Ngegah Imau, Ritual Magis Warga Kampung Tengah Kerinci Menghormati Harimau

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:

Ngegah Imau, Ritual Magis Warga Kampung Tengah Kerinci Menghormati Harimau


Inilah Jambi  – Kata ‘Ngegah’ atau ‘menggagahi’ harimau dalam kesenian tradisi Ngegah Imau dari Kampung Tengah, Kerinci, bermakna penghormatan pada Harimau.

Ritual ini biasanya dipersembahkan saat ada harimau yang mati. Baik sebab dibunuh oleh pemburu atau karena hal lain. Dalam kondisi terbunuh oleh pemburu, jasad harimau biasanya tidak utuh. Ada bagian-bagian tubuh yang hilang; Kuku, taring, kulit, mata, kaki dan sebagainya.

“Dalam Ngegah Imau, kami akan mengganti bagian tubuh yang hilang itu, mata diganti dengan cermin, kuku diganti dengan keris, taring dganti dengan pedang, ekor diganti dengan tombak dan lainnya,” kata Oktora Karim, pawang dalam ritual magis Ngegah Imau, Senin malam 24 Oktober 2016, usai pergelaran seni tradisi lisan di Kantor Bahasa Provinsi Jambi.

RitualRitual itu dilandasi oleh semacam janji dan sumpah setio antara nenek moyang orang Kampung Tengah Kerinci dengan harimau. Warga setempat tidak boleh membunuh harimau, sebaliknya harimau tidak boleh mengganggu manusia. Janji itu tertuang dalam sebuah mantra yang disebut pno,”

Dalam pno yang diucapkan dalam bahasa Kerinci itulah, unsur-unsur magis ritual Ngegah Imau muncul, selain juga dari musik dan tarian yang dibawakan oleh para pemain. Dalam kondisi tertentu, para pemain (penari dan pemusik), bahkan penonton mulai hilang kesadaran. Terasuki kekuatan magis.

“Umumnya, keturunan warga Kampung Tengah, Kerinci, akan mudah terasuki saat mantra Ngegah Imau ini dibacakan. Dimana saja dan kapan saja dia mendengar mantra ini, bahkan, meski kesenian ini dimainkan di Malaysia sekalipun,” ujar Oktora.

Menurut dia, ada ikatan batin antara warga Kampung Tengah dengah Harimau. Sumpah janji agar saling menjaga dan menghormati.

Latar belakang Ngegah Imau

Oktora memaparkan, janji dan sumpah setio ini dilatarbelakangi sebuah peristiwa pada masa nenek moyang mereka. Ketika itu, ada salah seorang warga tersesat di dalam rimba (atau gunung), sehingga tidak dapat pulang ke kampung. Setelah lama mencari jalan pulang, warga itu menemukan jejak harimau. Jejak itulah yang menjadi pemandu warga sampai ke kampung.

“Padahal dalam kesempatan sebelumnya, banyak harimau di Kampung Tengah yang memangsa ternak warga. Sehingga warga menjadi resah. Tapi karena harimau melalui jejaknya telah berjasa membantu warga, maka oleh para tetua dibuatlah janji dengan harimau, agar saling menghormati. Manusia tidak boleh membunuh harimau, sebaliknya harimau juga tidak boleh mengganggu manusia lagi,” ucapnya.

Dalam praktiknya, kesenian ini memang kental unsur magis sejak sejumlah penari dan pemusik memasuki pentas, bahkan sebelum pementasan dimulai. Semerbak harum kemenyan yang dibakar menyeruak. Anehnya, antusias penonton justru sangat tinggi. Gemuruh tepuk tangan menyambut kelompok ini.

Para penari–yang terdiri dari gadis remaja– berkostum ala harimau. Muka juga dicoreng seperti loreng harimau. Sebuah replika (patung) harimau diusung ke depan pentas. Pawang mulai memasang ‘garis batas’. Kemenyan dibakar lagi. Musik mulai dimainkan. Dan mantra dibacakan.

Sembari mantra yang berisi sumpah setio, janji antara manusia dan harimau dibacakan, musik dimainkan, penari mulai melenggak-lenggok. Sejurus kemudian terdengar pekik dari anggota kelompok ini. Para penari mulai terpancing. Ritme tarian makin kencang.

Sejumlah penonton yang mula-mula terasuki. Mereka berteriak, meronta dan menaiki pentas. Sebagian bergelimpangan. Penari juga mulai kerasukan. Suasana pentas menjadi tak menentu. Tak lama, pawang mulai beraksi. menyadarkan para pemain, termasuk beberapa penonton. Yang lain digiring ke belakang pentas. Ritual usai.

“Ada penampakan harimau. Banyak sekali. Tapi kondisi mereka mengenaskan. Ada yang terluka, ada yang buta dan sebagainya. Kita jadi kasihan,” ujar Nia, salah seorang penari kepada inilahjambi, usai membawakan ritual itu.

Dia mengaku, saat itu tidak terpengaruh magis. Namun, dalam kesempatan sebelum itu, dia terbawa suasana (terasuki), dan muncullah penampakan itu.

“Ini kesenian tradisi. Saya bangga melakoninya,” ujar salah satu siswi sekolah menengah atas di Kerinci ini.

 

(Nurul Fahmy)

Bagikan:
SOROTAN