Mon. Nov 18th, 2019

Sssttt, Lurah Cantik Rena Da Frina yang Hebohkan Dunia Maya ini Ternyata dari Jambi

Inilahjambi – Lurah cantik Rena Da Frina (37) ramai dibicarakan. Boleh jadi karena Lurah Sempur, Kota Bogor, ini berbeda. Muda, cantik, dan punya hobi blusukan.

Tapi tahukah, Rena yang dilantik 3 bulan lalu oleh Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto itu ternyata kelahiran Jambi.

Detik.com, Jumat 20 Januari 2017 menuliskan, Lurah Sempur, Rena Da Frina ini kelahiran Jambi. Sayangnya belum didapatkan informasi lanjutan tentang Rena dan domisilinya di Jambi saat dilahirkan.

Dari penelurusuran inilahjambi, ditemukan fakta bahwa Rena pernah sekolah lanjutan (SMA) di Riau dan meneruskan kuliah di Universitas Riau.

Baca juga: Perkara Dihentikan Bawaslu, Anies Baswedan: Alhamdulillah

Ibu 2 anak menjadi terkenal karena suka blusukan ke kampung-kampung. Tiap hari kegiatan itu dia lakukan dengan tujuan mendekatkan diri ke masyarakat dan mendengar masalah di lapangan.

“Seperti kemarin pas ketemu warga, ada informasi sumur tidak ditutup. Saya datangi, ternyata tempatnya ada di semak-semak. Dan benar, sumur itu terbuka dan masih ada airnya. Itu berbahaya. Kalau ada yang tidak sengaja lewat situ bisa kecebur. Makanya saya minta ditutup atau diberi pembatas,” kata Rena dilansir detikcom.

Sempur termasuk daerah ring satu di Kota Bogor. Letaknya di pusat kota, dekat dengan Istana Bogor. Tentu saja, kelurahan ini menjadi perhatian.

Kondisi itu membuat Rena merasa harus ‘menyatu’ dengan wilayah yang dipimpinnya. Makanya, dia sering blusukan sehingga lebih cepat mengenali wilayah. Ujungnya, dia juga dikenali oleh semua warga.

“Alhamdulillah semua (warga) menerima saya dengan baik,” ungkap Rena.

Wajah cantik, diakui Rena, menjadi nilai positif baginya. Kecantikannya itu dijadikan modal awal agar bisa lebih mudah diterima oleh warga saat blusukan. “Saya tidak memungkiri. Itu sangat membantu untuk dekat dengan warga, bisa menyampaikan program, mendengarkan keluhan,” katanya.

Meski demikian, kecantikan bukan hal utama. Apalagi terkait dengan tugas-tugas yang membutuhkan ketegasan. Penataan PKL, misalnya.

“Tidak perlu takut. Kalau harus dipindahkan ya dipindahkan, jangan lembek,” kata Rena menceritakan upayanya menata PKL di sekitar Lapangan Sempur.

Saat ini, Rena tengah berjuang mengubah kebiasaan warga buang hajat ke aliran Sungai Ciliwung, yang membentang di sepanjang Kelurahan Sempur. Kali ini, dia tak perlu ‘garang’ seperti menata PKL.

“Program seribu septic tank, misalnya. Yang kayak begitu kan kita tidak bisa memaksa mereka. Perlu pendekatan berbeda, harus persuasif. Jadi tidak terlalu kakulah,” sambung wanita kelahiran Jambi ini.

Rena mengaku akan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Bisa dengan ngantor, bisa juga dengan blusukan. Tujuannya cuma satu: agar wilayah yang dipimpinnya kian maju. Soal popularitas, ia menganggap itu hanya ‘bonus’.

 

(Olivia Admira)

Sudah dibagikan