Anak Dipangku Kemenakan Dibimbing

Nurul Fahmy/Ist

Bagikan:

Anak Dipangku Kemenakan Dibimbing Oleh Nurul Fahmy


“REALITAS kita hari ini adalah pemerkosaan anak-anak di bawah umur; ayah menghamili anak, anak digauli ibu, ibu melecehkan anak-anak, anak mencabuli teman, paman menyetubuhi keponakan….” ucap Budayawan Radhar Panca Dahana, Selasa 21 Juni 2016 di Tempoa Kafe, Jelutung, Kota Jambi,

Jarum jam sudah di angka 22.32. Tidak ada musik di tempat itu. Hanya suara percakapan silih berganti dari orang-orang yang berhadap-hadapan di meja yang tersusun memanjang. Percakapan terdengar serius. Tekanan suara kadang meninggi.

“Kalian tahu? Data Komnas Perlindungan Anak mencatat ratusan kasus pelecehan seks terhadap anak.” Dia terdiam sesaat, dan kemudian melanjutkan, “tahukah kamu, siapa pelakunya?” tanyanya serius.

Pegiat teater ini memandang keliling ke beberapa anak muda yang berkerumun bersamanya.  “Pelakunya, anak-anak di bawah umur, remaja tanggung. Bagaimana ini bisa terjadi? Dimana Negara? Dimana keluarga?” ucapnya.

Malam itu Radhar tidak spesifik berbicara soal realitas kehidupan yang menyeret anak-anak sebagai objek sekaligus subjek kekerasan seksual di Indonesia. Dia bicara soal kebudayaan hari ini. Soal realitas. Realitas yang terlepas dari buhul kearifan lokal. Realitas manusia Indonesia yang tercerabut dari akarnya.

Dari sayap-sayap kalimatnya menyelinap pernyataan bahwa problem kebudayaan hari ini sebenarnya terbentuk dari individu-individu dalam sebuah keluarga yang tidak jelas asal-usul dan juntrungannya. Keluarga yang tidak memiliki dasar kultural yang kuat. Keluarga yang menganggap sains lebih penting dari budi pekerti. Keluarga yang entah.

Keluarga, tak syak lagi adalah jantung atau “organ” terkecil dalam sebuah negara/bangsa. Dari “komunitas” terkecil ini kelak lahir manusia-manusia yang menentukan hitam-putihnya masa depan bangsa. Masa depan yang ditentukan oleh baik buruknya pola asuh (pendidikan) individu yang disebut orang tua.

Maka, menyerahkan pola asuh (pendidikan) anak pada “mesin” dan membiarkan mereka tercebur dalam derasnya arus teknologi dan dunia antah barantah seperti saat ini, sama dengan membiarkan anak masuk dalam belantara yang gelap. Sementara mereka tidak dibekali alat penerang, semacam pancaran cahaya yang muncul dari mata hati, nilai-nilai budaya, agama, termasuk juga budi pekerti.

Ibu yang Bekerja dan Tidak Bekerja

Nila Syafura, perempuan 40 tahun itu memutuskan berhenti total dari pekerjaanya setelah 12 tahun lebih mengabdi sebagai dosen. Sarjana Komputer itu ingin fokus mengasuh 4 anaknya yang bersusun paku. Keputusan itu mencengangkan keluarga besarnya.

“Saya tidak ingin melepaskan masa-masa emas anak-anak kepada lingkungan yang tidak jelas arahnya. Saya tidak ingin mereka dibesarkan tanpa pengawasan langsung dari saya sebagai ibunya,” ucapnya.

Memang banyak orang percaya, ibu yang bekerja di luar dapat membuat hubungannya dengan anak menjadi renggang, yang berpengaruh pada karakter dan pendidikan buah hati mereka.

Berbagai penelitian menguatkan, anak-anak yang kekurangan waktu bertatap muka dengan keluarganya, memiliki perilaku liar, tak terkendali. Cenderung beringas. Pendidikannya terlantar. Wawasan dangkal dan tak jarang yang putus sekolah. Namun, tidak sedikit pula orang tua (ibu) yang bekerja di luar rumah, meyakini hubungannya dengan anak-anak mereka baik-baik saja. Banyak hal yang mereka lakukan untuk tetap dapat memantau perkembangan pendidikan anak. Seabrek tips dapat dibaca di media soal bagaimana mengelola waktu bersama anak. Bagi mereka, bekerja di luar rumah, khususnya bagi perempuan (ibu), bukan penyebab mutlak retaknya hubungan dengan anak atau menurunnya kualitas pendidikan anak.

Fakta ini merujuk jajak pendapat yang dilakukan Kompas tahun lalu (5 Mei 2015). Dalam jajak pendapat itu, ada 15 persen responden yang menilai proses perkembangan pendidikan anak ada di tangan guru dan lingkungan di luar keluarga. Sebanyak 85 persen lainnya meyakini orangtua dan keluarga memiliki peran paling penting dalam proses pendidikan anak.

Meski bukan representasi masyarakat secara menyeluruh, namun dari sana jelas terlihat keyakinan atas peran keluarga dalam pendidikan anak sangat besar ketimbang unsur-unsur lain di luarnya. Lembaga dunia sekelas Unicef bahkan menekankan pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak.

Tapi apa dan bagaimana sebenarnya peran orang tua dalam perkembangan pendidikan anaknya?

KBBI menuliskan, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam sebuah riset yang dimuat di jurnal personalitas dan psikologi (Journal of Personality and Social Psychology), seperti dikutip dari sciencedaily.com, menyimpulkan, orang tua laki-laki (ayah) berperan terhadap perkembangan seksualitas dan pubertas anak, khususnya remaja putri. Sementara pola pengasuhan pendidikan anak-anak, lebih bertekan pada ibu.

Dari dua entitas ini, terbentuklah kepribadian anak yang komplit dan mendekati sempurna. Namun penting diketahui, penelitian ini tidak memilah peran ayah atau ibu dalam proses perkembangan anak. Seksualitas dan pendidikan disejajarkan sebagai proses alami yang biologis.

Kaitan penelitian ini terhadap realitas kekerasan yang melibatkan anak-anak belakangan ini sudah dapat kita duga merupakan dampak dari pemilahan perkembangan seksualitas dengan pendidikan, agama atau spiritualitas, termasuk budi  pekerti. Artinya, ada fungsi yang tidak berjalan antara ayah dan ibu terhadap anak. Kesimpulannya, peran ayah dan ibu sangat penting dalam proses perkembangan karakter dan pendidikan anak.

Lantas bagaimana dengan orang tua tunggal, anak-anak yatim piatu? Dalam dimensi yang lebih luas, keluarga bukan hanya ayah, ibu dan anak-anak saja. Keluarga juga terdiri dari individu-individu lain yang ada disekitarnya, baik yang sedarah, maupun yang bukan.

Kelok Paku Asam Belimbing, Anak Dipangku Kemenakan Dibimbing

Beberapa puak di Indonesia menerapkan sistem komunal dalam pola pengasuhan anak-anaknya. Anak tidak saja menjadi tanggung jawab orang tua, tapi juga tanggung jawab bersama, terutama kerabat dekat. Dalam masyarakat Melayu, misalnya, terkenal peribahasa “kelok paku asam belimbing, anak dipangku kemenakan dibimbing”. Tanggungjawab orang tua tidak semata-mata pada anak kandungnya saja, tapi juga bagi anak-anak saudaranya. Tanggung jawab itu kadang meliputi berbagai aspek, bahkan hingga si anak menjadi dewasa.

Seorang ayah dalam masyarakat Minang, misalnya lagi, memiliki peran ganda dalam keluarga besarnya, terutama dalam soal perkembangan pendidikan, pemahaman kultur, agama, ekonomi dan sosial anak dan kemenakannya. Dia menjadi ayah sekaligus ‘mamak’ (paman). Peran ‘mamak’ dalam masyarakat Minang, bukan seperti peran paman atau 0om bagi khalayak lainnya.

Dalam masyarakat yang menerapkan pola komunal dalam pendidikan anak seperti ini, seharusnya tidak ada istilah single parent atau anak “yatim piatu dalam pendidikan”. Meski kemudian banyak kita lihat, peran keluarga besar dalam perkembangan pendidikan anak-anaknya terdegradasi oleh sistem pendidikan modern, yang sering disalahkaprahi sebagai proses yang menitikberatkan pendidikan di sekolah, hanya kepada guru saja.

Kehadiran Negara dalam Pembinaan Pendidikan Keluarga

Kearifan kultural dalam aspek pendidikan komunal bagi anak-anak, seperti dalam pepatah Melayu “kelok paku asam belimbing, anak dipangku kemenakan dibimbing” inilah yang tampaknya jadi landasan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendirikan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga pada 2015 lalu.

Dari direktorat yang khusus mengkampanyekan dan menyelenggarakan pendidikan berbasis keluarga inilah Negara hadir ke tengah-tengah masyarakat yang ‘lupa’, bahwa pendidikan anak-anak sejatinya merupakan tanggung jawab bersama, dalam bingkai keluarga. Negara hadir untuk memberikan pembinaan kembali bagi masyarakat Indonesia–yang telah terlepas dari akar kulturalnya. Mengembalikan semangat komunal dalam mengasuh dan mendidik anak-anak.

Semangat kultural dalam mengasuh anak secara komunal ini mungkin telah diterapkan dan menjadi kajian akademis. Dalam prakteknya, pola ini juga telah dilakukan sejumlah kelompok dan organisasi melalui sistem pendidikan keluarga berbasis masyarakat. Tinggal kini mengimplementasikan berbagai konsep dan layanan pendidikan keluarga yang diterapkan pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat jadi lebih maksimal, sehingga target manusia dewasa yang mengetahui dan memahami cara mendidik anak sebanyak 4.343.500 orang pada 2019 mendatang dapat tercapai.

***

Jarum jam sudah di angka 12 malam lewat sedikit di Tempoa kafe. Pertemuan mendekati usai. Di ujung percakapan sebelum bubaran, Radhar berkata, “anak-anak mulai dari PAUD, TK, SD, SMA dan SMA sebaiknya dilarang mengakses gawai tanpa pengawasan orang tua. Benda itu bisa menjadi ‘racun’,” tutupnya.

Baca juga: 

Logika Macet Syarif Fasha

 

Bagikan:
SOROTAN