Obat ARV Langka, Ratusan ODHA di Jambi Cemas

Obat ARV Langka, Ratusan ODHA di Jambi Cemas

Baca juga:

Inilah Jambi – Stok obat Antiretroviral (ARV) bagi Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) secara nasional sejak Januari hingga Februari 2020 mengalami stock out atau kelangkaan.

Kondisi ini membuat ODHA di Jambi khawatir. Sebab obat tersebut harus dikonsumsi tiap hari. Kalau tidak, maka akan membahayakan nyawa ODHA.

Ketua Jaringan Positif Indonesia Jambi, Arafah, mengatakan, saat ini di Jambi terdapat 1.365 orang yang terpapar HIV, yang semuanya secara terapis medis memerlukan ARV.

“Dalam catatan kami ada 1.365 ODHA di Jambi. Itu yang tercatat saja berdasarkan temuan kami. Sementara yang rutin mengkonsumsi ARV ada sebanyak 680 orang,” kata dia, Jumat 6 Maret 2020 kepada Inilahjambi.

Menurut dia, Jambi sudah masuk daftar merah obat ARV. Artinya berpotensi langka. Kondisi ini membuat mereka khawatir.

“Kelangkaan obat ARV ini sudah jadi isu nasional. Sejumlah daerah termasuk Jambi sudah mulai merasakan dampaknya. Dan tentu saja kita berharap jangan sampai habis,” ujar lagi.

Arafah menegaskan, kasus langkanya obat ARV ini mencerminkan pemerintah belum sepenuhnya sampai kepada pencapaian dan tujuan program pencegahan dan pengendalian penyakit HIV – Aids.

“Karena permasalahan obat ARV dengan orang HIV adalah bagian dari pencegahan itu sendiri
,” ujar Arafah, yang juga pengurus Yayasan Kanti Sehati, Jambi ini.

Tuntutan 73 LSM Indonesia ke Menteri Kesehatan

Bersama 73 organisasi di Indonesia, mereka meminta Menteri Kesehatan agar sesegera mungkin mengambil langkah untuk menyelesaikan, mencegah dan memitigasi krisis kelangkaan obat ARV.

Dalam Kertas Posisi Gabungan 73 LSM di Indonesia mereka mendesak Menteri Kesahatan, agar sesegera mungkin menyediakan obat ARV secara memadai, khususnya di daerah yang mengalami stock out.

Mendesak Menteri Kesehatan melakukan pemantauan dan evaluasi menyeluruh terhadap skema pengadaan dan rantai pasok dari obat ARV.

Mengalokasikan pendanaan APBN yang memadai guna menanggung penyediaan terapi ARV yang berkualitas serta menyelenggaran proses pengadaan yang efisien.

Mereka juga mendesak pemerintah agar melakukan revisi Permenkes No. 4 tahun 2019 tentang standar tekhnis pemenuhan
SPM dengan mencantumkan elemen pengobatan dalam program HIV ke dalam SPM.

#OdhaButuhObat

 

(*/)

HOT NEWS