Sudahkah Malam Keagungan Melayu Menjawab Persoalan Kebudayaan di Jambi

M Ali Surakhman, Foto: Facebook

M Ali Surakhman, Foto: Facebook

Sudahkah Malam Keagungan Melayu Menjawab Persoalan Kebudayaan di Jambi?

Oleh Ali Surakhman,


MALAM Keagungan Melayu Jambi (MKMJ) yang direncanakan akan diadakan 6 Januari 2022 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jambi, yang merupakan agenda tahunan ini, awalnya diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jambi periode 2011-2014, awalnya beranjak dari pemikiran menuju pembanggunan “industri budaya”, walaupun ide ini menimbulkan pro dan kontra, terlepas dari itu semua ada niat dan keinginan dalam memulai proses pembanggunan kebudayaan di Jambi, seiring waktu MKMJ menjadi even prestige tahunan Pemprov Jambi.

Festival, kenduri, pergelaran budaya yang di dalamnya ada pergelaran seni, kalau dikemas dengan konsep yang matang, sangatlah penting dalam penguatan kapasitas pengetauhan dan menjadi alat dalam mengembalikan memori masyarakat akan buah budaya masa lalu mereka, sehingga memperkuat karakter dan kebanggaan akan budayanya sendiri, sehingga nantinya diharapkan membentuk iklim ekosistem masyarakat yang menghargai budayanya, sejarahnya, asal usulnya, tak menjadi “Kacang Lupa Kulitnya”.

Namun sebaliknya ia akan menjadi perahu bocor, hingga tenggelam, hanyut di bawa arus, kalau hanya di jadikan alat untuk pelaporan saja, syarat untuk pencairan dana saja, ibarat gula yang di perebutkan semut, maka itu mesti dengan konsep yang matang, bagaimana MKMJ bisa mengangkat marwah budaya melayu, dan sebagai instrument dalam proses pelestarian kebudayaan sebagai implementasi pembanggunan kebudayaan di Jambi sesuai amanat UU No..5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Ini menjadi tantangan gubernur provinsi Jambi Al Haris, yang akrab di sapa Wo Haris terhadap pembanggunan kebudayaan di Jambi, masyarakat mesti tahu komitmen beliau terhadap pembanggunan kebudayaan di Provinsi Jambi, dan alangkah eloknya pada MKMJ beliau tidak membaca kata sambutan formal, namun “Orasi Kebudayaan”, ini akan menjadi sejarah baru dalam periode pemerintahan daerah provinsi Jambi, bahwa pernah ada orasi kebudayaan, karena konsep pembanggunan sekarang tak sekedar fisik, fasilitas, namun juga membentuk karakter manusianya, dan ajang ini menjadi evaluasi beliau terhadap kinerja bawahannya terutama di institusi Pariwisata dan Kebudayaan, karena kita mesti belajar dari sejarah masa lalu, sebaik, sebagus apapun nakhoda sebuah kapal, namun tidak di dukung anak buah yang punya skill dan dapat menterjemahkan perintah nakhoda, akan membuat kapal itu menumbur karang, dan di gulung ombak besar.

Baca juga:

Wo Haris mesti bisa menjadikan dirinya Wo sebenar Wo, karena panggilan Wo di huluan adalah panggilan sakral, wo berasal dari kata, “Tuo”, “TaNuo”,”Tanuwa”, yang berarti tua dan di tua kan, ia bukan sekedar panggilan untuk anak paling tua, tapi tua dari segala hal, baik ilmu, pikiran, wawasan maupun pengetauhan, dalam posisinya wo Haris mesti bisa memandang “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” secara utuh, mulai dari “Telun Berasap sampai ke Ujung Jabung”, bukan huluan saja, namun hulu dan hilir, jangan lupa peradaban ada dan tercipta karena ada hulu dan hilir.

MKMJ mesti bisa menyajikan pergelaran yang berasal dari akar tradisi tanah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini, menghidupkan kembali buah budaya yang sekarat, mengumpulkan yang tercerai berai, mendekatkan yang jauh, membangkitkan batang terendam, karena ini tanggung jawab moral kepada generasi muda, tugas kita untuk mengenalkan kepada mereka tinggalan budaya leluhur, jangan sampai kecolongan, yang disajikan budaya yang tak jelas, sekedar pelepas hutang kerja saja dan syarat pemenuhan laporan keuangan saja.
Dalam proses pelestarian ini kita berpacu dengan waktu, karena para maestro maestro tradisi kita di dusun dusun rata rata sudah renta dan tua, jangan sampai pengetauhan mereka di bawa mati tanpa pewarisnya, dan menjadi cerita saja nantinya, diantaranya musik kelintang perunggu, suling bambu, gung bulueh, kerinong, tauh tuo Serampas, Asyeik Niti Mato Keris, dan banyak lagi, dan kedepannya ini bisa menjadi warisan budaya tak benda provinsi Jambi. Dan alangkah eloknya para maestro yang sudah tua dan renta, dibawa untuk menonton atau menunjukan kemampuan mereka di pentas MKMJ, sebagai wujud penghormatan dan penghargaan kita kepada totalitas mereka memelihara tradisi, karena kerja mereka bukan karena proyek, pesanan, ataupun mencari nama, namun murni totalitas sebagai pemilik tradisi.

Kalau sekedar yang ditampilkan fashion show, budaya milinial, berarti pembuat kebijakan di institusi kebudayaan di Jambi gagal faham, lebih baik MKMJ tak usah diadakan, dan dananya diarahkan ke kegiatan lain yang bermanfaat bagi orang banyak, budaya millinial sudah masanya, tak perlu diajarkan ia akan hidup dan berkembang dengan sendirinya karena ini adalah waktu dan masa generasinya.
Ibarat kata bait syair tua dalam Sumpah Karang Setio, pejabat di institusi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan UPTD nya mesti bisa,

“Pegang pakai dalam anak jantan anak betino
Seluko kata bulat mufakat
Dipapah berbimbing arak mengarak
Meniti sko tigo takah
Memakai undang dengan teliti
Suka menyuruh suka disuruh
Suka ngandang suka dikandang
Suka jadi suka pula dijadi
Jangan !!
Tiba di papan hendak berhentak
Tiba di duri hendak bersininjak

Diberi ingat diberi jaga kepada anak jantan
Sekira kita dilabuh orang gelar
Jangan dijadikan gelak dengan lagak
Terasa panjang hendak melilit
Terasa besar hendak melanda
Hendak berbuat sekehendak hati
Beraja di hati bersutan di mata
Berbenak ke empu kaki
Itu salah !!
Lahir kena hutang batin dimakan bisa kawi”

Kita harap MKMJ menjadi instrument penegak marwah “Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”, dan kita semua menjadi makhluk yang bermanfaat bagi semua orang, dan menjadi makhluk yang bisa berterima kasih pada nikmat nikmat yang di pinjamkan pemilik alam raya.

 

Penulis adalah Budayawan


 

Terima kasih telah membaca Inilahjambi.com. Cantumkan link berita ini bila Anda mengutip seluruh atau sebagian isi berita. Mari bersama menghargai karya jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

SOROTAN
error: OPPPS, MAU NGAPAIN? Konten ini dilindungi !!