengan alasan praktis, saya lebih suka menyebutkan Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri. Sebagaimana disebutkan oleh Ridwan Arif.

Membicarakan Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri tidak dapat dilepaskan dan dilekatkan kekaguman terhadap berbagai karya-karyanya.

Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri dikenal mempunyai berbagai kitab. Menurut AA, Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri mempunyai kitab berjumlah 22 kitab.

Sedangkan Shagir Abdullah didalam bukunya “Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara” menyebutkan 25 kitab. Sedangkan Fathurahman menyebutkan 36 kitab.

Namun yang paling fenomenal adalah H. M Zainuddin didalam bukunya “Tarich Atjeh dan Nusantara’ justru menyebutkan 56 kitab.

Baca juga:

Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri justru dikenal mengarang kitab berbagai disiplin ilmu Islam seperti fiqh, Tafsir Al Qur-an, Hadis, Akhlak, sejarah, eskatologi, akidah dan tasawuf.

Menurut Ridwan Arif, Kekuatan dari kitab yang dituliskan oleh Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri semuanya ditulis berbahasa Melayu, beraksara Jawi. Dengan demikian maka kekuatannya justru di lokalitas karya.

Salah Satu kitab yang paling fenomenal adalah “Turjuman al Mustafid. Terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Melayu.

Menurut Ridwan Arif mengutip dari berbagai sumber, Kitab ini dikenal sebagai Tafsir Al Qur’an pertama yang lengkap di Nusantara. Tersebar luas di Seluruh Nusantara.

Bahkan ke berbagai negara asia tenggara termasuk ke berbagai mancanegara seperti Afrika.

Berbagai tempat seperti Singapura, Penang, Jakarta, Bombay dan Timur Tengah termasuk Istanbul, Kairo dan Mekkah telah mencetak berkali-kali.

Menurut Ridwan Arif mengutip Peter Riddell, Turjumah Al Mustafid telah memainkan peran Penting dalam sejarah Pendidikan islam Melayu. Selama hampir 300 tahun, ini adalah satu-satunya tafsir dalam bahasa Melayu.

Walaupun selama 40 tahun terakhir, namun Turjuman Al Mustafid terus dicetak dan dipergunakan di Seluruh Malaysia, Sumatera dan Jawa.

Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri dikenal dapat memadukan antara fiqh dan tasawuf. Sehingga Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri kemudian dikenal toleran.

Disatu sisi sama sekali tidak menyalahkan paham wujudiyah. Namun disisi lain, pemahaman itu sangat berbahaya apabila diberikan kepada masyarakat awan yang belum mempunyai pemahaman islam yang utuh.

Baca juga: 

Disisi lain, justru Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri justru mengutuk keras terhadap Al – Raniri yang kemudian menghukum Hamzah Fansuri.

Dibidang lain, nama Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri tidak perlu diragukan.

Dalam bidang tasawuf, salah materi kitab yang menjadi namanya kemudian diperhitungkan, Ridwan Arif kemudian menyebutkan 41 kitab.

Yang paling terkenal adalah Tanbih Al-Mashi, Umdat al Muhtajin, Kifayah Al Muhtajin, Daqa’iq al Huruf dan Bayan Tajali.

Tidak salah kemudian, Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri kemudian ditempatkan sebagai kontribusi nyata dalam perkembangan Islam. Pemikiran yang terus diwariskan dan menjadikan Aceh sebagai salah satu kiblat pemikiran Islam di Nusantara.

Diluar pengetahuan kontemporer pemikiran Islam, nama Syekh Abd Al-Ra’uf Al – Fansuri harus mendapatkan tempat harus menjadi rujukan ketika membicarakan Ulama di Sumatera.

Baca juga:

* Data dari berbagai Sumber

 

Advokat. Tinggal di Jambi

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

SOROTAN