Metodologi Survei ADRC yang Menangkan Fasha dalam Kuesioner Pilgub Jambi “Cacat Teknis”

 

Inilahjambi – Metodologi yang digunakan Lembaga Survei Aksara Data Research Center (ADRC) dalam mensurvei kandidat bakal calon gubernur Jambi, Kamis 30 Januari 2020, ternyata “cacat” secara teknis.

ADRC tidak memperoleh responden  secara merata di 11 kabupaten/kota di Jambi. Survei yang dilakukan secara online di media sosial Facebook ini mendapatkan responden terbanyak berasal dari Kota Jambi dengan persentase 23 persen.

BACA JUGA : Terungkap Siapa yang Biayai ADRC dan Mengapa Survei Fasha Tinggi Sebagai Kandidat Bacagub Jambi 2020.

Sementara responden di kabupaten/kota lainnya hanya 9 persen ke bawah. Bahkan responden Kota Sungaipenuh hanya 2 persen.

Jumlah responden yang berasal dari kota/kabupaten ini tentu saja mempengaruhi hasil survei. Sebab basis massa masing-masing kandidat bakal calon gubernur pastilah di wilayah kekuasaan mereka masing-masing.

Kepala daerah tentu saja lebih popoler dibanding kandidat lain yang bukan kepala daerah.

Walikota Jambi tentu saja lebih populer di kota itu, ketimbang Walikota Sungaipenuh. Begitu juga sebaliknya. Terlebih jumlah responden yang disurvei dominan berdomisili di Kota Jambi.

Menurut Ketua Yayasan ADRC David Hadiosman, sebaran responden tidak merata karena pihaknya tidak mendapatkan responden secara merata dari masing-masing kabupaten/kota.

Sementara pihaknya kekurangan relawan untuk menjaring responden agar jumlahnya merata.

Lihat juga: Ini Survei ADRC Soal Popularitas dan Elektabilitas 6 Kandidat Bacagub Jambi 2020, Siapa Saja?

Kendala teknis lainnya yang menjadi alasan adalah sinyal internet juga tidak merata. Alhasil, responden yang terjaring survei lebih dominan di Kota Jambi.

“Ini karena beberapa faktor. Bisa jadi selebaran dan informasinya tidak tersampaikan ke sana, juga terkendala sinyal,” kata David di sekretariat ADRC, Kamis 30 Januari 2020 malam kepada wartawan Jambiseru.com media partner inilahjambi.com.

Hal senada juga dipaparkan programer survei ADRC, Jerry, kepada inilahjambi sebelumnya.

Jerry menjelaskan, di Kota Jambi ini relawan ADRC (untuk menjaring responden) ada 10 orang dan di Muarojambi 4 orang. Mereka terdiri dari mahasiswa. Sedangkan untuk kabupaten/kota lain pihaknya hanya mengandalkan media sosial (medsos), seperti, Facebook, Whatsapp dan Instagram.

Lihat: 3 Bulan Sosialisasi, CE Masih Belum Yakin Diusung Partai Golkar dalam Pilgub Jambi

Dikatakan Jerry, pihaknya melacak keberadaan responden hanya berdasarkan alamat internet protocol (IP) dan IMEI gadget. Mereka tidak mengetahui identitas responden secara langsung, termasuk nomor ponsel yang bersangkutan.

“Jadi aplikasi kami tidak membaca NIK dan nomor handphone. Melainkan, akan membaca IP dan IMEI gadget masing-masing responden. Akan terbaca dari aplikasi kami jika ada yang mengisinya berkali-kali dan itu lah yang menjadi tidak sah,” lanjut Jery.

Dikatakan dia, ada sekitar 317 responden dari 3.593 responden yang tidak sah, karena ketahuan mengisi kuesioner secara ganda. Sehingga suara sah menurut ADRC dalam survei itu hanya 3.376 responden.

“Dari 3.593 responden, yang sah hanya 3.376 responden. Berarti ada 317 orang yang mengisi ganda. Itu terbaca oleh sistem kami,” ujar Jery.

Tidak disebutkan mengapa hasil survei yang tidak sempurna ini tetap dipublikasikan. Namun dalam rilis ADRC siang tadi disebutkan bahwa rilis hasil survei  Popularitas dan Elektabilitas Kandidat Bakal Calon Gubernur Jambi Tahun 2020 ini, sesuai janji mereka sendiri saat launching Lembaga Survei ADRC tanggal 14 Desember 2019 lalu.

“Tim Peneliti ADRC telah menyelesaikan survei pertama ini dan disampaikan hasilnya hari ini,” kata David.

Untuk diketahui, survei via online seperti ini bisa juga dilakukan di media sosial seperti Facebook dan website.

Bahkan pemilik akun Facebook, masing-masing bisa membuat polling (jajak pendapat) atau sejenis survei sendiri tanpa dipungut bayaran dan tak butuh relawan.

Bagi yang bertanya bagaimana cara membuat polling (jajak pendapat) polling di Facebook? Silakan klik tutorialnya di tautan ini.

Kata pengamat

Pengamat politik yang juga dosen pascasarjana UIN Sultan Thaha Jambi, DR Dedek Kusnadi, menyarankan agar para kandidat memandang jernih hasil survei yang dirilis lembaga manapun.

Menurut dia, hasil survey itu sah-sah saja. Sebab setiap lembaga atau personal tentu memiliki metodologi dan riset yang dapat di pertanggungjawabkan.

“Bagi kandidat yang lain (kandidat yang hasil surveinya rendah, red),  anggap saja sebagai cermin untuk berkerja dan bersosialisasi lebih giat lagi guna meningkatkan ektabilitas calon masing-masing. Jangan ditanggapi dengan negatif,” ujarnya kepada wartawan inilahjambi, Rahmat Hidayat.

Kalau pun dibayar, tentu peneliti juga tidak sembarangan merilis.  Mereka juga punya integritas yang dapat mereka uraikan secara ilmiah, pungkas Dedek.

 

Editor: Nurul Fahmy

INFORIAL