Tradisi Rampi-Rampo, Ajang Cari Jodoh Cara Orang Bungo

Inilah Jambi

Inilah Jambi

Bagikan:

Tradisi Rampi-Rampo, Ajang Cari Jodoh Cara Orang Bungo


Inilah Jambi  – Kesenian tradisional Rampi Rampo dari Kabupaten Bungo ternyata cukup populer di kalangan anak-anak muda di daerah tersebut.

Kesenian yang dimainkan oleh banyak orang ini, bertujuan sebagai ajang pergaulan anak-anak muda, bahkan sering dikatakan sebagai ajang mencari jodoh.

“Jadi kesenian tradisi ini masih dikenal luas di Bungo, sebab memang ditujukan bagi pergaulan muda-mudi, sehingga para pelakunya sampai hari ini masih banyak yang usia muda dari generasi hari ini,” kata pelaku Rampi Rampo, saat tampil di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Selasa 2 Desember 2015, dalam Pergelaran Tradisi Lisan 2015.

Baca juga:

 

Dalam praktiknya, kesenian ini diperankan oleh dua orang, laki-laki dan perempuan yang berdendang sahut menyahut. Sementara para pendukungnya, memainkan alat-alat musik gesek, sejenis rebab.

Suara mendayu dari gesekan rebab disahut dengan lantunan suara penembangnya.

Berikut potret-potret kesenian Rampi Rampo di Kantor Bahasa Provinsi Jambi dalam Pergelaran Tradisi Lisan 2015:

 

Foto-foto berikutnya, dua penembang Rampi Rampo beradu kata dan lagu…

 

Tradisi Ketalang Petang dari Merangin


Inilah Jambi  – Pergelaran Tradisi Lisan 2015 di Kantor Bahasa Provinsi Jambi, Rabu malam 2 Desember 2015, menampilkan kesenian tradisi dari Kabupaten Merangin, yakni Ketalang Petang.

Ketalang Petang, adalah kesenian tradisi yang dimainkan sebagai penyemangat kerja pada esoknya hari saat turun ke ladang. Maka, Ketalang Petang, biasanya dimainkan pada sore hari hari hingga malam menjelang.

Baca juga:

Dalam perkembanganya, kesenian Ketalang Petang juga dimainkan sebagai acara hiburan saat ada pernikahan, sunatan atau acara lainnya.

Secara umum, kesenian ini dimainkan muda-mudi, namun saat ini tidak banyak lagi anak-anak muda kini yang tertarik dan menekuni kesenian ini.

***

Ngegah Imau, Ritual Magis Warga Kampung Tengah Kerinci Menghormati Harimau


Inilah Jambi  – Kata ‘Ngegah’ atau ‘menggagahi’ harimau dalam kesenian tradisi Ngegah Imau dari Kampung Tengah, Kerinci, bermakna penghormatan pada Harimau.

Ritual ini biasanya dipersembahkan saat ada harimau yang mati. Baik sebab dibunuh oleh pemburu atau karena hal lain. Dalam kondisi terbunuh oleh pemburu, jasad harimau biasanya tidak utuh. Ada bagian-bagian tubuh yang hilang; Kuku, taring, kulit, mata, kaki dan sebagainya.

“Dalam Ngegah Imau, kami akan mengganti bagian tubuh yang hilang itu, mata diganti dengan cermin, kuku diganti dengan keris, taring dganti dengan pedang, ekor diganti dengan tombak dan lainnya,” kata Oktora Karim, pawang dalam ritual magis Ngegah Imau, Senin malam 24 Oktober 2016, usai pergelaran seni tradisi lisan di Kantor Bahasa Provinsi Jambi.  Baca selengkapnya 

Bagikan:
SOROTAN