Wafat di Padang, Warga Kerinci Dimakamkan dengan Prosedur Covid 19 di Sebukar

Wafat di Padang, Warga Kerinci Dimakamkan dengan Prosedur Covid 19 di Sebukar

Baca juga:

 

Inilah Jambi – Satu warga Sebukar, Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, pada Sabtu malam 25 April 2020 dikuburkan menggunakan protap pemakaman sesuai SOP penanganan Covid-19 oleh pihak tim medis dan kepolisian.

Informasi diperoleh, warga tersebut meninggal di Rumah Sakit M Djamil Padang, Sumatera Barat. Ia meninggal pada Sabtu pagi 25 April 2020, karena menderita penyakit epilepsi (ayan) sejak kecil.

“Memang almarhum ini kena penyakit sudah lama yaitu penyakit ayan sejak kecil. Lalu keluarga memilih untuk berobat ke Rumah Sakit Semen Padang untuk penyembuhan. Lantaran disuruh pulang oleh pihak Rumah Sakit Semen Padang untuk kembali pada hari Selasa mendatang, maka pihak keluarga memilih untuk tinggal di Padang dulu,” kata salah seorang warga setempat, saat dihubungi wartawan.

Namun, pada Jumat malam 24 April 2020, penyakit yang bersangkutan kambuh. Pihak keluarga membawanya ke RS M Djamil.

“Karena wabah Covid-19 ini almarhum ditangani layaknya pasien Covid-19,” katanya.

Kepala Desa Sebukar Syukron membenarkan, ada warganya yang meninggal di RSUD M Djamil Padang dikubur pada Sabtu malam.

” Iya memang ada warga yang dimakamkan dengan standar Covid malam tadi,” ujarnya, saat dihubungi Inilahjambi, Minggu dini hari 26 April 2020.

 

(Idp)

 

Kisah Pilu Nenek Yusnidar di Kerinci Menderita Hernia Puluhan Tahun

Baca juga:

Inilah Jambi – Kisah pilu datang dari seorang nenek, Yusnidar (60) warga Desa Plak Naneh, Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci.

Yusnidar menderita hernia sejak puluhan tahun. Karena sudah sangat parah, ada dua benjolan di selangkangan pahanya semakin hari semakin membesar.

Ia kini hidup bersama seorang cucu, berharap akan adanya bantuan dari dermawan untuk biaya operasi.

“Saya tidak punya biaya untuk berobat, apalagi untuk biaya operasi. Kadang dimalam hari benjolan ini saya licitkan dengan botol berisi air panas, kalau tidak demikian tentu satu benjolan dari dua buah itu, naik ke perut saya,” ungkapnya, saat ditemui wartawan dikediamannya, Sabtu 25 April 2020.

Dikatakannya, harapan hampa dengan anak satu – satunya lelaki sudah tak mungkin lagi.

“Berharap ada bantuan untuk saya bisa dioperasi, sepertinya sangat sulit sekali. Anak saya saja cuma satu orang tega meninggalkan saya,” ujar Yusnidar sambil meneteskan air mata.

Kini Ia hanya bisa berharap agar mendapatkan perhatian dari pihak Pemerintahan Desa Pelak Naneh dan Pemkab Kerinci.

 

 

(Idp)

 

 

HOT NEWS