Satu ‘Klik’ yang Membunuh
Kombes Pol Rikwanto
Kerusuhan Tanjungbalai diawali oleh broadcast messages di aplikasi WA. Informasi yang tak jelas dari siapa awalnya dan bagaimana mulanya membakar emosi banyak orang dan BOOM!!! meletus kerusuhan. Tanpa ada yang mempertanyakan kebenaran berita tsb.
Saya sempat memperhatikan bahwa hoax, hasutan, fitnahan, banyak berawal dan beredar dari broadcast WA/BBM. Kasus brexit yang mencatut nama seseorang dan lain-lain. Broadcast Tanjungbalai yang akhirnya memakan korban.
Mengapa menggunakan saluran WA/BBM untuk menyebarkan hoax, hasutan, fitnah, dll?
1. penyebarannya lebih cepat. Satu kali anda tekan tombol send, maka itu akan menyebar ke seluruh kontak yang ada di list anda dan bisa jadi itu akan membelah diri menjadi lebih banyak lagi.
2. aplikasi WA/BBM berjalan di smartphone yang banyak digunakan masyarakat, mulai dari pejabat hingga rakyat jelita. dari dara muda hingga orang-orang tua. dari yg berpendidikan sampai yg tidak berpendidikan.
Dengan melihat faktor penggunanya, maka bisa jadi orang yg menerima menganggap itu hal yang BENAR sehingga dia tidak merasa perlu mengecek keabsahannya.
3. Siapa pengirim pertama tidak terlacak oleh orang awam seperti kita. Berbeda halnya dengan posting di facebook, kita masih bisa mengenali siapa yang pertama kali memposting. Dengan begitu si pelaku pembuat dan penyebar awal hoax, fitnah, hasutan seakan terbebas dari tanggung jawab.
Saya teringat cerita kawan saya tentang bagaimana dia harus berusaha ekstra keras menjelaskan kepada ibunya bahwa berita yang didapatnya dari WA itu hoax. Anda bisa bayangkan bukan….mumet berat.
Di media sosial semacam FB/twiter orang bisa segera mengecek atau mencari berita pembandingnya. Itupun bagi yang melek informasi dan masih waras. Tapi jika di WA/BBM dan penggunanya tidak tahu soal internet….apa yg bisa dilakukan? telan mentah-mentah.
.
Disadari atau tidak dengan satu klik yang kita tekan, ibarat kita menarik pelatuk senjata yang dapat membunuh orang lain….Tanpa kita merasa bersalah dan bertanggung jawab, padahal di belahan dunia lain….orang mati karena apa yang kita sebarkan.
Dunia nyata butuh lebih banyak perhatian….Jangan sampai kita capek mengedukasi masyarakat medsos ternyata orang-orang terdekat kita tak teredukasi dan menjadi bagian dari ONE CLICK KILLER.
Jangan sampai kita menyesal bila akhirnya keluarga kita yang menjadi korbannya.
(Divisi Humas Polri)
