Harta Karun Harkopo Lie yang Tersimpan di Tempoa Cafe Jambi

Inilahjambi, JAMBI – Para penggemar film bioskop tahun 1980-an dan 1990-an pasti akrab dengan properti satu ini; poster film. Peranti ini berfungsi sebagai promosi film yang akan atau sedang ditayangkan di bioskop.

Selain ditampilkan di bioskop–karya yang pada tahun 1990-an, sebelum digital printing booming– dikerjakan secara manual–karya ini juga di arak keliling dengan mobil sambil di “halo-halokan” (Facebook belum ada Twitter juga 🙂 ) menggunakan pengeras suara supaya masyarakat tahu bahwa film tertentu sedang diputar di bioskop.

Di Jambi, produsen/pembuat poster ini salah satunya adalah Harkopo Lie–kalau tidak mau menyebut sebagai satu-satunya. Dia memproduksi poster film yang akan ditayangkan di seluruh bisokop di Jambi.

Harkopo Lie dan Sakti Alam Watir dengan latar ribuan poster film yang tersimpan rapi di Tempoa Cafe/Foto-foto: Sakti Alam Watir

Fotografer Jambi yang merupakan sahabat Harkopo Lie, Sakti Alam Watir, menuturkan, ribuan poster yang dikerjakan selama kurang lebih 30 tahun itu tersimpan rapi di Tempoa Cafe milik Harkopo Lie di kawasan Jelutung, Kota Jambi.

“Bisa jadi Pak Harkopo Lie satu-satunya orang di Indonesia ini yang mengkoleksi poster film dalam jumlah ribuan,” kata Sakti, Kamis 20 April 2017.

Menurut Sakti, hal ini sangat mungkin, sebab selain pembuat poster, Harkopo Lie juga pemilik bioskop ‘President Theater’ di Jambi. Biasanya poster film dibuat oleh pihak lain atas order bioskop dan dibeli putus. Sehingga poster bisa saja berpindah tangan, ketika rol film dibeli (sewa) oleh bioskop lain, termasuk posternya.

“Sementara Pak Harkopo merupakan owner bioskop sekaligus pembuat poster, sehingga karyanya itu dapat dikoleksinya sendiri setelah film itu tidak tayang lagi,” sebut Sakti atau biasa dipanggil Bang I.

‘Harta karun’ langka ini bukan saja berupa poster berbagai ukuran, tapi juga perangkat bioskop, seperti pemutar film, blower (peniup/penyedot) asap dalam ruang bioskop.

Sejak era bioskop redup, kejayaan ‘President Theater’ yang berada di kawasan Pasar Jambi, atau ‘Istana Anak-anak’ juga redup. Kondisi ini diperparah dengan mati surinya industri film nasional tahun 1990-an sampai awal-awal 2000-an. Penghujung 2000-an, indsutri film nasional mulai bangkit, namun usaha pembuatan poster ini tidak ‘laku’ lagi, sebab digilas mesin cetak digital (digital printing). Bioskop mandiri, di Jambi khususnya, juga tak berdaya diserbu sinema XXI.

Karya Lukis

Bukan hanya poster film, Harkopo Lie ternyata juga membuat karya lukis non komersial. Artinya dikerjakan sesuai kehendak hati. Harkopo Lie, lanjut Sakti, merupakan seniman tulen yang baru menyadari bahwa dirinya adalah seniman, justru setelah lebih dari 30 tahun berkiprah dalam aktivitas seni lukis.

“Pak Harkopo itu pelukis sejak tahun 1990-an. Saat itu, seluruh poster film bisokop di Jambi adalah karya beliau. Meski saat itu kreativitas Pak Harkopo berkaitan dengan order bioskop, namun karya-karya beliau ril manual dan dilukis di atas kanvas,” ujar Sakti.

Menurut Sakti, dalam pameran ‘Jejak Visual’ yang digelar di Tempoa Cafe, kawasan Jelutung, Kota Jambi, Harkopo Lie juga ikut memamerkan karyanya yang dibuat bukan berdasarkan order.

Baca juga:

“Ketahuannyakan setelah ada wacana pameran ini. Ternyata Pak Harkopo punya koleksi lukisan karya beliau sendiri. Jadi ini bisa disebut pameran perdana, atau istilah saya “turun gunung”,” kata Sakti yang menjadi inisiator berbagai pameran foto dan lukisan di Jambi.

Lukisan karya Harkopo Lie yang dipamerkan sebanyak 5 lukisan yang dibuat sekitar tahun 1987-an. Salah satunya karya yang dibuat mengunakan cat Duco (yang biasa digunakan untuk menge-cat mobil) dengan medium triplek. Karya berjudul “Lorong Waktu” ini dibuat selama 4 tahun dengan melibatkan 7 orang.

Harkopo Lie dan Sakti Alam Watir dengan latar ribuan poster film yang tersimpan rapi di Tempoa Cafe/Foto-foto: Sakti Alam Watir

“Ada nama-nama tersembunyi di dalam karya itu. Nama-nama itu adalah orang yang ikut dalam pengerjaan karya tersebut,” ucap Bang I.

Saat pameran digelar–sampai kini masih digelar–, lukisan bertekstur karya Harkopo Lie ini menjadi salah satu pusat perhatian para pengunjung, selain karya-karya lain.

Pameran Poster Film

Ribuan poster yang tersimpan rapi di Tempoa Cafe Inn merupakan harta karun dan koleksi langka seni visual yang diproduksi sezaman dengan kejayaan dan booming sepatu merek Bata 🙂

Menurut Sakti, sudah saatnya Harkopo Lie membongkar harta karun itu dan menunjukkannnya kepada publik dalam sebuah pameran khusus.

“Ada wacana itu (pemaren poster dan perangkat bioskop), tapi belum begitu mantap. Butuh waktu dan kemantapan hati Pak Harkopo untuk membongkar koleksi harta karunnya,” ujar Sakti lagi.

Pameran poster film dan berbagai perangkat film yang saat ini tersimpan rapi–sebagian dipamerkan sebagai pajangan di Tempoa Kafe–dapat menggugah ingatan kolektif; betapa masa muda kami (tahun 80-90-an) begitu indah. Zaman dimana belum ada keriuhan media sosial, sehingga satu-satunya hiburan akhir pekan yang berkualitas dan dianggap ‘keren’ adalah nonton bioskop. 🙂

Jadi kapan pamerannya, Pak Lie?

 

 

 

(Nurul Fahmy)

Bagikan
HOT NEWS