Thu. Apr 25th, 2019
Tulisan pesan perdamaian dan bunga diletakkan warga di depan Masjid Wellington, Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu (16/3). [ANTARA FOTO/Ramadian Bachtiar]

Tulisan pesan perdamaian dan bunga diletakkan warga di depan Masjid Wellington, Kilbirnie, Wellington, Selandia Baru, Sabtu (16/3). [ANTARA FOTO/Ramadian Bachtiar]

PM Selandia Baru Desak Media Sosial Hapus Video Penembakan di Christchurch

Teks Sumber : Suara.com

Inilahjambi – Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan bahwa ia akan mencari jawaban dari Facebook dan perusahaan media sosial lainnya tentang video siaran langsung yang berisi penembakan di masjid Christchurch yang telah menewaskan 50 orang.

Baca lagi : ISIS Akhirnya Menyerah, Kekhalifahan Abu Bakr Al Baghdadi Jatuh

Ardern mengatakan bahwa ada pertanyaan lebih lanjut yang harus dijawab oleh perusahaan teknologi raksasa tersebut. Ia mengatakan telah mengontak kepala operasi Facebook Sheryl Sandberg.

Video siaran langsung yang berdurasi 17 menit itu diketahui telah dibagikan berulang kali di YouTube dan Twitter, meskipun platform internet telah berusaha keras untuk menghapus video yang diunggah berulang kali tersebut.

“Kami melakukan sebanyak yang kami bisa untuk menghapus atau berusaha untuk menghapus beberapa rekaman yang diedarkan setelah serangan teroris ini. Namun, pada akhirnya itu kembali dan tergantung pada platform itu sendiri untuk memfasilitasi keinginan kami dalam menghapus video dan saya pikir ada pertanyaan lebih lanjut yang harus dijawab,” kata Ardern, seperti yang dikutip dari phys.org.

Sementara itu, Mia Garlick dari perwakilan Facebook New Zealand bersumpah akan “bekerja sepanjang waktu” untuk menghapus konten mengerikan tersebut.

“Dalam 24 jam pertama kami menghapus 1,5 juta video secara global, di mana 1,2 juta diblokir saat diunggah,” jelas Mia Garlick.

Namun, Ardern bersama dengan Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan keraguannya atas hal tersebut. Morrison mengatakan bahwa perusahaan media sosial telah “bekerja sama” sejak serangan tersebut.

“Sayangnya, saya harus mengatakan bahwa kapasitas untuk benar-benar membantu sepenuhnya sangat terbatas pada sisi teknologi,” ucap Scott Morrison.

Baca lagi : Survei Akhir Charta Politika: Elektabilitas Prabowo – Sandiaga Masih Kalah

Lebih lanjut, Scott mengatakan bahwa ada beberapa diskusi yang harus dibahas mengenai bagaimana fasilitas dan kemampuan dari perusahaan teknologi yang dapat ditawarkan untuk kasus seperti ini.

Sudah dibagikan