Pergelaran Tradisi Lisan Jambi 2016: “Pawangnya Kurang Paten Tu…”
Inilahjambi, KOTA JAMBI– Hari pertama Pergelaran Tradisi Lisan 2016 di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Senin sore 24 Oktober 2016, berlangsung dengan ritual yang tidak biasa. Kedatangan sejumlah seniman tradisi ke lokasi pergelaran disambut dengan Kompangan, kesenian tradisi yang diklaim dari Kota Jambi.
Arak-arakan kedatangan para peserta pergelaran itu hampir memenuhi ruas jalan di depan SMAN 5 Kota Jambi. Gemuruh bunyi kompangan dan parade para peserta, sempat membuat arus lalu lintas tersendat, namun tetap berjalan lancar.
Ratusan penonton terus berdatangan ke lokasi pergelaran di halaman Kantor Bahasa Provinsi Jambi. Mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, siswa sekolah dan kalangan seniman serta pegiat seni dan budaya Jambi. Hingga pukul 15.30 WIB, para penonton masih menunggu pementasan digelar.
Pentas dibuat tidak biasa. Kali ini para penonton mengelilingi para pemain yang akan beraksi. Belum lagi acara dimulai, rinai datang sebentar. Para penonton yang berada di luar tenda yang diberi hiasan klasik, janur (daun kelapa) dan ornamen lainnya itu bergegas mencari perlindungan.
“Pawangnya kurang paten tu, hujan kok bisa turun,” celetuk seorang penonton. “Itu cuma gerimis,” kata penonton lain menimpali.
Benar saja, hujan tak jadi turun. Sejumlah pejabat yang datang disambut dengan berbalas pantun, salah satu tradisi Jambi. Tampak juga Kepala Taman Budaya Jambi, Ketua Harian Dewan Kesenian Jambi dan Sekretaris Dinas Pariwisata Provinsi Jambi.
Tak lama, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Syaiful Bahri Lubis memberikan sambutan dan mempersilahkan salah seorang pejabat yang hadir membuka kegiatan tersebut.
Pada hari pertama pergelaran ini, tampil empat kelompok seniman tradisi. Pertama ‘Kompangan’ dari Kota Jambi, ‘Lanse’ dari Batanghari dan ‘Biduk Sayak’ dari Sarolangun.
Sebagai pemungkas hari pertama, kelompok seniman tradisi dari Sanggar Seni Telaga Biru, Kerinci membawakan ritual magis, perpaduan antara mantra, musik dan tari; Ngegah Imau.
Seni tradisi ‘Ngegah Imau’ merupakan ritual perjanjian antara manusia dengan harimau. Bahwa, manusia tidak boleh membunuh harimau, dan harimau tidak boleh mengganggu manusia. Kesenian magis ini hanya ada di Kampung Tengah, Kerinci.
Dalam praktiknya, kesenian ini memang kental unsur magis sejak sejumlah penari dan pemusik memasuki pentas, bahkan sebelum pementasan dimulai. Semerbak harum kemenyan yang dibakar menyeruak. Anehnya, antusias penonton justru sangat tinggi. Gemuruh tepuk tangan menyambut kelompok ini.
Para penari–yang terdiri dari gadis remaja– berkostum ala harimau. Muka juga dicoreng seperti loreng harimau. Sebuah replika (patung) harimau diusung ke depan pentas. Pawang mulai memasang ‘garis batas’. Kemenyan dibakar lagi. Musik mulai dimainkan. Dan mantra dibacakan.
Sembari mantra yang berisi sumpah setio, janji antara manusia dan harimau dibacakan, musik dimainkan, penari mulai melenggak-lenggok. Sejurus kemudian terdengar pekik dari anggota kelompok ini. Para penari mulai terpancing. Ritme tarian makin kencang.
Sejumlah penonton yang mula-mula terasuki. Mereka berteriak, meronta dan menaiki pentas. Sebagian bergelimpangan. Penari juga mulai kerasukan. Suasana pentas menjadi tak menentu. Tak lama, pawang mulai beraksi. menyadarkan para pemain, termasuk beberapa penonton. Yang lain digiring ke belakang pentas. Ritual usai.
“Ada penampakan harimau. Banyak sekali. Tapi kondisi mereka mengenaskan. Ada yang terluka, ada yang buta dan sebagainya. Kita jadi kasihan,” ujar Nia, salah seorang penari kepada inilahjambi, usai membawakan ritual itu.
Dia mengaku, saat itu tidak terpengaruh magis. Namun, dalam kesempatan sebelum itu, dia terbawa suasana (terasuki), dan muncullah penampakan itu.
“Ini kesenian tradisi. Saya bangga melakoninya,” ujar salah satu siswi sekolah menengah atas di Kerinci ini.
(Nurul Fahmy)
