4 Alasan Mengapa Telegram Adalah Aplikasi Chat yang Disukai Teroris

Inilahjambi – Telegram adalah aplikasi layanan internet yang kini tengah diperbincangkan oleh publik. Hal ini terjadi lantaran aplikasi layanan internet yang satu ini banyak digunakan oleh teroris untuk menjalankan aksinya melalui chat. Berikut beberapa alasan mengapa aplikasi telegram disukai oleh teroris.

1. Telegram adalah aplikasi yang dijamin super aman

Pavel Durov, founder dan CEO Telegram, menyebut bahwa Telegram adalah aplikasi messaging yang aman. Dilindungi enkripsi, Telegram membuat berbagai informasi yang dibagi secara privat akan selalu bersifat privasi. Telegram sendiri dengan tegas menolak untuk memberi ‘pintu belakang’ akses informasi untuk agen intelejen dari para pengguna Telegram. Padahal di bulan April lalu, pada kasus penyerangan di St. Petersburg, Rusia, para pelaku terbukti menggunakan Telegram.

Durov sendiri menekankan bahwa Telegram tak akan membagi data rahasia pengguna dengan siapapun. Hal ini karena privasi benar-benar hal yang diunggulkan dan seakan-akan jadi ‘merek dagang’ Telegram.

Dengan ‘menjual’ privasi, Telegram memimpin di antara aplikasi yang menawarkan fitur serupa. Dilansir dari TechCrunch dalam merdeka.com, ada 100 juta pengguna aktif hingga 2016.

Fitur yang diunggulkan dari Telegram soal privasinya adalah ‘end-to-end encryption yang membuat siapapun tak akan bisa mengakses sebuah pesan kecuali pengirim dan penerima, secret chatroom, serta destructing messages.

Seorang pakar anti-teroris dari George Mason University, Ahmet S. Yayla, menyebut bahwa Telegram punya reputasi yang baik soal privasi, karena terkenal tak bisa didekripsi. Hal ini menarik bagi ISIS, karena menurut Ahmet, “Teroris menyukai gagasan soal privasi” dalam konteks penyebaran propaganda.

2. Fitur kanal dan chat rahasia ada di satu platform

Para pengguna Telegram dapat berkomunikasi dalam berabgai bentuk: mulai dari private messages, secret chat, group, serta channel. Channel, atau kanal, adalah fitur di Telegram yang terbuka untuk publik. Sementara secret chat akan sangat terlindungi privasinya, karena diproteksi oleh enkripsi yang canggih.

Menurut Jade Parker, periset di grup riset TAPSTRI yang khusus mengamati penggunaan internet oleh teroris, kombinasi berbagai fitur Telegram ini membuat ISIS menyukainya. Telegram digunakan ISIS sebagai media “kontrol dan komando”.

“Mereka memulainya (propaganda) di Telegram, lalu dibagi ke berbagai platform. Jadi, informasi dimulai di aplikasi (Telegram) lalu disebar ke Twitter dan acebook,” ungkap Parker.

Kembali ke fitur Telegram yang disukai teroris, Parker menyebut bahwa fitur yang paling disukai adalah secret chat. Secret chat adalah fitur yang diproteksi oleh end-to-end encryption. Cara kerjanya adalah setiap pengguna diberi kunci digital yang unik saat mereka berkirim pesan. Untuk mengakses pesan tersebut, penerima harus memiliki kunci yang sesuai dengan pengirimnya secara tepat. Jadi akan mustahil pesan ini akan diakses siapapun, bahkan polisi dan intelejen.

Polisi dan intelejen mungkin bisa mengidentifikasi siapa berbicara dengan siapa di pesan tersebut. Namun mereka sama sekali tak memiliki cara untuk tahu apa yang dibicarakan satu sama lain. Bahkan, Telegram sendiri tak tahu apa yang ada dalam pesan ini. Kontrol informasi benar-benar dari pengguna.

Aplikasi lain seperti WhatsApp dan Viber memiliki fitur serupa, namun Telegram jauh lebih istimewa. Ada fungsi di Telegram berupa self-destruct timer. Hal ini berupa opsi sebelum mengirim pesan, pengirim bisa memilih untuk melakukan penghitungan waktu mundur untuk secara otomatis menghapus pesan. Jika ini dipilih, beberapa waktu setelah pesan dibaca, pesan akan secara otomatis dan permanen hilang dari dua perangkat.

3. Pembuatan akun yang mudah

Dibanding beberapa platform media sosial lain, membuat akun di Telegram adalah salah satu yang paling mudah. Pengguna hanya perlu membuat akun hanya dengan nomor ponsel. Dari nomor tersebut, kode akses akan dikirim oleh Telegram. Masalahnya, menurut Yayla dan Parker, sudah jadi praktik umum oleh teroris untuk memasok nomor ponsel yang digunakan untuk kode akses Telegram, lalu menggunakan nomor lain. Nomor kode akses ini akan dibuang. Hal ini bertentangan dengan apa yang dilakukan sebagian besar pengguna aplikasi chat.

Selain soal kemudahan, para teroris tak akan ‘diusir’ dari Telegram. Menurut Todd Helmus, pakar terorisme dan media sosial dari RAND Corporation, dulu teroris tidak menggunakan Telegram, namun Twitter. Twitter sendiri, bersama banyak platform seperti Facebook, Instagram, dan YouTube, akhirnya memerangi terorisme dengan menghapus banyak sekali akun radikal dan teroris. Di blog resminya, Twitter menyebut kalau mereka telah menghapus 360.000 akun terkait teroris di tahun 2016.

Di sisi lain, Telegram yang menjunjung privasi tak akan ketahuan kalau aplikasinya digunakan untuk penyebaran propaganda terorisme, selama hal tersebut dilakukan melalui private messages dan juga secret chat. Meski demikian, ada 78 kanal publik Telegram yang dihapus, karena terkait dengan serangan Paris 2015 lalu.

4. Bisa kirim file dalam jumlah besar

Selain sebagai alat komunikasi teroris, Telegram dianggap aplikasi yang paling mumpuni dan memiliki kemampuan lebih dibandingkan media sosial lainnya.

“Dengan menggunakan web itu, teroris punya kemampuan lebih. Bisa melakukan transfer file sebesar 1,5 GB itu hanya melalui web. Di situlah mereka bertransfer informasi,” kata Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo Semuel A Pangerapan di Kantor Kemkominfo di Jakarta, Senin 17 Juli.

Semmy menyebut bahwa dari penemuan timnya para teroris ini juga menggunakan web base untuk berkomunikasi. Alasannya karena manfaatnya lebih terasa. Pemblokiran aplikasi Telegram tersebut kata dia sebagai peringatan keras kepada siapapun yang ternyata memanfaatkan media sosial untuk hal-hal negatif.

“Ini juga sebagai peringatan keras karena kita tahu bahwa masyarakat ternyata memanfaatkan untuk yang lainnya (negatif). Makanya kita menegaskan sekali agar mereka berkoordinasi dengan kita untuk masalah yang berbahaya ini,” kata dia.

Meski begitu Semmy menjelaskan pihaknya tak bermaksud melakukan pemantauan kepada masyarakat. Sebab pemantauan tersebut hanya dilakukan kepada pihak-pihak yang diduga akan memantau keamanan negara.

“Kami tidak ingin memantau masyarakat, kami hanya ingin memantau pihak yang berniat merusak tatanan dan keamanan negara ini, karena kita ingin menegakkan kedaulatan,” ujar dia.

 

 

(Sumber: merdeka.com)

 

Terima kasih telah membaca Inilahjambi.com. Cantumkan link berita ini bila Anda mengutip seluruh atau sebagian isi berita. Laporkan keluhan dan apresisasi Anda terkait konten kami ke email:inilahjambi@gmail.com

Tinggalkan Balasan

SOROTAN