Mengenal Kopaska TNI AL, Hantu Laut yang Ikut Cari Lion Air JT 610

Kopaska TNI AL/ney

Logo inilahjambi

Logo inilahjambi

Mengenal Kopaska TNI AL, Hantu Laut yang Ikut Cari Lion Air JT 610

Baca juga:

Inilahjambi – Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di Perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018 mengangkut 189 penumpang.

Sampai saat ini tim penyelamat telah menemukan beberapa jenazah korban dan puing-puing pesawat. Tim terdiri dari berbagai elemen, mulai dari Basarnas hingga TNI dan Polri.

Salah satu tim yang diterjunkan adalah Komando Pasukan Katak atau Kopaska, pasukan khusus Marinir. Pasukan elite ini didirikan pada 31 Maret 1962 oleh Presiden Sukarno untuk mendukung kampanye militer di Irian Jaya.

Saat ini Kopaska terbagi menjadi 2 Komando, Satuan Pasukan Katak Armatim di Surabaya dan Satuan Pasukan Katak Armabar di Pondok Dayung, Jakarta Utara.

Anggota Kopaska adalah prajurit-prajurit terpilih. Tugas utama mereka menyerbu kapal dan pangkalan musuh, menghancurkan instalasi bawah air, penyiapan perebutan pantai dan operasi pendaratan kekuatan amfibi.

Mereka mampu menyelam hingga ke kedalaman 300 meter.

Mengenal Kopaska, Pasukan Khusus yang Ikut Mencari Lion Air JT 610KOPASKA – TNI AL

Semboyan Kopaska adalah “Tan Hana Wighna Tan Sirna” yang memiliki arti “Tak ada rintangan yang tak dapat diatasi”. Pasukan Khusus TNI Angkatan Laut (AL) Indonesia ini sudah sangat dikenal hingga ke kancah Internasional.

Calon Kopaska atau siswa Pendidikan Komando Pasukan Katak (Dikkopaska) harus melalui berbagai tahapan pendidikan, seperti tes ketahanan air, psikotest khusus, tes kesehatan khusus bawah air, dan berbagai tes jasmani lainnya.

Dijuluki hantu lautan

Sempat beredar video latihan ‘mematikan’ Kopaska TNI AL di mana ditunjukkan seorang calon Kopaska dilepas ke tengah laut tanpa dibekali oksigen, dan harus berenang hingga ke pinggir pantai. Ada pula video yang menunjukkan para murid didikan Kopaska diceburkan ke dalam kolam dengan tangan terikat untuk melatih fisik.

Karena jenis-jenis latihan yang ekstrem itu, tidak semua siswa didikan dapat lolos hingga ke tahap akhir dan dikembalikan ke satuan asalnya.

Ada sebuah kisah pengusiran kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia, yang hanya dilakukan oleh 3 anggota Kopaska. Kisah tersebut tertulis dalam buku “Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus.”

Pendidikan Kopaska memakan waktu 10 bulan

Proses pendidikan Kopaska dilakukan selama 10 bulan. Adapun syarat-syarat perekrutannya adalah:

– Anggota TNI AL
– Berdinas minimum 2 tahun di KRI/Kapal Perang RI/lanal/lantamal/Mabesal/kolinlamil/armada RI.
– Lulus Kesamaptaan/kemampuan jasmani
– Lulus Tes Ketahanan Air
– Lulus Psikotes khusus
– Lulus Kesehatan khusus bawah air
– Secara sadar mengikuti tes dan pendidikan tanpa paksaan siapapun

Misi-misi ‘ngeri’ Kopaska

Tak hanya kemampuan fisik, Kopaska juga harus memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata. Misi sabotase, kamikaze (bunuh diri), pembebasan sandera, dan masih banyak lagi, harus mampu dilakukan oleh tim elit ini. Mereka dilatih untuk mengoperasikan senjata dan bela diri dengan tangan kosong.

Jika sedang tidak ada operasi atau misi khusus, Kopaska juga akan ditugaskan untuk guarding VIP seperti presiden, wakil presiden, atau orang-orang penting lainnya. Hal ini sudah dilakukan Kopaska sejak zaman Bung Karno.

Materi pendidikan Kopaska

– Akademis umum Angkatan Laut (Operasi laut, navigasi, mesin, elektronika, bangunan kapal, komunikasi dan lain lain)

– Kepaskaan (Doktrin Manusia Katak, Penyelaman dasar, penyelaman tempur, renang tempur, kartografi, menembak berbagai jenis senjata, mengemudi dan menangani kapal/perahu cepat dan lain lain)
Pendidikan Komando (Dasar komando, perang hutan, jungle survival/sea survival SERE, dan lain lain, pada Angkatan I s.d 5 pendidikan Komando dilaksanakan bersama RPKAD/Kopassus di Pusdik RPKAD/Kopassus-Batujajar, Jawa Barat, selanjutnya pendidikan Komando “diperintahkan” mengikuti di Pusdikmar (Pusat Pendidikan Marinir, Surabaya)

– Terjun Static dan AFF (pada Angkatan I s.d 5 Para Dasar dilaksanakan bersama RPKAD/Kopassus di Pusdik RPKAD/Kopassus-Batujajar, Jawa Barat, selanjutnya pendidikan terjun “diperintahkan” mengikuti di Pusdikmar (Pusat Pendidikan Marinir) Surabaya, dan mulai angkatan XXVII, Kopaska melaksanakan Pendidikan Komando Mandiri di bawah Sekopaska, terpisah dari Kodikmar. Setelah melaksanakan terjun dasar mendarat di darat selanjutnya adalah spesialisasi kemampuan terjun (statik & free fall) untuk mendarat di sasaran lepas pantai dan laut dilaksanakan pengembangan di satuan Kopaska Armada).
Intelijen Tempur (pendidikan lanjutan di Satuan dilaksanakan di BAIS dan Intelmar/Intelijen Maritim di Surabaya)

– Sabotase dan kontra sabotase
Demolisi bawah air
SAR Tempur

Sumber: TNI AL

Bagikan
HOT NEWS