Puluhan Siswa SMA di Jambi Akan Observasi Dampak Kabut Asap

Inilahjambi, KOTA JAMBI – Puluhan siswa di Kota Jambi, Sabtu 24 Oktober 2015, akan melakukan observasi lapangan, memantau kondisi dan dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Para siswa diminta untuk mengobservasi berbagai persoalan kabut asap di Jambi melalui perspektif mereka msing-masing.

Hasil dari observasi itulah yang akan menjadi bahan tulisan mereka dalam Pelatihan Menulis Cerpen di Bengkel Sastra yang diadakan Kantor Bahasa Provinsi Jambi sejak 19 hingga 31 Oktober 2015 mendatang.

Ketua Panitia Pelatihan Menulis Cerpen, Bengkel Sastra, KBPJ, Ricky A Manik, mengatakan, tidak seperti pelatihan penulisan biasanya, di bengkel sastra itu anak-anak diajar menulis melalui observasi.

“Mereka dibiasakan untuk observasi ke lapangan sebelum menulis. Jadi menulis bukan berdasarkan hayalan atau imajinasi belaka, tapi ada fakta konkret yang mereka temui, dan itulah yang akan dijadikan tulisan,” kata Manik.

Baca berita terkait: 

Anak-anak dalam Bengkel Sastra yang dimentori oleh dua sastrawan terkenal, Gus TF Sakai dan Agus Hernawan, ini juga diminta untuk mengobservasi persoalan yang tengah terjadi di Jambi, yakni kabut asap dan dampaknya.

“Mereka juga diminta untuk melihat kondisi asap dengan berbagai perspektif. Jika tidak ada halangan, mereka akan dibawa keluar ruangan untuk merespon segala hal yang ada di luar untuk kemudian dituliskan menjadi topik cerita,” papar Manik lagi.

Peserta Bengkel Sastra dari SMK 1 Jambi, Septara Uttrujjah, mengaku kagum dengan metode pelatihan yang diberikan di kegiatan itu.

Menurut dia, selama di sekolah, khususnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, mereka tidak pernah diajarkan atau diberitahu bagaimana menulis, dan hal-hal lain, termasuk melakukan observasi sebagai bahan tulisan.

Di sekolah, kata dia, biasanya hanya diajarkan teori dan defisini, tanpa pernah langsung masuk kedalam karya sastra, apalagi mengulas karya dan tehnik penulisan.

“Biasanya kami hanya diajarkan soal definisi, apa itu karya sastra, cerpen dan puisi serta batasan-batasannya. Tapi di sini lain. Kami diajarkan banyak hal. Wawasan kami jadi terbuka, ternyata menulis sastra itu tidak seperti yang disebutkan di banyak-banyak buku sekolah,” kata dia.

Senada, Abigail, perserta lainnya, juga mengaku senang dengan pelatihan itu. Dia mengaku lebih bergairah belajar sastra dan ingin benar-benar serius menjadi penulis selepas pelatihan itu.

“Saya benar-benar senang. Di sini saya semakin yakin, penulis itu adalah manusia yang cerdas. Bagaimana tidak, mereka bisa merefleksikan diri mereka dan lingkungan dalam sebuah tulisan. Ini tidak main-main. Saya ingin jadi penulis sesungguuhnya,” pungkas Abigail.

 

Spanduk
(Nurul Fahmy)

 

Bagikan
HOT NEWS