Pasar Tembesi, Bukti Sejarah Awal Pemerintahan Jambi yang Tak Terperhatikan

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:

Pasar Tembesi, Bukti Sejarah Awal Pemerintahan Jambi yang Tak Terperhatikan


Inilah Jambi – Pasar Tembesi, tempat penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia pada 1949 nan silam, yang dihadiri Wakil Presiden RI pertama, Dr. Mohammad Hatta, sekarang kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunan-bangunan yang menjadi saksi sejarah awal pemerintahaan Provinsi Jambi ini, sampai sekarang, tidak mendapat perhatian dari pemerintah sama sekali dan terkesan terjadinya pembiaran.

Salah seorang saksi sejarah yang masih hidup, Bachtiar, 96 tahun, yang juga merupakan mantan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), kepada Inilahjambi, Sabtu 08 September 2018 mengatakan,
bahwasanya Pasar Tembesi adalah cikal bakal dari pemerintahan Provinsi Jambi.

“Di sinilah 1949 dulu Belanda menyerahkan kedaulatan kepada RI yang dihadiri oleh Dr. Mohammad Hatta. Beliau sempat bermalam bersama warga di Pesanggrahan milik Belanda, yang sekarang menjadi SMP 1 Batanghari,” kata Bachtiar.

Dirinya menyebutkan di waktu penyerahan kedaulatan tersebut dari pihak tentara Indonesia diwakili oleh Kolonel Raden Mattaher, sekaligus mengambil alih benteng serta barak dari tentara Belanda.

“Bangunan yang merupakan kantor opas (polisi zaman Belanda-red) yang menjadi saksi penyerahan kedaulatan tersebut, sekarang sudah rusak dan dindingnya lapuk tanpa ada perbaikan. Keadaan benteng tersebutpun sama saja. Bagian atap benteng, sudah tak ada. Yang tinggal hanya tiang-tiang lapuk dan dinding yang berlumut” ujarnya lirih.

Bachtiar menambahkan, setelah penyerahan kedaulatan tersebut, aktifitas pemerintahan pada waktu itu berjalan dengan baik. Namun karena banjir besar pada 1955, aktifitas pemerintahan dipindahakan ke pal 5 (Kampung Baru-red).

Baca juga:

“Kantor pemerintahan pindah ke pal 5, termasuk kantor polisi dan kantor tentara” tambahnya.

Dirinya sangat mengharapkan agar pemerintah dalam hal ini Pemkab Batang Hari maupun Pemrov Jambi, mau memperhatikan aset sejarah awal pemerintahan Jambi ini.

“Kalau tidak ada perhatian pemerintah untuk merenovasi bangunan-bangunan bersejarah ini, maka bukti sejarah ini akan hancur dimakan waktu. Bagaimana nanti akan dijelaskan kepada anak cucu kita tentang sejarah ini, kalau bukti-bukti otentikya hancur.” ungkapnya dengan serius.

Di dunia maya seperti FB, permasalahan Aset Sejarah Pasar Tembesi ini juga diperbincangkan netizen. Rata-rata mereka sangat menyayangkan pembiaran akan aset ini. Seperti akun DB atas nama Irsil Syarif yang mengatakan bahwa Pasar Tembesi adalah merupakanKota tua yg tersimpan sejuta kenangan sejarah.

“Akankah hilang bukti nyata bangunan ini dimakan waktu. Perlu pemikiran bersama agar kota tua ini bisa menjadi destinasi wisata sejarah. Agar cerita sejarah ini bisa kita ceritakan ke anak cucu kelak.” harap Irsil.

Pantauan Inilahjambi, bangunan lain seperti kantor kewedanaan, yang sekarang menjadi kantor kelurahan, hanya tinggal rangka dan tiang-tiangnya saja tanpa ada renovasi.

Bangunan bersejarah lainnya yang belum tersentuh tangan pemerintah, termasuk penjara belanda (vanish), kantor pesirah, kantor Bek We (PU), rumah demang, rumah asisten demang, konteler, serta bioskop Mawar. Sekarang semuanya hanya menjadi saksi-saksi bisu.

 

(Ade Ambon)

Bagikan:
SOROTAN