Tiga Dimensi Kesempurnaan Puasa
Inilahjambi – Bulan ramadan adalah bulan suci penuh berkah. Saat berjumpa dengan bulan ramadan yang juga merupakan bulan penuh ampunan ini, kita seluruh umat muslim diwajibkan untuk berpuasa. Puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Akan tetapi juga menahan hawa nafsu.
Melalui puasa, kita akan merasakan banyak kenikmatan yang mungkin di bulan-bulan lainnya belum tentu kita dapatkan. Kita akan dapat menuju kebersamaan yang seiman, seperasaan dan sepenanggungan. Sehingga mendorong umat muslim untuk melakukan solidaritas jiwa, menciptakan kasih sayang terhadap sesama serta turut merasakan penderitaan yang dirasakan oleh saudara kita yang lemah atau kurang mampu.
Kegiatan yang dapat umat muslim lakukan misalnya memberikan sebagian harta mereka dalam bentuk makanan, infaq, atau pun sodaqoh. Selain itu, Allah juga memerintahkan bagi yang mampu untuk membayar zakat.
Dikutip dari buku Kesempurnaan Ibadah Ramadan karangan Abdul Manan bin Haji Muhammad Sobari, menjelaskan bahwa puasa itu mempunyai tiga dimensi.
1. Dimensi ritual
Puasa memiliki aturan (syarat, rukun) tertentu yang ditetapkan oleh syara’ yang harus dipenuhi.
2. Dimensi sosial
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus saja, namun harus menahan diri dari segala hal yang merusak di masyarakat. Oleh karena itu, puasa yang sempurna selain menahan diri dari makan, minum dan nafsu seksual tapi mesti juga menahan diri dari perbuatan keji, dan merusak sosial, menahan nafsu, menahan lidah dari perkataan yang dapat melukai hati dan perasaan orang lain.
3. Dimensi emosional
Seperti tersebut dalam hadist Nabi Muhammad SAW, bahwa pemuda yang sudah masanya menikah tapi belum mampu maka dianjurkan puasa. Hal ini berarti kaitannya dengan emosional.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para pemuda! siapa di antaramu sudah sanggup menanggung kewajiban maka hendaklah kawin dan siapa yang belum sanggup maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu menahan nafsu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam tingkatan sufi, orang yang berhasil puasanya tidak akan terikat dan tergantung oleh hal-hal yang bersifat bendawi. Islam membina kehidupan manusia yang diawali dengan tauhid. Dari tauhid tumbuh iman dan akidah yang kemudian membuahkan amal ibadah dan amal saleh.
(Sumber: merdeka.com)
