Negara Bagian Malaysia, Trengganu, Larang Perempuan Menari dan Menyanyi di Hadapan Pria  

Tengkuluk Khas Jambi

Tengkuluk/ist

Negara Bagian Malaysia, Terengganu, Larang Perempuan Menari dan Menyanyi di Hadapan Pria  

Baca juga:

Inilahjambi – Negara bagian Malaysia, Terengganu, akan segera menerapkan syariat Islam di negara tersebut. Perempuan tidak bisa tampil seenaknya dimuka umum.

Menurut anggota Komite Eksekutif Negara Bagian Terengganu, Ariffin Deraman, wanita tidak akan diizinkan tampil di depan para penonton pria.

Ariffin yang juga ketua komite Pariwisata, Kebudayaan, dan Teknologi Informasi, mengatakan teknis hukum untuk kebijakan ini sedang dikerjakan.

“Kami seharusnya menerapkan aturan ini pada Januari. Tetapi harus menunda sementara,” katanya.

Berikut 11 pedoman yang segera diterapkaan di Terengganu:

  • Pertunjukan panggung hanya bisa melibatkan penyanyi dan penari pria.
  • Pertunjukan untuk penyanyi dan penari wanita hanya dapat dilakukan untuk penonton wanita di tempat tertutup.
  • Pencampuran berlebihan antara pria dan wanita di atas panggung tidak diperbolehkan.
  • Hanya selama pertunjukan anak-anak, pria dan wanita diizinkan untuk memiliki pencampuran yang berlebihan.
  • Lagu tidak dapat berisi lirik yang berlebihan atau mengganggu.
  • Musik atau hiburan yang ditampilkan tidak dapat diiringi oleh instrumen musik berlebihan yang dapat memengaruhi anggota audiens untuk mengikuti irama.
  • Pertunjukan musik diperbolehkan setelah sholat Isya dan tidak bisa melewati tengah malam.
  • Pertunjukan siang hari tidak bisa melebihi waktu sholat.
  • Tidak ada pertunjukan yang diizinkan pada Kamis malam dan sampai setelah shalat Jumat berikutnya.
  • Waspadai perilaku dan tindakan Anda, dan pastikan pakaian Anda rapi dan menutupi kerendahan hati Anda selama pertunjukan.
  • Penyelenggara harus memastikan anggota audiens pria dan wanita yang tidak bisa menikah satu sama lain tidak saling berbaur.

Pedoman tersebut pertama kali diusulkan pada Oktober 2018.

Ketua Nasional Wanita Malaysia Chinese Association (MCA) Heng Seai Kie, dalam siaran persnya pada 20 Februari 2020, menyatakan, pedoman 11 poin itu membahayakan citra Malaysia.

“Keputusan yang diambil oleh pemerintah negara bagian Terengganu untuk memaksakan pemisahan gender pada penyelenggara acara sangat disesalkan, karena arahan ‘ekstrem’ dan diskriminatif seperti itu pasti akan melukiskan citra buruk bangsa kita dan membahayakan ekonomi,” tulis Heng.

“Kita harus selalu menjunjung tinggi moderat dan menghormati hak asasi manusia.” kata dia lagi.

 

Sumber: sea.mashable.com

INFORIAL