Mon. Aug 19th, 2019

Dibalik ‘Proyek Seni’ Pentas Harmoni di Kota Jambi

Inilahjambi, KOTA JAMBI  – Pemerintah Kota Jambi menggelontorkan duit sebesar Rp2,2 miliar untuk proyek seni yang bertajuk ‘Pentas Harmoni’ Seni Budaya Tanah Pilih. Pertunjukkan seni itu diselenggarakan saban minggu, pada akhir pekan, sejak Maret tahun anggaran 2017 ini.

Duit sebanyak itu tidak diposkan secara menyeluruh di dinas, tapi ‘dititipkan’ di sebelas kecamatan di Kota Jambi. Masing-masing kecamatan menerima Rp200 juta dari total anggaran Rp2,2 miliar itu. Dengan duit itu, seluruh kecamatan di Kota Jambi wajib menyelenggarakan pertunjukkan seni di Taman Remaja.

“Kalau dananya dititip di dinas (seni dan pariwisata), Dewan (DPRD) pasti tidak menyetujui, karena besar sekali. Makanya diposkan di kecamatan. Dana ‘titipan’ ini masuk ke pos kegiatan pengembangan kecamatan,” kata Camat Jambi Selatan Fahmi (kini Kepala BPMPPT Kota Jambi), pekan pertama April 2017.

Dari sebelas kecamatan di Kota Jambi itu dibentuk lagi menjadi lima kelompok. Kecamatan Kotabaru gabung dengan Kecamatan Jelutung, Jambi Selatan bergabung dengan Jambi Timur. Pelayangan dengan Danau Teluk dan seterusnya. Artinya masing-masing kelompok memegang duit Rp400 juta dan ada yang sampai Rp600 juta.

Berita terkait:

Mereka harus mementaskan pertunjukkan seni yang mewakili kecamatan masing-masing sebanyak 6 kali dalam setahun. Dalam satu kali pementasan, kelompok seni (harusnya) menerima dana operasional (pembinaan) minimal sebesar Rp35 juta untuk pentas selama 20 menit.

“Tapi dalam satu malam minggu, bisa ada 2 sampai tiga pementasan. Pokoknya durasi keseluruhannya 2 jam, dari pukul 8 sampai 10 malam,” papar Fahmi.

Dalam rilis Humas Pemerintah Kota Jambi, disebutkan, Pentas Harmoni dipertunjukkan oleh sanggar-sanggar dan kelompok seni dari masing-masing kecamatan.

Dari sana, kalau dijumlahkan, setidaknya masing-masing kecamatan harus memiliki data 5 sanggar atau kelompok seni berbeda dari daerah masing-masing. Celakanya, ternyata tidak satupun pihak kecamatan yang memiliki data sanggar atau komunitas seni di daerahnya masing-masing.

“Kita memang tidak punya data sanggar di masing-masing kecamatan,” kata Camat Kotabaru, Feriadi. “Tapi kita tahu sejumlah sanggar yang eksis, termasuk sekolah,” lanjutnya.

Dengan tidak adanya data sanggar, akhirnya jalan pintas diambil. Pihak kecamatan menunjuk satu atau dua kelompok seni. Minta mereka berkreasi. Minggu ini bisa mewakili Kecamatan Jambi Selatan dalam Pentas Harmoni, minggu depan boleh saja main untuk Kecamatan Jambi Timur.

Dalam pratiknya, bukan hanya kesenian lokal yang dipentaskan, tapi juga musik luar yang dibawakan kelompok musik dari Jakarta.
Camat Jambi Selatan Fahmi (kini Kepala BPMPPT Kota Jambi) mengatakan, pentas seni ini memang bukan berbasis sanggar. Tapi bisa dari masyarakat atau dari sekolah, tergantung kecamatan masing-masing.

“Kami sudah buka pendaftaran di kantor kecamatan, tapi tidak ada yang datang. Ya apa boleh buat. Coba, kalau ada kelompok atau personal yang mau dan bisa, tolong hubungi kami,” kata Ketua Dewan Kesenian Provinsi Jambi ini.

Berbeda dengan Fahmi, Walikota Jambi Syarif Fasha justru mengaku banyak kelompok seni yang mengucapkan terimakasih kepadanya atas digelarnya Pentas Harmoni di kota ini.

“Tujuannya salah satunya menghidupkan sanggar-sanggar seni di Kota Jambi. Sanggar seni di Kota Jambi ini banyak. Mereka semua berterimakasih kepada saya, sudah diberikan ruang. Selama ini mereka tidak punya tempat untuk berkreasi. Ketika kami beri ruang. Silahkan tampil,” ujar Fasha, pekan keempat April 2017.

Saat disodorkan fakta, terkait tidak adanya data sanggar di masing-masing kecamatan selama ini, dan yang melakukan pementasan ternyata bukan perwakilan kesenian di masing-masing kecamatan, Fasha tampak biasa saja.

“Sebetulnya tidak harus camat, tapi dinas pariwisata. Tapi dinas kami ini (dinas pariwisata) kan baru terbentuk, baru awal Januari ini. Tapi ini merupakan masukan. Nanti kita evaluasi,” katanya.

Fasha menyatakan tidak menjadi soal kalau yang melakukan pementasan di taman itu hanya kelompok itu-itu saja. Asal yang ditampilkan berbeda dalam setiap pementasannya.

 

 

 

 

(Nurul Fahmy)

Sudah dibagikan