Ini Kisah Orang Kayo Hitam Temukan Tanah Pilih 615 Tahun Lalu

Bagikan:

Ini Kisah Orang Kayo Hitam Temukan Tanah Pilih 615 Tahun Lalu


Inilah Jambi-  Jambi secara administratif pemerintahan terbentuk pada 17 Mei 1946. Dalam sejarahnya, kota ini awalnya bernama Tanah Pilih. Nama ini merupakan epigram–gagasan yang diambil–dari peristiwa ‘mupur’nya (mandi pasir) sepasang itik angsa di sebuah kampung yang saat itu bernama Tabun Tandang.

Tidak diketahui benar dimana kampung Tabun Tandang itu. Namun sejumlah pemerhati sejarah menduga, kampung Tabun Tandang di tempat mupurnya sepasang itik angsa itu adalah kawasan Pasar Angsoduo kini, atau di kawasan rumah dinas Komandan Korem 042 Garuda Putih, tepat di sebelah Masjid Agung Al Falah (Masjid Seribu Tiang), Kota Jambi. Saat ini daerah itu bernama Pulau Pandan.

Orang Kayo Hitam lalu menyingkirkan sepasang angsa yang sedang mandi itu dengan tangan kirinya. Di atas tanah itu dia lalu menghantamkan kapak, membuka hutan, menebang pohon, merintis ladang dan membangun negeri yang kelak kita kenal sebagai Kota Jambi, Tanah Pilih Pusako Betuah.

Para ahli adat, sejarah dan akademisi sepakat, kejadian itu, kejadian dua angsa mupur itu bertarikh 5 Syawal 803 Hijriyah dalam tahun Islam. Jika dikonversikan ke penanggalan Masehi, maka jatuh pada tanggal 28 Mei 1401. Kalau kita hitung sampai kini, maka tepatlah, 28 Mei 2016 mendatang kota ini berusia 615 tahun.

Sedikit sekali sumber sejarah tertulis tentang kisah Orang Kayo Hitam membuka negeri ini. Dari yang sedikit itu, diantaranya ada dalam kitab “Silsilah Raja-Raja Jambi, Undang-Undang Piagam dan cerita Rakyat Jambi” yang ditulis oleh Ngebi Sutho Dilogo Priyayi Raja Sari Bin Orang Kayo Pingai Bin Datuk Paduka Berhala pada tahun 1937 Masehi, dengan aksara Arab Melayu gundul.

Dalam BAB “Pasal Ini Cerita Asal Tanah Pilih Yaitu Pedalaman” pada kitab tersebut, dipaparkan kisah Orang Kayo Hitam yang milir (turun ke hilir Sungai Batanghari) dari Tembesi usai mengawini Puteri Mayang Mangurai anak Raja Tembesi, Tumenggung Mato Merah.

Dari sana, Orang Kayo Hitam, sesuai dengan petunjuk dua itik angsa itu, menemukan Tanah Pilih.

Bagaimana kisah awal dan akhirnya?

Tanah Pilih yang ditemukan pada 28 Mei 1401 oleh Orang Kayo Hitam atas petunjuk sepasang itik angsa adalah momen penting sejarah Kota Jambi. Kisah ini bermula dari niatan Orang Kayo Hitam yang hendak mencari pendamping hidup (istri).

Maka, syahdan, seperti tertulis dalam kitab “Silsilah Raja-Raja Jambi” yang ditulis Ngebi Sutho Dilogo Priyayi Raja Sari Bin Orang Kayo Pingai Bin Datuk Paduka Berhala pada tahun 1937 Masehi, turunlah Orang Kayo Hitam dari Tanjung Jabung menyusuri Sungai Batanghari ke Hulu.

Dalam perjalanannya, Orang Kayo Hitam tiba di Muara Tembesi. Di sana dia berhenti sejenak. Diambilnya air Batanghari dan air Batang Tembesi lalu ditimbangnya.

Berdasarkan pengamatan mata batinnya, dia melihat ada perempuan cantik di Tembesi ini. Orang Kayo Hitam lalu memutuskan untuk masuk lebih dalam ke Batang Tembesi.

Sampai di dalam, Orang Kayo Hitam kembali menemukan simpang, yakni Kuala Air Hitam. Dia kembali menimbang air yang diambil dari dua sungai itu. Berat air saat itu condong ke Air Hitam. Maka Orang Kayo Hitam memutuskan masuk ke Sungai Air Hitam.

Di Sungai Air Hitam itu, dia menemukan sebuah “puntung anyut”. Pada puntung kayu itu, terdapat sehelai rambut yang terlilit sangat panjang.

“Ini petunjuk, di dalam sana ada perempuan cantik,” batin Orang Kayo Hitam. Dia meneruskan perjalanan hingga masuk semakin dalam.

Setelah sekian lama menyusuri sungai, maka tibalah dia di sebuah kampung yang diperintah oleh Tumenggung Mato Merah dan Tumenggung Temuntan, Raja Tembesi.

Singkat cerita, setelah berbasa-basi, dan saling memperkenalkan diri, Orang Kayo Hitam yang dijamu oleh tuan rumah melakukan pertandingan persahabatan, mengadu ilmu kesaktian disaksikan oleh rakyat Tembesi.

Dalam kisah itu disebutkan, mereka bertanding mengadu ilmu sampai tiga hari tiga malam. Jika letih dan lapar mereka berhenti, setelah itu lanjut kembali bertarung. Gong dan gendang ditabuh, ramai orang menyaksikan pertarungan tingkat tinggi itu.

Tidak ada yang menang dan kalah dalam duel itu. Mereka sama-sama sakti, sama-sama hebat.

Setelah beberapa hari di sana, Orang Kayo Hitam menemukan informasi bahwa pemilik rambut panjang di “puntung anyut” itu adalah anak gadis Tumenggung Mato Merah, Puteri Mayang Mangurai, adik dari Raden Kuning Magat Di Alam.

Maka disampaikannyalah niat hatinya untuk melamar Puteri Mayang Mangurai kepada Tumenggung Mato Merah.

Tumenggung Mato Merah lantas berunding dengan saudaranya Tumenggung Temuntan. Bagaimana menyikapi lamaran Orang Kayo Hitam. Diterima sulit, tidak diterima lebih sulit lagi.

Mereka tidak dapat membayangkan kemarahan dan kekecewaan Orang Kayo Hitam yang terkenal sakti. Apalagi jika mengingat ayah-bunda Orang Kayo Hitam, Datuk Paduka Berhala dan Puteri Selaras Pinang Masak, penguasa Ujung Jabung, negri Jambi yang di Ilir.

Untuk menghindari persoalan, maka diberilah syarat kepada Orang Kayo Hitam sebelum mempersunting Puteri Mayang Mangurai.

“Ananda,” kata Tumenggung Temuntan, mewakili saudaranya Tumenggung Mato Merah, kepada Orang Kayo Hitam. “Sudah kami temui semua sanak saudara dan ahli waris. Mereka semua pada dasarnya setuju atas lamaran itu. Namun, ada syarat yang harus kau penuhi. Jika tidak terpenuhi, maka lamaran ini tentu saja tidak dapat diteruskan. Begitulah adat kami disini,” kata Temuntan.

Temuntan menyebutkan syarat yang harus dipenuhi oleh Orang Kayo Hitam, yakni mengadakan “emas selasung pasuk dan seruas buluh talang dan selengan baju kepala tungau segantang ulang aling“.

“Begitulah adatnya di sini. Sudah buruk dipakai, sudah habis dimakan. Sudah berasap berjerami, sudah berpandam pekuburan, bertitian teras bertangga batu. Jalan berambah nan berturut, baju berjahit nan berpakai. Sudah gayur pinang, sudah seko kelapa,” ujar Temuntan lagi pada Orang Kayo Hitam.

Diberi syarat itu, tanpa pikir panjang lagi Orang Kayo Hitam menyanggupinya. Dia minta waktu enam bulan untuk menyiapkan semua syarat yang diminta Temuntan.

“Baiklah, ananda minta tempo kepada mamanda mencarikan adat yang tersebut itu enam bulan pergi pulang,” kata Orang Kayo Hitam.

Tidak menunggu lama, Orang Kayo Hitam kemudian kembali ke Tanjung Jabung dan meneruskan perjalanannya ke Tanah Jawa.

Sampai di Majapahit, Orang Kayo Hitam lantas mengutus orang untuk memanggil tujuh orang raja taklukkanya. Yakni raja Mataram, Berebes, Pemalangan, Pengagungan, Kendal, Jepara, dan Demak.
Kepada mereka, Orang Kayo Hitam meminta disediakan syarat yang disebutkan oleh Temuntan.

“Saya beri tempo empat bulan,” kata Orang Kayo Hitam kepada para raja itu.
Para raja manggut-manggut dan berkata akan menyiapkan “emas selasung pasuk dan seruas buluh talang dan selengan baju, kepala tungau segantang ulang aling”.

Bagaimana kisah selanjutnya. Dapatkah para raja itu memenuhi permintaan Orang Kayo Hitam. Dan syarat apalagi yang akan diminta Temuntan kelak kepada Orang Kayo Hitam, sebagai penolakan halus atas lamarannya pada Puteri Mayang Mangurai?

Sejarah Kota Jambi Tanah Pilih Pusako Batuah berpijak dari tuturan yang disampaikan dari mulut ke mulut oleh masyarakatnya.

Budaya tradisi lisan itu terus berkembang hingga saat ini, khususnya yang menyangkut sejarah dan budaya. Alhasil, banyak distorsi dalam kisah yang terjadi pada masa lampau. Distorsi yang bisa saja disengaja untuk kepentingan penguasa dan golongan tertentu.

Salah satu hal yang kita tidak ketahui benar kepastiannya adalah soal tujuh raja di Jawa yang takluk di bawah kekuasaan Orang Kayo Hitam, seperti Mataram, Berebes (Brebes), Pemalangan (Malang), Pengagungan, Kendal, Jepara, dan Demak.

Namun, konon, tujuh raja di Jawa yang diminta oleh Orang Kayo Hitam untuk menyiapkan syarat yang diminta Tumenggung Temuntan sebagai mahar atas lamarannya terhadap Puteri Mayang Mangurai dapat dipenuhi oleh para raja itu.

Dan, setelah mendapatkan apa yang diminta kepada para raja itu, yakni “emas selasung pasuk dan seruas buluh talang dan selengan baju kepala tungau segantang ulang aling“, maka bergegas Orang Kayo Hitam kembali ke Tanjung Jabung.

Singkat cerita, Orang Kayo Hitam menyerahkan semua persyaratan yang diminta kepada Tumenggung Temuntan. Dan tidak lama kemudian Orang Kayo Hitam menikah dengan Puteri Mayang Mangurai di Air Hitam. Dalam kisah lain disebutkan, pesta perkawinan itu berlangsung tak kurang 7 hari 7 malam.

Tidak berapa lama usai perkawinan itu, Orang Kayo Hitam berpamitan kepada mertuanya Tumenggung Mato Merah untuk membawa istrinya, Puteri Mayang Mangurai, ke Tanjung Jabung.

Tapi Tumenggung Mato Merah meminta agar Orang Kayo Hitam mencari wilayah baru untuk mereka berdua.

“Baiklah, ananda milir itu buat negeri baru. Nanti mamanda hanyutkan itik angsa dua ekor untuk mencari tempat yang baik. Dimana juga itik itu mupur sampai tiga hari lamanya, maka ananda undurkan itu itik. Tempat pupurnya itulah ananda ngapakkan parang mulai nebas,” kata Tumenggung Mato Merah kepada Orang Kayo Hitam.

Maka pada hari baik bulan baik, berjalanlah Orang Kayo Hitam membawa istrinya. Ikut dalam rombongan itu iparnya Raden Kuning Magat Dialam. Dalam waktu bersamaan Tumenggung Mato Merah melepaskan dua ekor itik angsa. Rombongan itu kemudian mengikuti arah tujuan dua itik angsa itu.

Di Muara Tembesi, sepasang angsa itu sempat berhenti dan naik ke darat untuk mengais-ngais tanah. Namun tiada berapa lama dua angsa itu turun kembali ke sungai dan berhanyut ke hilir.

Tidak disebutkan berapa lama rombongan itu berjalan mengiringi dua angsa itu. Hingga di wilayah Hilir Batanghari, yang kemudian disebut sebagai kampung Tabun Tandang, dua ekor itik angsa ini naik ke darat.

Di sana unggas itu mulai mengais-ngais tanah dan mupur sampai tiga hari lamanya di tempat itu.

Maka Orang Kayo Hitam pun datang membawa parang (kapak) dan berdiri di sisi itik. Dengan tangan kirinya, Orang Kayo Hitam menjauhkan dua itik angsa itu dari tempat tersebut, sementara tangan kanannya menghantamkan parang (kapak) itu ke tanah yang digunakan itik untuk mupur.

Pada hantaman pertama, dalam kisah itu disebutkan, kapak Orang Kayo Hitam mengenai bedil besi (senapan). Dan pada hantaman kedua, kapak mengenai gong besar.

Maka kedua benda itu, bedil besi (senapan) dan gong dijadikan lambang kerajaan Jambi. Lambang yang sampai saat ini masih digunakan dalam lambang Kota Jambi.

Dua benda itu kemudian diberi nama Si Timang Jambi untuk bedil besi dan Si Jimat untuk gong besar. Kisah lain menyebutkan dua benda yang menjadi pusaka kerajaan itu adalah jelmaan Tumenggung Merah Mato dan istrinya.

Setelah itu, daerah tersebut mulai ramai dihuni orang-orang yang datang dari berbagai pelosok. Kelak, daerah itu dinamai Tanah Pilih.

 

Berita terkait: 

 

(Nurul Fahmy)

Bagikan:
SOROTAN