Tamjid Wijaya, Maestro Penjaga Tradisi Lagu-Lagu Daerah Jambi
Tamjid Wijaya merupakan seniman musik; komposer, produser, pemerhati, kolektor sekaligus apresiator yang paling banyak menciptakan sekaligus mendokumentasikan lagu-lagu daerah Jambi sepanjang karir bermusiknya di tanah ini.
Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 9 April 1945. Dalam usia mudanya, Tamjid Wijaya sudah belajar dan bermain musik di tanah kelahirannya. Bakat dan kemampuan kreatifnya dalam bidang ini, diturunkan dari pamannya yang bernama Iskandar. Beliau ini dikenal juga sebagai seniman ternama di zamannya.
Saat usia remaja, sekira awal tahun 1960, Tamjid Wijaya hijrah ke Jambi mengikuti kedua orang tuanya. Di daerah inilah dia menamatkan sekolahnya hingga tingkat menengah atas.
Junaidi T Noor, sesepuh yang banyak tahu tentang Jambi, mengatakan, keseriusan Tamjid Wijaya menggali dan mendalami lagu-lagu daerah itu tampaknya dimulai setelah dia terlibat dalam sebuah penelitian bersama Taralamsyah Saragih pada tahun 1972 hingga 1978.
Hasil kerja mereka saat itu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul, “Ensiklopedi Musik dan Tari Jambi”.
Perhatiannya yang mendalam terhadap pendokumentasian lagu dan musik daerah Jambi juga termaktub dalam buku-buku yang disusunnya sendiri, yakni “Kumpulan Lagu Daerah Jambi”, pada tahun 1994 dan 1998 serta ratusan lagu-lagu yang terekam dalam puluhan keping CD.
Bukan saja menuliskan, dia juga menotasikan ratusan lagu daerah Jambi yang kadang tidak dikenal siapa pencipta awalnya. Ia mencari akar, cengkok dan langgam lagu daerah Jambi jauh sampai ke daerah-daerah yang diucapkan oleh penutur atau penyanyi asli lagu-lagu tradisional Jambi.
Sudah macam-macam penghargaan dari berbagai lomba menyanyi dan mencipta lagu yang dia raih sepanjang hidupnya. Sehingga, panitia dan penyelenggara berbagai lomba karya cipta lagu “melarang” dia untuk ikut dalam setiap kegiatan di Jambi. Namun sebaliknya, pihak penyelenggara justru mengajak dia untuk terlibat sebagai konseptor dan atau sebagai juri.
Jafar Rassuh, seniman perupa sekaligus mantan Kepala Taman Budaya Jambi, mengatakan, dekade 90-an, Tamjid Wijaya mendirikan studio rekaman. Tempat itu sampai kini dikenal dengan Studio Gomes.
Menurut Jaffar, pendirian Studio Gomes oleh Tamjid Wijaya dilakukan untuk melakukan eksperimen pemurnian lagu-lagu daerah Jambi dari serangan dan kontaminasi lagu Melayu dengan cengkok dangdut.
“Pada tahun 1990-an, lagu-lagu daerah Jambi sedang berada diambang keterpurukan. Lagu Jambi tidak sepopuler lagu-lagu daerah lain, seperti lagu Minang, Melayu Riau, dangdut dan sebagainya. Bahkan dalam suatu periode, saat lagu dangdut sedang booming di Indonesia, lagu-lagu daerah Jambi juga terbawa-bawa ke arah itu,” kata Jaffar.
Dalam pendengaran Haji Tamjid, ucap Jaffar lagi, lagu daerah Jambi yang dibawakan dengan nuansa dangdut sangat tidak berkesesuaian dengan semangat dan karakter daerah ini yang sejatinya memiliki warnanya sendiri.
“Dia (Tamjid Wijaya) marah dan kesal dengan kondisi ini, apalagi lagu-lagu tersebut digubah dan diaransemen oleh orang-orang yang tidak memahami eksotika musik daerah Jambi,” ujar Jaffar.
Akhirnya pada tahun 1994, dia mendirikan studio musik. Tekad dia mendirikan studio itu bukan untuk mencari uang, tapi sebagai wadah “pemurnian” lagu-lagu daerah Jambi ke telinga para pendengarnya.
Dia berupaya meletakan dasar lagu daerah Jambi ke “roh” yang sebenarnya. Dan mengupayakan agar lagu-lagu daerah Jambi mendapat tempat dalam masyarakat.
Dia juga acap mengundang teman-teman seniman tradisi dari pelosok Jambi untuk merekam lagu-lagu asli itu. Dia bahkan rela tidak dibayar untuk itu.
Bagi Tamjid, papar Jaffar, susah hatinya jika mendengar lagu-lagu daerah Jambi direkam oleh daerah lain. Sebab dalam pendengaran dia, ada “rasa” yang hilang dari lagu-lagu itu setelah direkam oleh orang atau pihak yang tidak memahami rasa dan nuansa daerah Jambi secara langsung.
Awal Januari 1993 Tamjid Wijaya dari Studio Gomes mengeluarkan album lagu daerah Jambi yang pertama dengan judul album “Samo Sekato”. Judul album diambilnya dari lagu daerah yang menjadi pemenang pertama saat mengikuti lomba BKKNI tahun 1983 lalu.
Suwendri, pengamat musik alumnus ISI Padang Panjang yang berdomisili di Jambi, mengatakan, Tamjid memang teguh dalam pendiriannya mempertahankan komposisi dasar musik Melayu Jambi.
Tamjid terkesan terlalu manut pada pakem tradisi, sehingga nada-nada dasarnya tidak pernah berubah atau berkembang. Tapi itulah yang dijaganya. Dia sengaja tidak mau menerabas pakem lagu-lagu itu untuk menjaga kekhasan nada-nada dasar lagu-lagu Jambi.
Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, kata Suwendri, Tamjid sangat mungkin mengembangkan lagu-lagu Jambi menjadi lebih berwarna. Tapi itu tidak dilakukannya.
Meski bersikukuh mempertahankan dan menjaga tradisi, namun Tamjid tidak hendak memaksakan kehendak itu kepada orang lain, termasuk kepada anak-anaknya.
Dia ajarkan hal-hal yang mendasar dari lagu-lagu Jambi, dan dia biarkan orang lain mengembangkannya. Bagi dia, pengetahuan dasar sangat penting. Sebab jika tidak, maka lagu dan nada asli Melayu Jambi telah melenceng kemana-mana.
Upaya menjaga kemurnian tradisi lagu-lagu daerah Jambi juga dilakukan Tamjid Wijaya melalui proses legalisasi di hadapan hukum. Dia mendaftarkan hak cipta sejumlah lagu-lagu Jambi, agar hak kekayaan intelektual seniman ini dapat dijamin.
Dia sadar betul, karya sebagai pengejawantahan rasa dan jiwa harus dihargai, diapreasiasi, salah satunya dengan memberikan hak yang layak untuk dicatatkan sebagai karya intelektual.
Dia juga menotasikan pukulan-pukulan kulintang (alat musik tradisional Jambi yang berkembang di daerah Jambi) dan menyajikannya dalam seminar internasional di Malaka sekitar tahun 2001.
Pada pagi tanggal 29 Juli 2010 lalu, Tamjid Wijaya yang sudah tiga bulan lebih terbaring di ranjangnya harus menyerah oleh serangan tumor nasofaring yang menyerang rongga tenggorokkannya. Dia wafat dalam usia 65 tahun 3 bulan 20 hari dengan meninggalkan begitu banyak karya.
Setumpuk karya yang akan berguna bagi perkembangan kebudayaan dan generasi setelahnya. Dan yang pasti, karya-karya itu akan sangat berguna bagi dirinya di alam sana; sebagai ladang amal yang tak putus-putus bagi dia.
Atas dedikasinya dalam menjaga lagu-lagu daerah Jambi, Dewan Kesenian Jambi memberikan penghargaan kepada Tamjid Wijaya berupa “Gong Utamo”, yang diserahkan pada acara “Malam Budaya Keagungan Melayu Jambi”, 7 Januari 2013 lalu.
(Nurul Fahmy)
Baca juga:
- Ingin Jadikan Musik Tradisi sebagai Sajian Rutin, Gentaranish adakan ‘Moment to Ethnic
- Kantor Bahasa Jambi Kembali Selenggarakan Festival Musikalisasi Puisi 2016
- Brimob Pamenang Tunjukkan Kemampuan Atraksi Musik dan Seni Tari Getongan
