“Hujan Tak Bisa Menghapus ‘Jejak Visual’ di Tempoa Cafe”

Inilahjambi, JAMBI – Pameran seni karya sejumlah perupa, termasuk koleksi patung karya Sumardi di pamerkan di Tempoa Cafe sejak 4 April sampai 1 Juli 2017 mendatang. Tempoa Cafe berada di kawasan Jelutung, tepatnya di belakang Pasar Hongkong, Jalan Hayam Wuruk, Kota Jambi.

Tempoa Cafe merupakan unit usaha dari Tempoa Inn, milik Harkopo Lie. Di Tempoa Inn, terdapat penginapan (hotel), kafe, ruang pameran, agen travel dan lainnya.

Siapa Harkopo Lie? Fotografer Sakti Alam Watir mengatakan, Harkopo Lie adalah seniman tulen yang baru menyadari bahwa dirinya adalah seniman, justru setelah lebih dari 30 tahun berkiprah dalam aktivitas seni lukis.

“Pak Harkopo itu pelukis sejak tahun 1990-an. Saat itu, seluruh poster film bisokop di Jambi adalah karya beliau. Meski saat itu kreativitas Pak Harkopo berkaitan dengan order bioskop, namun karya-karya beliau ril manual dan dilukis di atas kanvas,” ujar Sakti, yang biasa dipanggil Bang I, Kamis 20 April 2017 di Tempoa Cafe.

Menurut Sakti, dalam pameran kali ini Harkopo Lie juga ikut memamerkan karyanya yang dibuat bukan berdasarkan order.

Baca juga:

“Ketahuannyakan setelah ada wacana pameran ini. Ternyata Pak Harkopo punya koleksi lukisan karya beliau sendiri. Jadi ini bisa disebut pameran perdana, atau istilah saya “turun gunung”,” kata Sakti yang menjadi inisiator berbagai pameran foto dan lukisan di Jambi.

Lukisan karya Harkopo Lie yang dipamerkan sebanyak 5 lukisan yang dibuat sekitar tahun 1987-an. Salah satunya karya yang dibuat mengunakan cat Duco (yang biasa digunakan untuk menge-cat mobil) dengan medium triplek. Karya berjudul “Lorong Waktu” ini dibuat selama 4 tahun dengan melibatkan 7 orang.

“Lorong Waktu” karya Harkopo Lie/Foto:-foto Sakti Alam Watir

“Ada nama-nama tersembunyi di dalam karya itu. Nama-nama itu adalah orang yang ikut dalam pengerjaan karya tersebut,” ucap Bang I.

 

“Lorong Waktu” karya Harkopo Lie/Foto:-foto Sakti Alam Watir

Sementara itu, lukisan dan foto-foto karya fotografer Jambi dan Jakarta juga turut dipamerkan di tempat tersebut. “Ada 35 foto, 16 lukisan, 5 patung dan 5 karya lukisan seniman yang baru “turun gunung” ini (Harkopo Lie), kata Sakti sambil tekekeh.

Jejak visual, ujar Sakti, merefleksikan karya-karya perupa Jambi yang sebagian besar telah meninggal dunia. “Ada 6 karya pelukis Jambi yang telah meninggal dunia. Karya-karya mereka kebetulan saya koleksi ketika mereka masih hidup. Jadi “Jejak Visual” dapat dikatakan sebagai pameran yang didedikasikan bagi para perupa yang telah almarhum ini,” lanjut Sakti lagi.

Enam seniman yang karyanya dipamerkan di Tempoa, yakni Maramuda Pakpahan, Muhidin, Subardjo, Arifin Ahmad, Sudjanto, Tukiran. Para perupa yang ikut berperan membesarkan dunia seni rupa di Jambi sejak tahun 1980-an.

Di sisi lain, terdapat 11 lukisan diri perupa Jambi Fauzi Z yang dibuat oleh pelukis dari berbagai daerah, seperti Lampung, Padang, Jambi, Jogjakarta dan Jakarta.

“Pak Fauzi sendiri menyumbangkan 5 karyanya untuk dipajang dalam pameran ini. Kemudian ada lima patung karya Sumardi. Ditambah 35 foto karya fotografer Jambi dan Jakarta,” papar Sakti lagi.

Kamis sore 20 April 2017, hujan jelang Magrib itu mengguyur daun dan pepohonan di halaman Tempoa. Tapi jejak visual para perupa ini pasti tak akan terhapus hanya karena hujan. Anda belum datang ke Tempoa melihat pameran ini? Luangkan waktu dan ajak keluarga, akhir pekan lebih nikmat.

 

 

 

(Nurul Fahmy)

Bagikan
HOT NEWS