Terinspirasi Tengkuluk, Itang Yunasz Rancang Busana untuk Ramadan dan Lebaran, Asli Keren…

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:

Terinspirasi Tengkuluk, Itang Yunasz Rancang Busana untuk Ramadan dan Lebaran, Asli Keren…


Inilah Jambi – Desainer Itang Yunasz kembali meluncurkan karya-karya busana terbarunya, dengan tetap mengeksplor kekayaan wastra Nusantara.

Untuk Ramadan 2016 ini, dia kembali mengangkat khasanah warisan Indonesia itu ke dalam koleksi busana muslim ternyarnya untuk label Kamilaa dan Preview. Dari Cirebon hingga Kalimantan, Makassar lalu ke Bali dan Jambi, Itang menyajikannya secara apik.

Koleksi tersebut tampil di muka publik secara perdana dalam sebuah peragaan busana bertajuk ‘Indonesia Selalu’ di atrium Pusat Grosir Blok B Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis 14 April 2016 lalu.

Itang memang konsisten mengangkat corak-corak kain tradisional yang ia hadirkan melalui teknik digital printing sejak 2002 lalu. Selain sebagai upayanya untuk melestarikan, tujuan lainnya agar keindahan wastra Indonesia dapat dinikmati oleh siapapun.

“Seperti kita tahu, kain-kain tradisional Indonesia sangat cantik tapi terlalu tebal dan mahal sehingga sulit diolah untuk busana sehari-hari, termasuk busana muslim. Lantas saya menyiasatinya dengan teknik digital printing,” ungkap Itang jelang peragaan.

Bila tahun lalu inspirasinya hanya terfokus pada kain-kain dari Tanah Sumatera, kali ini untuk koleksi busana Ramadan 2016, desainer lulusan Academic of Fashion Roma, Italia, ini mengadopsi motif kain yang lebih beragam. Tidak terpatok pada satu pulau saja, motif kain yang diolah untuk 90 tampilan busana Kamilaa mencakup tenun Nusa Tenggara Timur, tenun Makassar, prada Bali, batik Cirebon, dan tenun Kalimantan. Adapun untuk 30 busana Preview, Itang lebih banyak bermain di bordir.

Di tangan dinginnya, motif hadir dalam gaya yang beragam. Ada yang tampil sendiri dalam satu tampilan busana. Ada pula dalam satu tampilan busana dihiasi lebih dari satu motif tradisional.

Seperti yang Itang buat pada sebuah kaftan bernuansa coklat. Motif tenun NTT yang hadir sebagai material utama dipadukan dengan motif batik Cirebon sebagai aksen berbentuk panel yang memanjang di bagian tengah kaftan.

Alih-alih terlihat berlebihan, perpaduan tersebut menciptakan kesan yang lebih dinamis sehingga menghilangkan kesan kaku pada busana muslim.

“Menurut saya, sah-sah saja mengawinkan motif yang berbeda-beda selama masih enak dipandang mata agar busana terlihat lebih hidup,” kata desainer yang pernah menyabet gelar juara II Lomba Perancang Mode Femina 1981 silam.

Bordiran yang juga sudah menjadi identitas Kamilaa ikut mempercantik beberapa tampilan busana Kamilaa. Berbeda dari koleksi sebelumnya, Itang membuat detail bordiran yang lebih segar dan muda pada koleksi ini dalam nuansa floral.

Untuk siluet, penerima penghargaan Pia Alisjahbana Awards berkat kontribusinya memajukan industri mode Tanah Air ini lebih banyak bermain pada siluet dress atau terusan, seperti kaftan dan abaya. Itu, katanya, untuk menyiasati ekonomi Indonesia yang sedang melesu sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

“Konsumen lebih suka busana yang satu potong karena lebih murah dan praktis. Lagipula kalau diperhatikan, mereka cenderung pakai busana yang sama dari pagi sampai malam saat bersilaturahmi ke rumah keluarga ketika di Hari Raya,” kata Itang.

Kendati begitu, ia tetap menghadirkan beberapa pilihan lain berupa celana panjang, gamis, dan coat untuk mengakomodasi gaya masyarakat yang juga semakin rumit dan beragam di saat yang bersamaan.

Dari segi warna, Itang juga bermain dengan palet yang lebih beragam seperti hijau, merah marun, pink dan hitam sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter konsumennya yang berbeda-beda.

Sebagai pemanis, Itang memadukan beberapa busananya dengan penutup kepala berbantuk turban yang inspirasinya bersumber dari ikat kepala tradisional Jambi.

Baca juga: 

(Sumber Detik)

Bagikan:
SOROTAN