Peran Penting Orang tua dalam Mendidik Anak

Oleh: Yuliana Ja’far

Peran orangtua terutama seorang Ibu sangat berperan dalam mendidik anaknya, pun peran seorang Ayah yang mana nantinya menjadi acuan untuk anaknya kelak. Penulis akan memberi sedikit langkah penting sebagai gambaran bagi orang tua untuk diterapkan dalam keluarga, diantaranya :

1. Memberikan Pendidikan di Usia Dini
Sudah tidak asing lagi dengan berbagai metode serba canggih saat ini banyak kita temui dari menyekolahkan anak baik itu secara home schooling, dengan mendatangkan guru private ke rumah atau orang tua sendiri yang menjadi pendidik sebagai teacher professional untuk anaknya, selain itu saat ini telah ada sekolah anak dari usia dini. Usia dini anak untuk sekolah berbagai macam tingkatan sesuai orang tua mengerti atau memahami anaknya kapan seorang anak harus disekolahkan. Bahkan tak ayal jika seorang calon Ibu sudah memberi terbiyah pada anaknya ketika masih dalam kandungan. Anak-anak diusia masih belia adalah masanya mereka selalu ingin dimanja, dimengerti, apa yang mereka inginkan harus tercapai, butuh kasih sayang secara penuh tak peduli sesibuk apapun orang tuanya.

Oleh karenanya penulis ingin memberi sedikit pembahasan cara efisien kepada anak-anak agar nantinya tercipta lingkungan orang tua dan anak yang harmonis.

a. Mendatangkan rasa nyaman kepada anak, jangan kita biarkan anak merasa sungkan, enggan meminta tolong kepada Ayah dan Ibunya, merasa takut dimarahi jika anak bertanya, atau sebagainya. Mendatangkan rasa nyaman kepada anak dapat dilakukan seperti kita mendengar keluh kesahnya, jika anak menangis bukan berarti dia sedang sedih mungkin dia kelelahan dengan permainan yang itu-itu saja hingga anak bosan.Ketika usia 1-7 tahun anak-anak ingin selalu ada orang tua didekatnya karena butuh perhatian dan diperhatikan.

b. Melihat keadaan anak dalam kondisi apapun, terutama saat anak sedang bermain dengan dunianya sendiri, sering kita temui kadang orang tua mengacuhkan anaknya ketika seorang anak butuh diperhatikan oleh Ibunya dalam kata lain orang tua memberi waktu sedikit lebih banyak menyibukkan diri dengan teman medianya (dunia maya). Tidak ada salahnya untuk melakukan dua pekerjaan sekaligus, tapi alangkah baiknya didikan yang kita beri pada anak dengan penuh ketulusan, keikhlasan karena jika ada orang tua ketika anaknya bertanya dan orang tua tengah sibuk dengan gadgetnya anak-anak akan merasa diacuhkan dan merasa tidak ada kasih sayang terhadap dirinya.

c. Melihat gerakan tubuh anak. Usia anak 1-3 tahun anak-anak dalam masa keaktifannya, ntah itu dalam permainan, belajar dengan keingintahuannya, mencoret-coret dinding kamar dan kenakalannya. Dalam usia ini orang tua juga harus ikut andil dalam keaktifan, cekatan dalam bertindak dan memberi pertolongan pertama yaitu nasihat jika anak telah melampaui batas kenakalannya dalam artian anak memukul, mengganggu, dan menggigit teman bermainnya.

2. Mengetahui Kemampuan Anak
Ibarat pepatah, “buah jatuh tidakjauh dari pohonnya” atau “anak adalah cerminan dari orang tuanya” tidak menafikan kebenaran dan tidak pula pada kesalahan. Jika anak melihat orang tuanya ahli dalam satu bidang, disisi lain anak juga ingin seperti Ayah atau Ibunya yang menjadi idolahnya.

Misalnya; Ayah Budi seorang Kameraman atau juru foto, setiap harinya Budi anaknya, selalu melihat Ayahnya memegang Kamera ntah itu didalam ruangan atau diluar ruangan. Tanpa disadari, Budi sudah bisa menggerakkan kedua tangannya dijadikan bentuk kamera sambil mengatakan “Cekrek, cekrek, cekrek” jika usia Budi satu (1) tahun, dan setiap harinya ia melihat Ayahnya dengan terus memegang kamera ditangan dan menggantungkannya di leher, bukan tidak mungkin Budi juga ingin seperti Ayahnya.

Sebagai orang tua, kita harus peka setiap gerak-gerik anak dan melihat dimana kemampuan anak kita untuk menjadi skill dan passion baginya.

3. Mensuport
Memberi dukungan pada anak pada kemampuan perkembangannya dalam melakulan hal positif. Orang tua yang bijak akan memberikan suatu kebaikanuntuk anak-anaknya, mempedulikan keinginan anaknya dan peka terhadap apa yang anak butuhkan. Begitu juga jika anak melakukan satu pekerjaan membantu Ibunya menyapu misalnya, menabung, belajar memegang pensil, membaca buku, mendapat ranking dikelas, sudah bisa menghafal satu ayat dari Alquran maka tugas orang tua adalah memberi sekurangnya ucapan yang akan membantu semangat pada anak, agar anak merasa dipuji dengan hasilnya. “Wah, anak Bunda dan Ayah pintar ya terimakasih telah membantu Bunda menyapu”, “Hari ini anak Bunda sudah berusaha untuk menghafal, in syaa Allah besok bertambah lagi satu ayat. Itu tandanya Anak Bunda sayang sama Bunda dan Ayah” dan pujilah pada usahanya bukan pada hasilnya agar nanti anak akan terus belajar dengan menambah hafalan dan akan giat membantu Ibunya menyapu.

Dan Bukan berarti anak yang tidak melakukan hal tersebut tidak sayang pada orang tuanya melainkan alangkah indahnya jika kita terapkan pada anak saat mereka usia dini, karena otak anak di usia dini merekam apa yang ia lakukan, apa yang ia dengar dan itu akan terus diingat hinga berjalannya waktu sampai dewasa.

4. Memberikan KepercayaanDiri dan Tanggung JawabKepada Anak.
Beberapa poin diatas telah memberi sedikit gambaran pada kita untuk diaplikasikan pada anak dan kesemuanya itu setiap dari perbuatan, tindakan dan tingkahlaku yang anak lakukan. Orang tua tidak luput untuk memberi rasa kepercayaan pada anak dengan apa yang telah ia lakukan. Kepercayaan yang diberikan akan menambah kepercayaan dirinya untuk terus berkarya dalam bidang yang anak sukai. Selain itu jika anak telah diberi kepercayaan maka ingat kan anak untuk tidak lupa akan tanggung jawab atas sikapnya baik itu dalam kesalahan atau kebenaran.

Misal; Beni dengan tidak sengaja menumpahkan tinta ke baju temannya di Sekolah, lalu temannya melaporkan pada Ibunya Beni “Bunda Beni tadi Beni menumpahkan tinta dibajuku”dan Beni bersikap tidak tahu.“iya maaf kan Beni ya Nak, nanti kalian bermain lagi seperi biasa” . Saat itu anak tidak boleh dijewer atau bahkan memarahinya, nasihatilah anak ketika ia sedang tidak merasa penat dan letihnya dari pelajaran sekolahnya. Orang tua bisa menanyakan lebih dulu kegiatan anaknya di sekolah tadi “Nak, bagaimana belajarnya disekolah tadi?” biarkan anak menceritakan hal apa yang terlah ia lalui jika nanti disatu titik anak pasti akan mengingatkan kejadian saat ia menumpahkan tinta ke baju temannya. “tadi Beni tidak sengaja menumpahkan tinta ke baju teman Beni, Bunda” Orang tua harus benar-benar peka dengan melihat ekspresi, tatapan dan gerakan anak saat anak bercerita. Karena disini peran Ibu sangat penting;

Pertama jangan biarkan sampai Ayahnya tahu apalagi jika Ayahnya hanya tahu anaknya tidak nakal dan neko-neko, syukur jika suami atau Ayah memahami dan mengerti hal ini jika sebaliknya urusan semakin dipermasalahkan. Kedua, genggam tangan anak dengan menatap matanya lalu katakan“Minta maaflah pada temanmu besok ketika di Sekolah ya, dan kalian akan bermain seperti biasanya lagi” karena meminta maaf dan berjabat tangan akan mendidik anak untuk mendahulukan perbuatan yang mulia. Ketiga, jangan kembali menghukum dan memarahinya karena dengan sikap seperti itu anak merasa diterpojokkan, cukup beri nasihat yang baik agar anak tidak mengulanginya, tak lupa terus ajarkan anaj sejak dini untuk tetap mendisiplinkan dirinya dan berikan sedikit alasan dengan hubungannya pada Agama karena perbuatan tercela tidak disukai oleh Allah dan orang lain.

5. Pendalaman Ilmu Agama dan Kehidupan Bermasyarakat
“Belajar diwaktu kecil bagai mengukir diatas batu, belajar sesudahdewasa bagai mengukir diatas air” satu petikan ini acap kali kita dengar. Seperti yang telah penulis jelaskan diatas, diusia anak masih belia otak anak akan menyimpan dan merekam apa yang ia dengar dan ia lihat karena didalam otak ada ribuan sel dan memori yang masih kosong, belum terisi dan kapan saja siap untuk merekam, merangsang dan menyimpan apa saja yang dilihat dan didengar. Oleh karenanya, dari kecillah anak-anak kita latih dan didik dengan mengenal Agama, menerapkan bacaan-bacaan doa, membacakan satu ayat Alquran setiap harinya walau anak belum bisa untuk mengejanya. Dengan terbiasanya orang tua dan yang berperan sangat penting adalah seorang Ibu, lambat laun anak akan mengikuti apa yang kita ucapkan.

Pun dalam kehidupan sehari-hari, berlingkungan dan bermasyarakat. Berikan contoh pada anak untuk mengucap salam bila bertemu teman, saudara dan orang lain ketika berpapasan di jalan. Berjabat tangan, menanyakan kabar.Selain itu didik anak kita untuk menjaga norma-norma Agama sesuai yang Syariat anjurkan.

Kita sudah melihat Musa anak termuda yang memenangkan lomba Tahfiz Quran Internasional di Mesir dengan meraih juara 3 dari seluruh dunia, tidak ada yang tak banga dengan kepintarannya hingga digelar “Anak Ajaib”.Ya itu semua adalah atas didikan keluarga, terutama Ibu dan Ayahnya dalam mentarbiyahkan Musa dari mulai dalam kandungan hingga mampu seperti yang kita kenal saat ini.

6. Beranjaknya usia anak hingga anak mencapai batas usia remaja yaitu pada usia 17 tahun keatas, tugas kita sebagai orang tua adalah menjadikan anak sebagai seorang teman, menjadi tempat berbagi ketika anak ingin curhat, menceritakan pengalaman yang ia rasakan namun tidak menghilangkan rasa hormat anak pada orang tua. Karena diusia 17 tahun keatas anak sudah mampu untuk menentukan dan memilih apa tujuannya kedepannya, apa yang ia inginkan. Sebagai orang tua harus tetap mensuport langkah pilihan yang anak ambil dengan tidak melampaui batas rambu-rambu Agama dan Syariat ajarkan.

Penutup, dengan adanyanya sedikit gambaran untuk orang tua atau calon orang tua yang nantinya ingin menjadikan rumah sebagai tarbiyah, sekolah bagi anak-anak yuukmari kita berikan pada anak kita dengan didikan yang sama-sama kita harapkan. Karena hanya kita yang bisa menciptakan kenyamanan untuk anak dan keluarga.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan kita semua, serta tak lupa penulis ingin meminta maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam pelafalan huruf dan tulisan, ada kesamaan nama dalam contoh itu semata untuk memberi kemudahan bagi para pembaca agar mudah dan dapat dicerna.

Akhir dari tulisan ini izinkan penulis mengucapkan rasa syukur atas diberikan kesempatan untuk berbagi sedikit deskripsi dalam menyampaikan Opini “Peran Penting Orang tua dalamMendidik Anak”hanya ini yang dapat penulis sampaikan akhir tulisan.Wassalam.

 

Penulis sedang kuliah di Mesir
#Kritik dan saranmelalui :

– Fb: Yuliana Ja’far
– Email : [email protected]
– Atau pada Kolom komentar dibawah 

Terima kasih telah membaca Inilahjambi.com. Berikan informasi ini sebagai inspirasi dan insight ke sesama.
SOROTAN