Rumah Adat Jambi Rumah Kajang Lako

Jangan Lupa Berbagi

Rumah Adat Jambi Rumah Kajang Lako


Inilah Jambi – Masyarakat Melayu Jambi memiliki rumah adat yang dengan nama Rumah Kajang Lako. Rumah Kajang Lako disebut juga Rumah Lamo.

Agung Bawantara dan Maria Ekaristi dalam buku Khazanah Negeriku; Mengenal 33 Provinsi di Indonesia (2011) menuliskan Rumah Kajang Lako merupakan tempat tinggal masyarakat marga Bathin.

Marga Bathin merupakan sebuah suku yang berada dari sebelah barat pegunungan bukit Barisan.

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), sampai sekarang masyarakat Bathin masih mempertahankan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Konon orang Bathin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari Koto Rayo. Ke 60 keluarga inilaha yang merupakan asal mula Marga Bathin V dengan lima dusun asal.

Jadi daerah Marga Bathin V merupakan kumpulan lima dusun yang asalnya dari satu dusun yang sama.

Awalnya orang-orang Bathin tinggal berkelompok, terdiri dari 5 kelompok asal yang membentuk 5 dusun.

Salah satu perkampungan Batin yang masih utuh hingga sekarang Kampung Lamo di Rantau Panjang.

Rumah-rumah di sana dibangun memanjang secara terpisah, berjarak sekitar 2 meter dengan menghadap ke jalan. Di belakang rumah dibangun lumbung tempat menyimpan padi.

Bentuk dan bagian rumah Kajang Lako

Rumah Kajang Lako berupa panggung persegi panjang yang berukuran panjang 12 meter dan lebar 9 meter dengan 30 tiang. Ujung atapnya melengkung ke atas membuat bangunan menyerupai perahu.

Bentuk empat persegi panjang tersebut dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya, dan dipengaruhi pula hukum Islam.

Sebagian besar bahannya adalah dari kayu ulin yang banyak tumbuh di daerah Jambi. Untuk dindingnya berupa yang berukir dinamakan Masinding.

Dikutip dari buku Mengenal Rancang Bangun Rumat Adat di Indonesia (2017) karya Faris Al Faisal, Tipologi Rumah Kajang Leko berbentuk bangsal atau empat persegi panjang.

Atap bangunan rumah panggung Kejang Lako dinamai “gajah mabuk”, yang diambil dari nama pembuat rumah yang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu orang tuanya.

Bubungan dibuat menyerupai perahu dengan ujung bagian atas bubungan melengkung ke atas yang disebut potong jerambah, atau lipat kajang.

Atap bagian atas dinamakan kasau yang bentuknya dibuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua.

Di mana berfungsi untuk mencegah air hujan agar tidak masuk ke dalam rumah.

Pada bagian langit-langit ada yang dinamai tebar layar yang berfungsi sebagai dinding penutup ruang atas dan penahan rembesan tempias air hujan.

Sementara ruang antara tebar layar dan bubungan atap difungsikan untuk tempat menyimpan barang yang tidak terpakai dinamai panteh.

Pada bagian samping, masing-masing dinding, terbuat dari papan yang diukir. Untuk pintunya terdiri atas tiga macam, yaitu pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang.

Pintu tegak berada di ujung sebelah kiri bangunan yang memiliki fungsi sebagai pintu masuk.

Dibuat rendah, maka setiap orang yang masuk ke rumah harus menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada si empunya rumah.

Pintu masinding berfungsi untuk jendela yang terletak di ruang tamu. Pintu masinding digunakan untuk melihat ke bawah, sebagai ventilasi terutama pada waktu berlangsung upacara adat.

Selain itu juga untuk mempermudah orang yang ada di bawah untuk mengetahui apakah upacara adat sudah dimulai atau belum.

Untuk pintu balik melintang adalah jendela terdapat pada tiang balik melintang. Pintu tersebut digunakan oleh pemuka-pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, dan cerdik pandai.

Adapun jumlah tiang rumah lamo adalah 30 terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban.

Tiang utama dipasang dalam bentuk enam, dengan panjang masing-masing 4,25 meter. Tiang utama berfungsi untuk tiang bawah (tongkat) dan sebagai tiang kerangka bangunan.

Susunan ruangan rumah Kajang Lako
Pada rumah adat Kajang Lako terdiri dari delapan ruangan, yakni pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, ruang nalik melintang, ruang balik menahan, ruang atas atau penteh, dan ruang bawah atau bauman.

Pelamban
Pelamban adalah bangunan yang berada di sebelah kiri bangunan induk.

Gaho
Gaho adalah ruangan yang ada di ujung sebelah kiri bangunan dengan arah memanjang. Pada gaho terdapat dapur, ruang tempat air, atau ruang tempat menyimpan.

Ruang masinding
Ruang masinding merupakan ruang depan yang berkaitan dengan masinding.

Saat musyawarah adat, ruanagn tersebut dipergunakan untuk tempat duduk orang biasa dan khusus untuk laki-laki.

Ruang tengah
Ruang tengah adalah ruang yang berada di tengah-tengah bangunan, antara ruang tengah dengan ruang masinding tidak memakai dinding.

Ruang nalik melintang
Bagian pada runag nalik melintang adalah Bagian-bagian dari ruang ini adalah ruang makan, ruang tidur orang tua, dan ruang tidur anak gadis.

Ruang balik menahan
Ruangan tersebut berada di ujung sebelah kanan bangunan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding.

Ruang atas
Ruang atas disebut juga penteh. Di mana berada di atas bangunan dan digunakan untuk menyimpang barang.

Ruang bawah
Ruang bawah atau bauman tidak berlantai dan tidak berdinding yang dipakai untuk menyimpan, atau memasak pada waktu ada pesta.

Baca selanjutnya:

10 Warisan Budaya Jambi Dapat Sertifikat WBTB dari Mendikbud

Sumber: Kompas.com

***

Jangan Lupa Berbagi
SAKSIKAN VIDEO DI BAWAH INI: Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2021-2022 Yayasan Jami' Al Falah Jambi

Tinggalkan Balasan

SOROTAN